Amalan Paten Agar Dikagumi dan Dicintai Allah



Salah satu amalan penting di Hari Idul Fithri dan juga sangat dianjurkan pada hari-hari selanjutnya ialah bersyukur kepada Allah.

Syukur, oleh kebanyakan kita dibatasi maknanya dengan hanya bertambahnya kenikmatan yang pemahamannya dominannya pada jumlah atau kuantitas.




Memang, Islam sangat akomodatif dengan jumlah. Islam tak mencela jumlah atau kapasitas. Bahkan disebutkan, Nabi bangga dengan umatnya yang jumlahnya banyak.

Nabi menyukai umatnya yang banyak anaknya, bahkan ada hadits yang menyatakan, yang terbaik di antara kamu ialah yang paling banyak istrinya.

Namun, apresiasi Islam terhadap jumlah ini kerap disalahpahami. Banyak yang kemudian berorientasi pada jumlah sehingga melupakan kualitas.

Padahal disebutkan, amal yang diterima ialah amalan yang baik, bukan sekadar banyak.

Kembali kepada makna syukur sebagai amalan yang sangat utama dan maqom spiritual yang tinggi, Allah menjanjikan suatu ganjaran yang jauh lebih bergengsi dibanding jumlah semata.

Ialah ridho.

  وَاِنْ تَشْكُرُوْا يَرْضَهُ لَـكُمْ

Wa in tasykuruu yardhohu lakum.

"Jika kamu bersyukur, Dia meridhoi kesyukuranmu itu."

Siapa yang bersyukur, Allah meridhoi kesyukurannya.

Siapa yang bersyukur, Allah ridho kepada-Nya.

Makna ridho ini, sebagaimana disebutkan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, ialah cinta dan keutamaan dari-Nya.

Jika kita bersyukur, Allah cinta dan berikan keutamaan-Nya kepada kita.

Jika bersyukur, Allah cintai dan utamakan kita.

Kita berhak atas cinta dan dilimpahi keutamaan-Nya atas syukur-syukur yang senantiasa diupayakan.




Semakna dengan penjelasan Ibnu Katsir, Sayyid Quthb menjelaskan Surat Az-Zumar [39] ayat 7 ini di dalam Fi Zhilalil Qur'an.

Katanya, siapa yang bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah kurniakan, maka dia akan dikagumi, dicintai, dan mendapatkan balasan kebaikan dari Sang Maha Pemberi Nikmat.

Dikagumi Allah, bukankah amat membanggakan?

Dicintai Allah, bukankah sangat membahagiakan?

Dibalas dengan limpahan kebaikan dari Allah, bukankah sebuah penghargaan tak ternilai dengan apa pun di dunia ini?

Sedangkan Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan,  bersyukur merupakan tanda sempurnanya akal seseorang.

Siapa yang sempurna akalnya, ia akan berterima kasih kepada manusia yang mengantarkan nikmat dan bersyukur kepada Allah sebagai Zat Pemberi Nikmat.

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Dan sebaik-sebaik syukur, ialah kombinasi antara pengakuan di dalam hati, pelafalan oleh lisan, dan kesibukan badan dalam amalan-amalan ketaatan.

Maka shalatlah dan berkurbanlah sebagai wujud  syukur karena Allah telah kurniakan banyak nikmat kepada kita, seperti dijelaskan di dalam Surat Al-Kautsar.

Oleh karena kita menyadari banyaknya nikmat yang Allah berikan sehingga menghitung pun tak kuasa, maka syukur pun harus terus dilakukan hingga tak terukur.

Sebab jika membalas kebaikan dari sesama bisa diindra dan dihitung jumlah atau diatur kualitasnya, tidak demikian dengan limpahan nikmat dari Allah yang disebutkan laa tuhshuha, tak bisa dijumlah.

Sedihnya, berkali-kali Allah menyatakan di dalam Al-Qur'an yang mulia, sungguh amat sedikit manusia yang bersyukur.

Semoga kita mejadi bagian dari orang yang sedikit itu dengan perbanyak dan perbagus kualitas syukur kepada Allah dan berterimakasih kepada sesama makhluk-Nya.

Alhamdulillah. [Tarbawia]
Diberdayakan oleh Blogger.