Ustadz Abdul Somad Blak-Blakan Soal Persekusi



Ustadz Abdul Somad Lc MA bicara blak-blakan. Tak ada yang disembunyikan. Tak ada yang ditakuti karena pihaknya benar dan justru terzhalimi.




Berkut pengakuan blak-blakan Ustadz Abdul Somad terkait persekusi yang dialami dai asal Pekanbaru Riau ini.

Intimidasi dan Latar Belakang Pembatalan


Berawal dari 17 Juli 2018. Undangan ke Grobogan. Sepaket dengan Kudus. Yang Kudus dibatalkan. Karena tidak memungkinkan. Panitia tidak siap. Karena tekanan-tekanan. Akhirnya Grobogan jadi. Panitia mengatakan, tidak masalah.

Setelah kajian, panitia mengaku, ada kesulitan yang luar biasa. Tadi malam, Bapak Kapolres mengamankan sekian puluh orang ditahan di sini, di-stop di jalan ini.

Saya berpikir, kita ngajinya seputar mati. Tidak ada cerita politik, cerita makar, tidak ada ditunggangi. Dan ini (haul) KH Hasan Anwar, murid langsung Mbah Hasyim Asyhari.

Tak lama setelah itu, 30-31 Juli 2018. ketika sampai di Semarang, turun di airport. Ternyata yang menyambut saya bapak-bapak dari TNI dan Polisi. Di tempat acara langsung Bapak Kapolda, Bapak Condro Kirono. Pengamanan 1 km dari air port.

Di dalam perjalanan, saya mikir, ini kita mau ngaji bukan mau perang. Dari pintu gerbang ke dalam ini sahabat-sahabat dari Pemuda Pancasila. Saya pikir, saya sudah menyusahkan banyak orang.




Saya ngaji ke mana-mana tidak lebih dari perbaikan ekonnomi umat, perbaikan pendidikan, perbaikan politik. Tidak pernah menyebut partai, tidak pernah menyebut nomor, tidak pernah menyebut nama. Hanya supaya umat ini melek, Itu saja.

Sahabat saya mengundang saya ke Jepara, tiba-tiba batal. Lalu beliau alihkan ke Masjid Islamic Center Jakarta.

Berangkat dari gagal-gagal ini, lalu (ada yang) terlaksana dengan kesiapan yang terlalu melelahkan, jadi saya ambil kesimpulan, "Kelihatannya Jawa Tengah-Jawa Timur kurang kondusif." Maka saya pikir untuk sementara calling down.

Kalau saya paksakan, pokoknya jalan terus; ini ngajak kelahi, ini ngajak perang. Setelah pikir panjang, kita off dulu. September, Oktober, November, Desember off dulu (di) Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Selama ini kita tidak ada manajemen. Tidak ada ambil DP, harus tiket pesawat bisnis, harus VIP, harus hotel bintang lima; jadi gak ada janji apa-apa.


Fitnah 'Tentara Ustadz Abdul Somad'


Itu yang datang ke situ (lokasi ceramah di Jepara) adalah jamaah. Kita tidak punya tim untuk ngongkosin orang untuk survei ke sana. Gak ada uang kita untuk itu. Kita gak punya manajemen. Kita bukan perusahaan. Kita bukan artis. 




Kita punya sahabat-sahabat dakwah yang sebelumnya mereka tidak kenal Islam, tidak kenal Tuhan, tidak pernah shalat. Setelah mengenal pengajian ini lewat internet, mereka cari kita. Akhirnya kita jalin silaturahim. Akhirnya mereka mengikhlaskan diri dengan uang sendiri, ongkos sendiri, mobil sendiri, tiket pesawat sendiri, datang ke sana.

Pakai topi itu sekali, tidak ada hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, garis keras, radikal, apa itu. Lalu dijepret, difoto (dan)  dikatakan (difitnah)  'Tentara Abdul Somad sudah datang'. La haula wa la quwwata illa billah.

Orang bisa trauma terhadap dakwah. Kalau dia trauma dari (atribut bertuliskan) Laa ilaha illallah, dia bisa jadi atheis, tidak bertuhan. Saya katakan, "Kamu tidak salah memakai topi Laa Ilaha Illallah. Toh keranda orang meninggal pakai tulisan Laa Ilaha Ilallah."

Orang kalau merasa bersalah akan berusaha menebus kesalahannya. Bagus, saya katakan. (Dia berinfaq) nanti infaq itu akan kita antarkan ke suku pedalaman. Kita akan buatkan Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) namanya MDA Tauhid. Insya Allah. Buah daripada fitnah itu.

Klarifikasi Bolak Balik Isu HTI


Bolak balik isu Hizbut Tahrir (HT) dari dulu. Sudah berapa kali sudah diklarifikasi, "Saya bukan anggota HT. Saya pendakwah bebas yang diundang HT dalam acara besar mereka dan undangannya umum." Kami di Riau biasa diundang tapi bukan sebagai anggota, bukan simpatisan.

Otak saya pas-pasan. Beban kuliah saya di Al-Azhar satu tahun 14 mata kuliah, Al-Qur'an 2 juz. Jadi kalau saya ikut ini ikut itu, gak muat otak saya. Sedang serius saja nilai saya cuma jayyid, good. Bagaimana kalau ikut ini ikut itu?




Kalau saya melanggar aturan agama, kita punya Majelis Ulama Indonesia. Undang, saya disidang. Saya siap untuk datang. Kalau saya melanggar secara hukum, itu domain polisi, penindak hukum. Jadi jangan dihakimi (sendiri).

Saya menarik diri. Umat tertekan. Kalau saya teruskan maka ini pelawanan. "Wah, tentara UAS beraksi. Mulai bangkit." Emang saya ini Rambo?

Sudah diklarifikasi lewat upacara bendera, diklarifikasi lewat video kita di dalam hutan ngajarin nyanyi lagu Indonesia Raya, gak juga. Ini orang apa? Mau viral? Mau apa? Kita ini hidup, yang dicari Ridho Allah. Cukuplah.

Alasan Tidak Melapor


Laporan Bali aja tak selesai sampai sekarang. Lebih baik lapor pada Allah Ta'ala. Shalat, lapor kepada Allah Ta'ala.

Mudah saja kalau mau mengadu, mau masuk ke Jawa Timur (misalnya), kontak Pak Syafrudin, kontak Pak Nandang. Mereka telepon Kapolda; siap polisi, siap tentara. Tapi kita bukan mau perang.

Ini mau ngaji atau mau perang?

Libur 3 Bulan Karena Tahun politik?


Keinginan orang sulit ditangkap. Orang tenang kan tiga bulan tenang. Kalau tidak tenang juga, ya sudah tidak usah masuk. Kita ini kan cuma mau ngaji. Yang tidak ada masalah yang kita datangi. Panitia pun jujur aja, kalau ada masalah kasih tahu. [Tarbawia]

*Transkrip dari Fakta TV One, Senin (10/9/18)

Gabung ke Channel Telegram Tarbawia untuk dapatkan artikel/berita terbaru pilihan kami. Join ke Tarbawia



Diberdayakan oleh Blogger.