Diminta Jamaah Jadi Capres, Begini Jawaban Rendah Hati TGB M Zainul Majdi



Meski dukungan semakin deras mengalir dari berbagai penjuru Nusantara, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi tetap rendah hati saat jamaah memintanya menjadi calon presiden Republik Indonesia pada pemilu 2019 mendatang.





"Ini hanya menambah keresahan aja seperti ini," kata TGB Muhammad Zainul Majdi menanggapi permintaan jamaah dalam kajian ma'rifatullah di Masjid Daarut Tauhid Bandung Jawa Barat pada Kamis (15/3/18).

TGB menjelaskan sebelumnya, ia merasa resah ketika diminta oleh dai kondang KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) untuk mengisi kajian rutin ba'da shalat Isya berjamaah ini.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode ini merasa karena merasa tidak mampu jika harus mengisi kajian bertema ma'rifatullah dan akhlak sementara dirinya juga masih dalam tahap belajar.

"Belum selesai keresahan ma'rifatullah dan kajian akhlak, (malah) dikasih ta'liq," kata TGB sembari tersenyum dan melirik ke arah penanya.

Sebelumnya, seorang jamaah menyampaikan pertanyaan kepada TGB tentang ghazwul fikri (Perang Pemikiran). Di akhir pertanyaannya, penanya berharap TGB menjadi calon presiden dalam kontes pemilu 2019 dan terpilih menjadi Presiden ke-8 Republik Indonesia.




"Semoga ustadz menjadi RI-1 (Presiden) di Indonesia," kata jamaah bernama Naufal disambut gemuruh aamiin dari jamaah.

Dalam kajian tersebut, TGB menjelaskan salah satu cuplikan Ihya' 'Ulumiddin tulisan Abu Ghamid Al-Ghazali. Al-Ghazali, sebagaimana dijelaskan oleh TGB, menerangkan tentang tiga jenis ilmu yang wajib untuk dipelajari berkaitan dengan Allah Ta'ala, sifat, ciptaan, dan sunnatullah.

TGB juga menjelaskan tentang hakikat dan cara mendapatkan rezeki. Menurutnya, hakikat rezeki adalah karunia Allah Ta'ala. Allah Ta'ala memberikan rezeki sebagai manfestasi Kasih Sayang-Nya. Seorang hama tidak bisa mengklaim bahwa usahanya menjadi sebab diturunkannya rezeki.

Terkait cara mendapatkan rezeki yang berlimpah, TGB memberitahu bahwa jalannya harus ditempuh dengan cara yang baik, tanpa tipu daya, korupsi dan praktek negatif lainnya.

TGB juga menyatakan, manusia baru akan menjadi bahagia ketika berjamaah dan mendapatkan kemenangan serta kejayaan setelah menjadi jamaah orang-orang yang beriman. [Tarbawia]






Diberdayakan oleh Blogger.