Kalimat Tauhid Disebut Bendera HTI, Ini Penjelasan Tuntas Ustadz Somad



Ustadz Abdul Somad Lc MA menyampaikan penjelasan yang tuntas terkait opini sebagian orang yang menyebut kalimat Tauhid Laa Ilaha Illallah Muhammadun Rasulullah sebagai bendera HTI.




"Kita tidak bisa mengatakan, ini lambang simbol ormas tertentu karena itu milik ummat Islam." kata Ustadz Somad, Senin (29/10/18).

"Sebodoh-bodohnya umat Islam, dia tahu kalau itu kalimat milik ummat Islam." lanjutnya menegaskan.

Kalimat Tauhid, lanjut dai asal Pekanbaru ini, bukan sekadar simbol. Apalagi bagi masyarakat Indonesia yang memiliki tradisi agung menghormati para pendahulu bahkan ada yang mengkultuskan.

"Bahkan di Indonesia bukan hanya gambar Ka'bah yang disucikan. Gambar gurunya, kiyainya, ustadznya kalau jatuh lalu terinjak, bisa bahaya sekali kalau yang menginjak tidak minta maaf." terangnya.

Karenanya, Ustadz Somad menyeru agar masing-masing ormas menghormati ormas lainnya. Masing-masing masyarakat menghormati anggota masayarakat lainnya.




"Jangan sampai kita salah adab. Kita kan diajarkan berbudi bahasa. Setiap kelompok sudah punya kurikulum." tegasnya.

Hikmah Pembakaran Bendera Tauhid


Meski mengutuk keras tindakan pembakaran bendera Tauhid yang disebut polisi sebagai bendera HTI, Ustadz Abdul Somad menjelaskan beberapa hikmah dari peristiwa yang terjadi di Garut pada peringatan Hari Santri Nasional tahun 2018 ini.

"Mengenalkan kembali Laa ilaha illallah, mendidik kembali anak-anak muda dan melihat masalah ini dengan jernih, dengan bening supaya jelas mana haq mana bathil. Tidak ikut hawa nafsu. Tidak ada kepentingan." terangnya.

Ustadz Somad hanya menjelaskan agar mereka yang tidak mengerti menjadi tercerahkan, agar yang terlampau bernafsu menjadi tenang dan stabil.

"Hanya menjelaskan supaya yang terlampau menuruti nafsu agar kembali kepada asalnya." papar lulusan Darul Hadits Maroko ini.




Solusi Polemik Pembakaran Bendera


Untuk menghadirkan solusi atas perselisihan yang dipicu dari pembakaran bendera Tauhid, Ustadz Abdul Somad merekomendasikan tiga kiat.

"Kembali kepada Allah, lihat Al-Qur'an. Kembali kepada Rasul, lihat hadits. Tidak bisa kembali kepada Allah dan Rasul karena kita jahil? Bertanya kepada para ulama." ungkapnya.

Yaitu dengan terus menerus membaca, belajar, datang ke pesantren, mengaji, datang kepada kiyai dan ustadz untuk menimba ilmu. [Tarbawia]

Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:


Info Donasi/Iklan:

085691479667 (WA)
081391871737 (Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.