Ustadz Abdul Somad Paparkan 3 Solusi Atas Masalah Terberat Dakwah

Ustadz Abdul Somad Lc MA


Ustadz Abdul Somad Lc MA memaparkan solusi atas tiga masalah terberat yang dialami setiap dai dalam mendakwahkan Islam di berbagai penjuru.





Sibuk Khilafiyah


Menurut lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini, masalah pertama yang dialami oleh dai ada pada umat ialah sibuknya perdebatan terkait masalah-masalah cabang agama.

"Umat masih selalu disibukkan dengan khilafiyah." kata Ustadz Somad di Masjid Rahmatan Lil 'Alamin ECO Pesantren Daarut Tauhid Bandung Jawa Barat pada Ahad (1/4/18).

Karena sibuk dengan hal-hal cabang itu, tenaga umat pun habis. Akibat lainnya, tidak ada kemajuan signifikan di bidang ekonomi, politik, dan pendidikan.

"Akibatnya susah mencapat target perbaikan ekonomi, politik, dan pendidikan karena berkutat di itu-itu saja." katanya menjelaskan.




Solusinya, lanjut Ustadz Somad, umat harus mengkaji Islam secara menyeluruh dengan mengadakan pengajian yang memiliki kejelasan kurikulum. "Pengajian bersilabus dan berkurikulum." kata Ustadz Somad memaparkan solusi

Saling Sikut


Saat ada sebagian umat yang sudah hijrah dan mendapatkan hidayah, masalah khilafiyah ini sudah mulai berkurang. Sayangnya timbul masalah baru berupa upaya saling menjegal.
"Saling sikut diantara komunitas umat Islam. Saling menjegal kawan seiring, menggunting dalam lipatan, menikam dari belakang, musuh dalam selimut." terang Ustadz Somad.

Solusinya, para pemimpin umat harus sering melakukan silaturahim karena umat akan melihatnya sebagai wujud perdamaian dan persatuan meski memiliki perbedaan.




"Umat akan melihat ketika para pemimpinnya duduk bersama. Guru-guru kita, walaupun ada perbedaan dalam beberapa masalah, ternyata bisa bersatu." ungkap Ustadz Somad paparkan solusi.

Merasa Paling Benar


Masalah ketiga yang dialami umat Islam ialah perasaan merasa benar dan melihat orang lain kecil atau keliru. Akibatnya banyak yang tercerai berai karena perilaku tidak baik ini.

"Selalu menganggap kitalah yang membuat ini berhasil sehingga tidak melihat keberhasilan orang lain sebagai keberhasilan umat." katanya melanjutkan.

Untuk menyelesaikan hal ini, para dai dan umat harus belajar melihat kesenangan orang lain, bukan sedih saat orang lain merasa bahagia. "Kita mesti senang melihat kesenangan orang lain." pungkasnya. [Tarbawia]



Diberdayakan oleh Blogger.