Surga Yang Tak Dirindukan

Novel Surga yang Tak Dirindukan (Tarbawia)


Tak ada surga, kecuali dirindukan dan didambakan. Tak ada surga, kecuali ia diinginkan dan diharapkan. Tak ada surga yang tidak dirindukan. 





Pemilihan judul yang diputuskan Asma Nadia ini merupakan strategi jitu dan bentuk kecerdasannya dalam menerbitkan rasa penasaran para pembaca fanatiknya. Harus diakui, Asma merupakan penulis produktif yang kreatif sekaligus berani. Ia mampu mempertahankan keberanian dengan dalih yang benar. 

Surga yang tak dirindukan, adakah? 

Menikah, sebagaimana ungkapan banyak orang, tak ubahnya bermain peluang. Tiada yang mampu menjamin kebahagiaan bagi siapa pun yang memutuskan untuk menikah. 

Jika pun ada yang bahagia setelah akad, tak sedikit pula pasangan yang menderita setelah menikah. Saking pelik dan rumitnya, banyak pasangan yang memilih untuk mengakhiri kisah cintanya. Cinta harus diakhiri meski berat, kata mereka, daripada menderita luka. 

Jika satu istri dalam satu rumah tangga saja sudah memiliki sedemikian konflik yang rumit, bagaimana rumitnya kehidupan rumah tangga dengan dua, tiga, atau empat istri? 

Jika satu anak dari satu istri saja lumayan menguras tenaga dan kapasitas kepribadian yang mumpuni dari seorang suami dan ayah, kapasitas seperti apa yang harus dimiliki seorang suami dan ayah jika istrinya dua dan semuanya memiliki anak?

Menjalani hidup dalam poligami, seperti dikisahkan oleh Asma dalam novel Surga yang Tak Dirindukan ini, kadang merupakan bagian dari taqdir. Banyak kasus ‘ketidaksengajaan’ hingga seorang laki-laki ‘terjerumus’ dalam pernikahan dengan dua istri atau lebih. 

Seperti Pras. Sebagai suami romantis, setia, dan bertanggungjawab, ia tak berdaya hingga akhirnya menikahi Mei Rose yang penuh derita di sepanjang hidupnya. 

Apalagi, Pras dalam Surga Yang Tak Dirindukan merupakan lelaki yang anti poligami. Ia selalu mengelak bahkan membantah ketika teman-teman kantornya berkisah modus tentang poligami. Memang seperti dongeng. Poligami yang dijalani Pras seperti tak mungkin. 





Tapi, kisah-kisah seperti ini nyata adanya. Dan para istri harus menanggung duka di dalam jiwanya tatkala akhirnya mengetahui bahwa suaminya telah membangun surga, di rumah yang lain bersama wanita kedua, tanpa sepengetahuan ia yang telah menjadi istri pertama. 

Sebagaimana novel-novel Asma Nadia yang lain, Surga yang Tak Dirindukan dipenuhi berbagai konflik di dalam diri masing-masing dan antar tokoh. Konflik semakin kaya dengan adanya banyak kisah-kisah di sepanjang penceritaan yang tak jauh dari persoalan rumah tangga, terutama keluarga yang menjalani poligami. 

Penceritaan Asma bisa dibilang adil. Ia dengan tegas mengambil posisinya dan tak lupa mengutip pihak yang berseberangan. 

Hanya saja, ketika pembaca berasal dari kubu yang tak sepakat dengan salah satu perbuatan Nabi Muhammad ini, mereka memiliki kecenderungan menganggap bahwa poligami merupakan hal yang terlarang. 

Sebagai pembaca, saya berupaya membaca tanpa muatan. Apalagi secara pemahaman, saya dan istri merupakan pihak yang sepakat dengan poligami, meski ada beberapa kasus penyalahgunaan.

Kesalahan bukan terletak pada poligaminya, tetapi pada pelaku yang tak siap tetapi memaksakan diri untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan dua istri atau lebih. 

Namun yang penulis rasakan, setelah menikmati alur penceritaan dari awal hingga akhir, buku ini sebenarnya mengajarkan para suami agar semakin sayang dan romantis kepada istrinya. Apalagi istri yang dinikahi saat susah kemudian menemani di sepanjang perjalanan menuju mahligai sukses.





Kepada para wanita, buku ini hendak mengajarkan banyak hal. Mula-mula ialah soal kepasrahan kepada taqdir setelah usaha yang optimal. Bahwa sebagai manusia, para istri mustahil menjaga suaminya selama dua puluh empat jam. 

Para istri juga diajarkan untuk melakukan yang terbaik dalam melayani suaminya, apalagi suami-suami yang seharian mengalami banyak ujian di luar. Akan lahir begitu banyak masalah ketika suami melihat bening-bening di luar rumah, lalu menemukan sosok dekil dan bau saat berada di dalam rumah. 

Para istri benar-benar diajak untuk memahami, bahwa lelaki memiliki struktur perasaan dan biologis yang sangat bertolak belakang dengan wanita. Pertentangan-pertentangan itu, akan berdampak buruk jika tidak disikapi dengan bijak dan penuh cinta. 

Hal lain yang tak kalah menarik, pembaca diajak melihat satu fakta penting. Bahwa siapa pun lelaki yang menikahi istri kedua, ketiga, atau keempat, pasti ada unsur cinta dan ketertarikan fisik kepada wanita yang ia nikahi. Dan inilah yang membedakan para lelaki dengan para Nabi. 

Jika Nabi murni melakukan poligami sebagai bagian dari ibadah, para lelaki masa kini menikahi istri kedua, ketiga, dan keempat juga karena ketertarikan fisik. 

Ini nyata. Ini manusiawi. Dan tak perlu diperdebatkan selama halal dan memenuhi syarat dalam Islam.  [Mbah Pirman/Tarbawia]

Detail Buku
Judul : Surga Yang Tak Dirindukan 
Penulis : Asma Nadia 
Penerbit : AsmaNadia Publishing House (ANPH) 
Tebal : xii+308 halaman; 14x20,5 cm 
Tahun terbit : Cetakan XX, Juni 2017 
ISBN : 978-602-9055-21-4

*Pesan novel Surga Yang Tak Dirindukan di Toko Bahagia (085691479667-WA/Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.