Kitab Suci, Fiksi Dan Rocky Gerung




Saya tidak tahu agama Rocky Gerung (RG), apakah dia seorang Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Islam atau lainnya. Saya juga tidak tahu latar belakang dia. Saya hanya tahu, bahwa dia adalah seorang dosen di UI. Tentang panggilan profesor pun, ternyata itu hanya fiksi belaka. 





Mungkin banyak orang memanggilnya profesor karena dianggap keilmuannya menyamai atau bahkan melampaui banyak profesor. Hanya saja, saya tetap menyesalkan kenapa dia tidak mengoreksi  panggilan salah tersebut. 

Harusnya dia bilang, “Maaf, saya bukan profesor!” Sebab, kalau dia diam, akibatnya banyak orang disesatkan. Termasuk saya, akhirnya juga menjadi korban. Saya betul-betul mengira beliau adalah seorang profesor.

Tapi yang pasti, kehadiran Rocky Gerung di ILC telah banyak mengajari orang, yang sebelumnya tidak ‘terpelajar’. Memaksa orang untuk berpikir, yang sebelumnya malas mikir. RG membuka diri untuk adu agumen dengan orang yang tidak sejalan dengan pikirannya. Maka, dia merespons positif setiap orang yang memotong pembicaraannya. Beda dengan pembicara lain, yang biasanya marah jika dipotong.

Sebelum kasus ‘Kitab suci fiksi,’yang paling menghebohkan mungkin adalah pernyataan Rocky Gerung yang menyebut bahwa pembuat berita bohong terbaik saat ini adalah pemerintah yang sedang berkuasa. 

Dengan alasan, pemerintah mempunyai peralatan dan kendali untuk berbohong: intelijen, data dan media. “Hanya pemerintah yang mampu berbohong dengan sempurna!” Akibatnya banyak para pendukung Jokowi yang marah-marah dan menyerang RG. 

Yang menarik dari seorang Rocky Gerung, dia bukan islamis, tapi banyak argumennya yang kontra pemerintah ternyata akur dengan para islamis. Sebagaimana juga Rizal Ramli, Kwik Kian Gie, Ratna Sarumpet dan lain-lain. 

Ini menandakan bahwa orang-orang yang kontra pemerintah, selama ini mempersoalkan pemerintah tidak selalu memakai framing agama. Tapi justru pemerintah sendiri yang acapkali membelokkan kritikan dan serangan para 'pembangkang', seakan-akan hanya masalah agama (Islam)!

“Kitab suci itu fiksi!” kata Rocky Gerung lantang. Sebentar saya kaget dengan pernyataan tersebut. Tapi, kemudian saya berhasil memahami pemaparan RG. Karena saya menggunakan nalar dan mendudukan pernyataan RG pada proporsinya. 





Bahwa pernyataan tersebut keluar dari kesimpulan seorang yang menggeluti filsafat, sebagai sebuah teori bahwa narasi yang menjadi pesan suatu kitab suci bagi yang membacanya memang tidak lepas dari imajinasi. Seorang yang tidak berimajinasi tidak akan bisa mempercayai kitab suci. Apalagi memahaminya.

Yang pernah belajar balaghah tentu tahu bahwa ada kalam insya` dan kalam khabari. Khabari adalah kalam yang berisi informasi. Namanya infomasi tentu mengandung benar dan salah, selagi kita belum melihat atau mendengar secara langsung. Perkara kita percaya atau tidak,  itu terserah kita. 

Kabar salah (bohong) bisa saja kita percayai. Sebaliknya, kabar benar, bisa saja kita ingkari. Makanya dalam ilmu ma'ani, mukhathob (orang yang diajak ngomong) itu terbagi tiga:

1. Khali dzihni: Orang polos, apa adanya. Orang seperti ini cukup kita kabari sekali saja, dia langsung percaya. Selesai urusan.

2. Mutaraddid: Orang yang peragu atau kritis. Orang seperti ini perlu penegasan, agar dia bisa percaya.

3. Munkir: Orang gak percayaan. Orang seperti ini, perlu diberi penegasan dengan beberapa argumentasi, baru di mau percaya.

Di sinilah iman kita mengambil peran. Dalam konteks Al Qur`an, kitab suci saya dan semua kaum muslimin, kami mengimaninya. Sebab percaya pada Al Qur`an adalah satu di antara enam rukun iman yang memang wajib dipercayai tanpa reserve





Apalagi Al Qur`an telah Allah kasih garansi, bahwa tidak akan ada seorang pun bisa mengubah atau menghilangkannya. (Al Hijr: 9). Maka, kita pagari di sini, bahwa Al Qur`an itu fakta, kenyataan. Bukan fiksi, bukan rekaan imajinasi. Bukan juga fiktif, yang dibuat-buat atau diada-adakan.

Pada bagian satu tulisan ini telah kita singgung perihal ghaib. Bahwa ghaib adalah sesuatu yang sebenarnya ada, tapi ia tidak hadir bersama kita saat ini. Atau bisa saja ada dan hadir bersama kita, namun tidak bisa kita lihat. 

Makanya di sekolah, murid yang mbolos, biasanya disebut ghaib. Sebab dia tidak hadir di kelas, tapi dia tetap ada entah dimana. Jin misalnya, setan dan malaikat. Ada banyak yang bersama kita, namun kita tidak bisa melihat. Jin qorin, setan penggoda dan malaikat Raqib dan 'Atid. Semua ini disebut makhluk ghaib.

Karena kita mempercayai sesuatu yang ghaib, baik yang telah lampaui atau yang akan datang, terlepas memang semuanya adalah kenyataan, sebagaimana keimanan kita, namun tetap untuk mencernanya kita harus berimajinasi. Misal ketika Al Qur`an bercerita tentang surga: luas, seluas langit dan bumi. Mengalir di bawahnya sungai-sungai. Bercerita tentang neraka, yang disebutkan bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Dalam konteks inilah Rocky Gerung meyebut kitab suci itu fiksi.

Apalagi Rocky Gerung telah memberikan penjelasan bahwa beda antara fiksi dan fiktif. Walau memang penjelasan tersebut tidak persis sebagaimana definisi di KBBI. Menurut RG, fiksi itu adalah imajinasi positif yang kelak akan ditemui sebagai kenyataan. 

Sedang fiktif adalah suatu kebohongan, tidak berdasarkan fakta. Sedang menurut KBBI fiksi dan fiktif itu sama saja. Fiksi adalah cerita rekaan, khayalan, roman dst. Sedang fiktif itu adalah hal yang bersifat fiksi.

Nah, begitu kesimpulan saya setelah mengunyah beberapa kali pernyataan Rocky Gerung, baik yang visual atau pun yang sudah banyak disalin orang dalam bentuk tulisan di berbagai broadcast dan media-media online. Anda tentu boleh berbeda kesimpulan dengan saya. Sah-sah saja. []



Diberdayakan oleh Blogger.