Gerindra Paparkan Fakta Miris di Balik Bagi Sembako Jokowi

Presiden Jokowi (ilustrasi)


Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Puyuono menyampaikan fakta yang dinilai miris dan menyedihkan di balik bagi-bagi sembako yang diduga dilakukan oleh Presiden Jokowi dalam berbagai kunjungan ke daerah.





"Kalau negara yang kaya, maju dan sejahtera, Presidennya gak bagi sembako. Presiden bagi sembako, artinya rakyat sudah tidak mampu lagi beli sembako." kata Arief dalam Mata Najwa Siasat Berebut Istana pada Rabu (18/4/18) malam.

Daya beli masyarakat melemah, lanjut Arief, karena harga sembako melambung tinggi.

"Karena harga sembako hari ini sangat tinggi. Pantas saja." lanjut Arief.

Tingginya harga sembako mengakibatkan masyarakat tidak mampu membeli. Sehingga, lanjut Arief, ketika diberi gratis rakyat pasti menerima.

"Memang sembako di zamannya Joko widodo ini harganya mahal. Rakyat gak mampu beli." tegasnya.

Baca: Bantahan Gerindra kepada Adian Napitulu Soal #2019GantiPresiden





Arief mengandaikan, jika pembagian sembako dilakukan di kawasan elit atau yang kehidupan ekonominya menengah ke atas, masyarakat tidak akan menerimanya.

"Mana ada orang daerah Menteng (Jakarta) mau dibagi sembako." terang Arief.

Menanggapi pernyataan Arief, Ketua Umum PPP Romahurmuziy menyampaikan bahwa Presiden Jokowi merupakan orang yang kerap berbagi sembako, bahkan saat memimpin Kota Solo.

Namun pernyataan Romy ini justru dijadikan bahan untuk membantah oleh Arief.

"Fakta bahwa dia memimpin di Solo, 20% rakyat hidup di bawah garis kemiskinan. Ini data BPS." pungkas Arief. [Tarbawia]







Diberdayakan oleh Blogger.