Usai Bertemu Habib Rizieq, Ustadz Somad juga Bertemu Gus Nur di Makkah

UAS bertemu Gus Nur (ilustrasi)


Pertemuan dai Nasional Ustadz Abdul Somad dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab di Makkah Al-Mukarramah pada Ahad (31/12/17) menjadi momen mengharukan sekaligus mempersatukan.





Tak hanya bertemu Habib Rizieq Syihab, Ustadz Somad juga bertemu dengan dai yang menjadi salah satu bintang dalam Reuni 212 di Monas Jakarta pada Sabtu (2/12/17) lalu.

"Pertemuan antara UAS dan Gus Nur." tulis Ustadz Derry Sulaiman melalui akun fesbuk resminya pada Ahad (31/12/17).

Dalam pertemuan tersebut, Ustadz Derry menyatakan, Ustadz Somad bukanlah berdakwah melainkan berlelah-lelah dalam dakwah. Dai yang menemukan keindahan Islam melalui Jamaah Tabligh ini juga berharap agar umat Islam bersatu.

"Semoga umat Islam sedunia bersatu. Bagi yang tidak mau bersatu, semoga Allah lembutkan hatinya untuk menerima persatuan." lanjut Ustadz Derry.

Di sebelah kiri Ustadz Derry, terlihat Gus Nur yang menjadi salah satu pembicara dalam Reuni 212 di Monas Jakarta. Dai asal Jawa Timur ini juga pernah mengalami kriminalisasi setelah berceramah di panggung Reuni 212.





Gus Nur sebagaimana diwartakan beberapa waktu lalu ditolak ceramah di Jawa Timur dan Hongkong. Padahal dirinya mengaku sudah lama berdakwah dan berkali-kali ceramah di berbagai lokasi di seluruh penjuru Nusantara.

Nama Gus Nur menambah daftar panjang kriminalisasi terhadap para ulama dan dai. Sebelumnya, Ustadz Felix Siauw juga ditolak di Malang Jawa Timur dan tempat lainnya karena fitnah.

Ustadz Abdul Somad yang rendah hati dan terus terang dalam berdakwah serta bermadzhab syafi'i sebagaimana yang dianut NU juga ditolak dua kali. Pertama di Bali, tetapi beliau tetap diizinkan ceramah setelah mediasi.

Penolakan kedua di Hongkong. Ustadz Somad langsung dipulangkan tanpa konfirmasi yang jelas. Beliau dipisahkan dari dua rekannya, tetapi tetap menyampaikan ceramah berurai air mata melalu tayangan skype.

Ustadz Somad terharu mendoakan nasib TKI di Hongkong yang terpaksa meninggalkan Tanah Air demi mencari nafkah. Mereka rela meninggalkan anak dan keluarga padahal tidak memiliki kewajiban untuk menafkahi. [Mbah Pirman/Tarbawia]




Diberdayakan oleh Blogger.