Soal Nyanyi Saat Sa'i, Begini Komentar Tegas 2 Tokoh NU

Sai (ilustrasi-net)


Tindakan sekelompok Banser yang menyenandungkan lagu Ya Lal Wathan bukan hanya menimbulkan reaksi dari orang di luar Nahdhatul Ulama (NU). Di internal, dua pejabat ini memberikan pandangannya terkait kejadian yang dikabarkan merenggangkan hubungan diplomasi antara Indonesia dan Arab Saudi ini.





Akhlak Beribadah


Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Komunikasi, KH Masduki Baidlowi menegaskan, hal ini masuk dalam bagian akhlak dalam beribadah. Dimana, lanjutnya, akhlak dalam beribadah ini lebih tinggi dibanding sah atau tidaknya ibadah.

"Ini lebih pada persoalan bagaimana akhlak kita beribadah. Akhlak iti melebihi sah dan tak sahnya sebuah ibadah," tegas Kiyai Masduki seperti dilansir NU Online, Rabu (28/2/18).

Meski ibadah umrah tetap sah, hal itu tidak selayaknya dilakukan karena tidak patut. Apalagi Nabi Muhammad diutus ke muka bumi, salah satu misi utamanya adalah memperbaiki akhlak.




Tidak Bisa Dibiarkan


Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Bina Haji dan Umrah (ASBIHU) NU KH Hafidz Taftazani menegaskan terkait pentingnya pemahaman sehingga ibadah umrah bisa dilakukan dengan baik dan benar.

Karenanya, pihaknya menentang semua bentuk amalan yang memang berpotensi merusak esensi ibadah umrah dan haji.

"Ini tidak bisa dibiarkan. Ini harus diakhiri." tegasnya.

Perbuatan sekelompok Banser yang menyanyikan lagu Ya Lal Wathan mendapatkan reaksi yang keras dari masyarakat Muslim. Bahkan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi di Jedaah mengaku mendapatkan teguran atas kejadian tersebut.

Ketua Umum Banser Pusat akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan bahwa tindakan itu hanyalah spontanitas, bukan merupakan kesengajaan. [Tarbawia]




Diberdayakan oleh Blogger.