Menyikapi Kasus Setnov Dengan Akhlak Islam



Berniat membentengi umat Islam dari kekeliruan bersikap terhadap isu Setnov dan tiang listrik, Ustadz Farid Nu'man Hasan menyampaikan nasihat menyejukkan.





Dai muda lulusan jurusan Sastra Arab Universitas Indonesua ini mengapresiasi para ahli yang menyampaikan analisa sesuai dengan kelimuan yang mereka miliki.

"Ada yang membahasnya dengan ilmu, baik analisa hukum, politik, dan lain-lain."

Menurutnya, pihak pertama ini berada dalam jalur yang benar karena persoalan yang terjadi menimpa seorang pejabat publik dan masyarakat berhak mengetahuinya.

"Ini tidak apa-apa, sebab sudah menjadi konsumsi publik, baik Muslim dan non-Nuslim. Silakan menganalisa dengan pandangan dan bashirah-nya masing-masing." terangnya sebagaimana diunggah di akun facebook resmi dan channel telegram.

Selain itu, Ustadz Farid juga mengamati adanya kalangan yang hanya membully dengan berbagai media. Bullyan berupa gambar perkataan, dan cerita rekayasa lainnya yang dialamatkan kepada tersangka kasus korupsi e-ktp ini.

 "Ada yang membully-nya karena kesalahan yang dia lakukan. Baik membully dengan gambar-gambar, perkataan, cerita-cerita rekayasa, dan lucu-lucuan." lanjut Ustadz Farid.

Ia mengingatkan, perilaku seperti ini termasuk yang tidak dibolehkan. Jika berlebihan, pelakunya bisa termasuk dalam kelompok yang bangkrut.

"Ini yang tidak boleh. Ini bisa membuat pelakunya muflis (bangkrut) diakhirat. Kita tidak usah ikut-ikutan." terangnya santun.

Menurutnya, hal ini penting disampaikan mengingat status tersangka yang merupakan muallaf.



"Sebab, Setnov masih ada hak sebagai Muslim. Dia muallaf. Kaum kuffar pun memanfaatkan ini untuk membully-nya dan menyalahkan kemualafannya. " tegasnya.

Namun demikian, Ustadz Farid meminta kaum Muslimin menyerahkan proses ini kepada hukum agar adil dan tidak tebang pilih.

"Kekesalan kita kepada Setnov, mesti tetap jaga akhlak. Proses hukum tetap kita dukung dan jangan sampai tebang pilih." tuturnya.

Ia juga mendorong kaum Muslimin agar melanjutkan perjuangan dengan berlaku profesional agar bisa masuk ke dalam berbagai lembaga baik eksekutif maupun legislatif.

"Kalau boleh berangan-angan, saya membayangkan bahwa aktivis Islam yang bagus integritasnya (profesional, berani, dan berakhlak) menguasai (menjabat) di DPR, KPK, dan eksekutif." tegasnya.

Jika ini berhasil dilakukan, maka drama politik seperti ini tidak akan terjadi lagi di negeri mayoritas Muslim ini.

"Sehiggga yang seperti ini tidak terjadi." pungkasnya. [Mbah Pirman/Tarbawia]



Diberdayakan oleh Blogger.