Saat Bergaul dengan Sufi, Begini Pengakuan Imam Syafi'i

Bergaul dengan Sufi (ilustrasi)





Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah di dalam buku Kisah Hidup Ulama Rabbani menukil satu ungkapan dari Nashirus Sunnah, Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala. Penulis kitab Al-Umm ini berkisah tentang kebaikan-kebaikan yang didapat saat bergaul dengan para sufi. 




“Aku pernah bergaul dengan orang-orang sufi,” kata Imam Syafi’i, “dan aku tidak mengambil manfaat dari mereka, kecuali dalam dua hal.” 

Apakah dua hal yang diambil hikmahnya oleh Imam Syafi’i dari para sufi? 

Pentingnya Waktu Hal 

Pertama, yang diambil hikmahnya oleh Imam Syafi’i ialah terkait pentingnya pemanfaatan waktu bagi kaum Muslimin. Imam Syafi’i menyatakan, “Mereka (para sufi) mengatakan, ‘Waktu adalah pedang. Jika Anda tidak memotongnya, maka waktu yang akan memotong Anda.’” 

Para ulama mejelaskan, waktu merupakan salah satu nikmat yang utama. Banyak sekali ayat-ayat agung di dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang keutamaan waktu. Bahkan Allah Ta’ala berkali-kali bersumpah dengan waktu, baik waktu Dhuha, waktu Ashar, waktu malam dan siang, waktu fajar, dan lain sebagainya. 

Allah Ta’ala juga menegaskan, semua manusia merupakan kelompok yang merugi jika tidak memanfaatkan waktu. Orang-orang yang beruntung, seperti disebutkan di dalam Al-Qur’an, ialah mereka yang berhasil memanfaatkan waktu untuk beriman, melakukan amal shalih, saling menasihati dalam menetapi kebaikan dan kesabaran. 



Sibuk dalam Kebaikan 

Imam Syafi’i juga mengutip para sufi yang menyatakan, “Jika Anda tidak sibuk dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkanmu dalam keburukan.” 

Waktu itu netral. Kebaikan dan keburukan berlalu di sepanjang waktu. Dalam waktu yang sama, bahkan di tempat yang sama, seorang hamba bisa melakukan kebaikan dan orang lainnya sibuk dalam keburukan. 

Nasihat berharga ini juga menegaskan agar orang-orang beriman senantiasa menjaga waktu, supaya senantiasa melakukan amal kebaikan dalam kondisi apa pun. Sebab jika tidak sibuk dengan kebaikan, maka keburukan akan mengintai dan ia akan terjerumus ke dalamnya. 

Sebagai pengingat, kebaikan dan keburukan tak mungkin berada dalam satu jiwa seorang hamba. Siapa terbiasa melakukan kebaikan, maka keburukan akan menjauh darinya dan kebaikan-kebaikan lain akan antri di belakangnya. 

Sebaliknya, orang-orang yang bergelimang dalam keburukan dan dosa, maka kebaikan akan lari, menjauh, dan enggan mendekat. Selain itu, keburukan-keburukan lain akan mengintai dan siap menerkam hingga ia menjadi ahli dan pemimpin keburukan. Na’udzubillah. [Tarbawia/Mbah Pirman]



Diberdayakan oleh Blogger.