Kisah Mantan Biarawati yang Menohok Kesadaran Kaum Muslimin



Seorang mantan biarawati bertutur secara blak-blakan tentang harga mahal yang harus dibayar karena memilih Islam. Bukan hanya kehilangan keluarga dan harta, muslimah yang kini aktif berdakwah ini juga mengaku terancam kehilangan nyawanya.





Tahun 1999 saya menikah dengan orang Islam. Nikah 4 tahun belum punya anak. Allah menguji saya. Ujiannya apa? Orang yang ngajari saya shalat, ngajari saya iqro', alif, ba', ta', diambil Allah. Suami saya kedua meninggal. Allah menguji saya.

Februari 1999 saya masuk Islam. Juni 1999 saya menikah dengan seorang Muslim. Empat tahun belum punya anak, (lalu) suami saya meninggal.

Suami meninggal. Saya sakit. Usaha saya bangkrut. Ditipu orang Islam. Tahun 2002 saya bangkrut. 2002 itu saya sudah mau berhaji. Habis semuanya. Yang menipu orang Islam, ngakunya (sebagai) kiyai.

Maka hati-hati kalau mencari kiyai. Jangan seperti saya, nanti tersesat.

Kon (diperintah) amalan moco (membaca) Alfatihah 100 kali, Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir 1000 kali (dibaca) di pinggir kali jam 11 siang.

Kira-kira wayahe Zhuhur mpun rampung nopo dhereng (waktunya Zhuhur sudah selesai atau belum)?

Mulane ati-ati nek golek kiyai (makanya berhati-hati kalau mencari kiyai).

(Masuk waktu Zhuhur amalannya) dereng rampung (belum selesai). Padahal perintah Allah, kerjakan shalat terlebih dahulu. Saya (malah) amalan terlebih dahulu. Makanya saya dislentik sama Allah. Usaha saya bangkrut ditipu kiyai.

Tahun 2001 saya divonis dokter, umur saya tinggal 2 tahun. Badan sakit, usaha bangkrut, suami meninggal.

Harta diminta sama orang tua saya. Orang tua saya datang (dan bertanya), "Kamu nekat Islam atau kembali ke Kristen?"




Coba?

Kondisi saya badan sakit-sakitan, usaha bangkrut, suami meninggal. Dalam keadaan sendiri (sebatang kara) saya ditanya, "Kamu nekat Islam atau kembali Kristen?"

(Saya menjawab), "Nekat Islam." Kenapa? "Karena tiket masuk surga hanya Islam. Selain Islam ditolak Allah."

(Orang tua menjawab), "Karena kamu nekat Islam, kembalikan semua pemberian kami sejak kamu lahir kecuali air susu ibu." Ditotal. Saya lahir 13 Oktober 1962 sampai Agustus 2003. Ditotal semua. Kembalikan gak?
Nah, ini praktek. Praktek apa Bu? Praktek syahadat. Ketika saya berkata asyhadu an la ilaha illallah, bener gak (kalau) saya hanya menyembah Allah?

Diuji sama Allah, pilih harta atau pilih agama?

(Akhirnya) saya kembalikan (semua harta orang tua). Jadi miskin gak? Padahal setiap Selasa dan Kamis saya didoakan oleh orang tua agar sakit dan miskin. Karena kalau miskin dan sakit-sakitan akan kembali ke agama Kristen.

Nyatanya saya tambah gemuk. Sebelum masuk Islam berat saya 53 kg. Sekarang 65 kg. Alhamdulillah, Allah menolong saya.

Janji Allah ditepati. Al-Qur'an surat Muhammad ayat 7. "Siapa menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu."

Dengan apa menolong agama Allah? Taat perintah-Nya Allah. Dengan apa menolong agama Allah?  Tinggalkan larangan-Nya. Dengan apa menolong agama Allah?  menomorsatukan Allah.

Saya sudah mengamalkan. Saya kembalikan semua harta pemberian orang tua, alhamdulillah Allah menolong saya.

Selesai ujiannya? Belum!




Malam 27 Ramadhan 2004 saya diuji dengan anak saya. Anak kandung saya cuma satu. Dia datang dan bertanya, "Mamah, nekat Islam atau kembali ke Kristen?"

(Jawabnya), "Nekat Islam." Kalau nekat Islam, pilih anak atau pilih agama? Anak kandung saya hanya satu.

Saya pilih agama (Islam). Kenapa? Karena tiket surga hanya dengan Islam.

Kata anak saya, "Kalau pilih Islam, mulai malam ini kamu bukan ibuku dan aku bukan anakmu."

Jadi malam 27 Ramadhan tahun ini (2017) genap 13 tahun saya tidak melihat wajah atau mendengar suara anak saya. Genap 13 tahun.

Lah Anda yang Islam, sejak lahir punya anak (beragama) Islam kok-anaknya yang sudah baligh-tidak diajak ke masjid? Apa gak keterlaluan?! Keterlaluan! Seperti itu kepingin reuni di surga?!

Saya itu masih menangis sama Allah. Orang tua saya belum dapat hidayah. Adik saya belum dapat hidayah. Anak saya belum dapat hidayah. Kalau saya sampai mati mereka belum dapat hidayah, maka saya mati masuk surga sedangkan mereka masuk neraka.

Kemana anak-anak umat Islam? Pergaulan bebas, pacaran merebak di kalangan anak-anak umat Islam. Orang tua menutup mata.

Saya jadi Islam, sudah kehilangan keluarga. Resmi! Malam 27 Ramadhan 2004 saya tidak diakui keluarga saya.

Oleh kakek-nenek, saya tidak diakui cucu. Oleh orang tua, saya tidak diakui anak. Oleh pakde-bude, saya tidak diakui keponakan. Oleh anak, saya tidak diakui ibu.




Kenapa? Karena saya pilih Islam.

Harta sudah. Keluarga sudah. Tinggal (ujian) nyawa.

Saya seperti ini, sudah berkali-kali diancam akan dibunuh. Tahun 2006 ketika mendakwahi keluarga saya, apa kata keluarga saya? Kalau kamu nekat Islam, mendakwahi keluarga (agar masuk Islam), maka saya tidak akan mencelakai kamu dengan tangan saya, saya akan pinjam tangan orang lain untuk mencelakakan saya.

Sudah berkali-kali saya diancam akan dibunuh, diancam akan dirobek-robek muka saya, diancam akan digantung. Maka motto hidup saya, "Siap berjuang dan mati untuk Islam."

Bagaimana dengan Anda yang Islam sejak lahir? Anda Islam tidak harus kehilangan harta, tidak harus kehilangan saudara, orang tua, dan anak, anda Islam tidak ada yang mengancam.

Anda hanya perlu mengamalkan Surat At-Tahrim ayat 6, "Wahai orang beriman, jaga dirmu dan keluargamu dari siksa api neraka."

Kenapa? Karena bahan api neraka dari manusia dan batu.

Mari bapak-ibu, kalau pingin reuni masuk surga sekeluarga, jaga keluarga kita masing-masing. Penggerogotan aqidah Islam lewat kristenisasi, lewat syi'ah, PKI gaya baru, dan yang lain luar biasa menggerogoti aqidah umat Islam.

Mari menolong agama Allah. Janji Allah, yang menolong agama-Nya, Dia akan menolong orang tersebut. Saya sudah mengamalkan.

Saya kehilangan harta, keluarga, anak, kok nekat Islam, janji Allah dipenuhi. Allah Tahu kalau sendiri saya lemah, Allah memberikan saya suami yang sekarang. Kalau Allah ngasih ganti itu dilebihkan,(suami saya) lebih muda, agamanya lebih baik sehingga bisa memotivasi saya untuk berdakwah.

Kalau saya kehilangan anak satu, suami saya bawa anak dua. Enak kan jadi orang Islam? Mari jaga iman Islam kita.

Inilah kisah mantan biarawati yang kini menjadi dai. Beliau adalah Ustadzah Dewi Purnawati dari Solo. [Mbah Pirman/Tarbawia]






Diberdayakan oleh Blogger.