Sesumbar Soal Survei, Dua Argumen Ini Bungkam Adian Napitupulu



Dua argumen politisi dan direktur lembaga survei ini tak bisa dibantah oleh Adian Napitupulu yang awalnya terlihat sombong. 

"Kaos dijual, tapi survei tidak berubah, Pak Jokowi teratas." kata Adian dalam acara Mata Najwa Siasat Berebut Istana pada Rabu (18/4/18) malam. 





Pendapat Politisi Pencetus #2019GantiPresiden 


Politisi Muslim Mardani Ali Sera menyela dengan nada santun dalam menanggapi pernyataan Adian. Ia mengutip strategi perang legendaris Shun Tzu.
"Kenali dirimu. Kenali musuhmu. Kenali medan tempurmu." katanya menjelaskan.

Menurut Mardani, hastag #2019GantiPresiden merupakan medan tempur yang tidak diperkirakan oleh koalisi penguasa.

"Kami tahu, media, sumber daya, ada di sana. Nah dengan hastag itu medan tempurnya tidak diperkirakan oleh Pak Jokowi dan teman-teman." kata Mardani santun.

Hastag #2019GantiPresiden yang menjelma menjadi gerakan dalam bentuk kaos, pin, gantungan kunci dan topi, menurut Mardani memiliki dampak yang besar di media sosial.

"69% yang share, dari datanya google, itu generasi milenial. Reach out di dua pekan pertama 186 juta." ujar politisi asal Betawi ini.

Ketika Mardani menyampaikan data tersebut, Adian menyela. Ia menyatakan, tak ada survei yang berubah. Adian menyebutkan, Presiden Jokowi tetap yang paling tinggi dari semua survei yang dirilis.

Baca: Jawaban Telak Mardani kepada Adian Soal #2019GantiPresiden





Mardani menyatakan, Presiden Amerika Donald Trump merupakan salah satu Presiden yang memenangkan pemilu meski kalah di setiap survei.

"Trump itu surveinya selalu kalah sama Hillary." ujarnya santai.

Pendapat Direktur Lembaga Survei


Selain fakta yang disampaikan Mardani, Direktur Lembaga Survei Poltracking Indonesia Hanta Yuda menyatakan bahwa posisi Presiden Jokowi belum aman.

"Pak Jokowi memang tertinggi, tapi belum aman." terangnya.

Kompetisi dalam pemilihan Presiden 2019, menurutnya, akan sama kuat. "Sama beratnya. Itu yang harus diantisipasi." tegasnya.

Ia juga menyatakan, semua kampanye dengan berbagai isu harus dikonversikan dengan jumlah suara dalam pemilu. Hal itu merupakan bagian terpenting dari semua manuver capres yang berlaga.

"Apakah memberikan dampak elektoral atau tidak. Silakan kedua-duanya. Mana yang laku. Boleh lanjut atau boleh diganti." pungkasnya. [Tarbawia]



Diberdayakan oleh Blogger.