Akmal Sjafril: LGBT Akarnya Dari Konsep Gender


Oleh : Richarunia

Akmal Sjafril, ST. M.Pd.I memaparkan bahayanya konsep Gender yang melahirkan gerakan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dan masalah-masalah besar lainnya akibat pemikiran Barat. Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber Talkshow Muslimat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Prov. DKI Jakarta, Ahad (15/04/2018) lalu.





Akmal menjelaskan LGBT lahir dari konsep Gender. Ide-ide mereka terhadap proses penciptaan alam semesta merupakan diskusi yang terus berulang.

Menurut Akmal, konsep Gender akarnya paham Sekularisme Barat. Kaum Sekuler menghilangkan pesona Illahi dari alam semesta, tidak melihat Allah sebagai pencipta alam dan seisinya, redaksi mereka terhadap sesuatu hanyalah pengulangan diskusi baik itu secara tesis maupun antitesis tanpa kesimpulan.

Contoh Sekulerisme, teori survival of the Fittest, Darwin misalnya, mengatakan individu yang sesuai, dialah yang mampu beradaptasi. Akmal yang juga pendiri sekaligus pengajar di Sekolah Pemikiran Islam (SPI) menuturkan “jika definisi kemanusiaan adalah menyingkirkan yang lemah, maka yang cacat akan hilang. Padahal tugas manusia juga sebagai penolong bagi yang lemah.”

Disebutkan olehnya beberapa kategori gender, Sex male dan female, gender expression, sexual orientation, dan kesadaran diri sebagai wanita atau pria dalam pikiran mereka.





Bahaya konsep gender tersebut selalu mengacaukan pikiran manusia. Berpikir tidak ada hentinya tentang siapa mereka dan untuk apa mereka hidup. Seperti kasus Penyanyi pria asal Amerika, Prince yang  meninggal beberapa tahun lalu. Memiliki orientasi seks pada lawan jenis, ekspresi dalam keseharian bisa perempuan dan laki-laki, pikirannya mengenai diri sendiri pun tidak jelas.

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta, Yayah dari Kepulauan Seribu bertanya kepada narasumber mengenai faktor apa yang menyebabkan manusia itu bisa menjadi LGBT. “Orang-orang yang berlebihan ini hanya mencari sensasi, kalau mencari itu tidak akan ketemu solusinya,” terang Akmal.

“Bagaimana caranya agar tidak terjerat LGBT? Pertama, putuskan hubungan dari pornografi, putuskan dari lingkungan yang mendukung LGBT, cari teman sholeh dan baik, kebanyakan kasus pemicunya dari masalah keluarga, misalnya kurang figur seorang Ayah sehingga membuat dia menjadi kurang laki.” jelasnya lebih lanjut.

Akhir acara, Akmal menegaskan poin penting Al-Quran Surat al-A’raf ayat 80-81. Apa yang dilakukan kaum Nabi Luth sebagai bukti sejarah penyimpangan perilaku manusia mencari sensasi dan sebagai perbuatan keji yang merusak. Ia juga mengajak ummat Islam  beraksi esensi, bukan sensasi. []






Diberdayakan oleh Blogger.