Komitmen Perjuangan UBN dan HRS untuk Indonesia Berkah

- April 16, 2019


Perjuangan ummat Islam Indonesia dalam bingkai Aksi Bela Islam telah menjadi sejarah manis bangsa ini. Dalam aksi yang memuncak pada Jum'at (2/12/16) atau dikenal dengan Aksi 212, ummat Islam disatukan oleh organisasi bernama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI atau dikenal dengan GNPF MUI.

Dalam organisasi kecil yang hanya terdiri dari lima orang tersebut, ada dua nama yang paling mengemuka. Ialah Pimpinan AQL Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) dan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab (HRS). Saat Aksi 212, dua sosok ini bersama ulama lainnya yang menjadi komando jutaan ummat Islam di Monas, Jakarta.

Tentu tanpa mengecilkan peran semua ormas dan ummat Islam serta masyarakat Indonesia yang bahu membahu demi menegakkan hukum yang berlaku sesuai undang-undang.

Peran UBN terlihat jelas, misalnya, ketika hadirin meneriaki Kapolri Jenderal Tito Karnavian, kemudian UBN mengambil microphone menenangkan jutaan massa yang hadir. UBN saat itu tegas menyatakan bahwa perjuangan hanya bisa dimenangkan dengan akhlakul karimah, bukan sekadar marah-marah. 

Soal HRS, tak ada satu pun ummat Islam yang melupakan momen khutbah Jum'at 212. HRS dengan jelas menyatakan bahwa ayat suci tidak boleh berada di bawah ayat konstitusi, tidak boleh ada ayat konstitusi yang bertentangan dengan ayat suci.

Fakta kedekatan dan kesamaan visi misi perjuangan, HRS dan UBN lalu dianggap meredup setelah itu. Apalagi ketika kezaliman kian merajalela dan HRS bermukim sementara di Arab Saudi.

Benarkah anggapan ini?

Poros Mekkah Berkah


Dalam sebuah pertemuan di kediaman HRS akhir Desember 2018 lalu, UBN secara khusus datang berkunjung. Sebagai sesama muslim juga sesama pimpinan pergerakan ummat. Keduanya terlihat dekat. Tak ada sekat.



"Sebuah kemuliaan di tempat yang mulia bertemu dengan Habib yang mulia. Saya sangat bahagia sekali. Di Kota Suci Makkah. Di penghujung bulan Desember, bisa melaksanakan umrah dan bertemu dengan Habib." kata UBN mengawali pernyataan di awal perjumpaan. 

UBN kemudian melanjutkan perbincangan merujuk pada sejarah perjuangan pendiri bangsa ketika dilarang berhaji oleh Snock Horgunje. Namun ummat dan pemimpinnya terus berdatangan ke kota Suci Makkah untuk melakukan ibadah sekaligus berkoordinasi demi perjuangan ummat dan bangsa.

Mendengar kalimat pembuka dari UBN, Habib tampak tersenyum berkali-kali. Pimpinan tertinggi FPI mengucapkan kalimat balasan atas kunjungan UBN.

"Jazakallahu khair. Jazakallahu khair Ustadz Bachtiar, ya akhil kariim. Memang kelihatannya sejarah berulang." balas Habib, sembari tersenyum.

Habib kemudian menceritakan banyaknya pemimpin ummat yang sengaja datang menemuinya untuk berkoordinasi terkait perjuangan ummat Islam di Indonseia. 

"Atas pertolongan Allah, konsolidasi itu berjalan. Mudah-mudahan terjadinya konsolidasi di Makkah merupakan pertanda baik. Poros Mekkah ini insya Allah akan membawa keberkahan bagi perjuangan menuju keberkahan untuk NKRI yang kita cintai." lanjut Habib.

Dipersatukan Al-Maidah 


Perbincangan dua sosok pemimpin ummat ini beralih ke nostalgia ketika Al-Maidah ayat 51 dinistakan. Dua sosok ini bersama berbagai unsur keummatan mengerahkan berbagai upaya demi tegaknya hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

"Saya ingat sekali hari-hari dimana kita memulai perjuangan. Saya masih ingat dasar kemudian kita dipertemukan oleh Allah dan Allah berikan taufiq-Nya. Ini semua karena Al-Maidah, ada Al-Maidah yang dinistakan dan ada Al-Maidah yang ingin kita sucikan. Semoga Allah kuatkan kami untuk bisa menegakkan Al-Maidah." lanjut Ustadz Bachiar, Habib mengamini.

Habib menambahkan, penistaan terhadap Al-Maidah kemudian melahirkan gelombang perjuangan ummat yang terus bergulir bak bola salju. 

"Al-Maidah 51 akhirnya menyatukan ummat Islam dari berbagai golongan dari berbagai macam madzhab, dari berbagai aliran, dari berbagai macam daerah. Alhamdulillah." lanjut Habib.

Nafas Panjang Perjuangan Ummat


Dua tokoh yang disebut juga dengan Jenderal Ummat ini saling menyadari bahwa persatuan ummat Islam harus senantiasa dijaga. Nafas perjuangan ummat tidak boleh pendek, lalu berhenti.

"Apa yang sudah bergulir ini tidak boleh berhenti sampai di sini, tapi terus berlanjut sampai Al-Maidah 51 ditegakkan. Artinya, Al-Maidah 51 menjadi bagian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara." terang Habib yang merupakan Pembina GNPF MUI ini.

Habib menjelaskan, spirit ini bertujuan agar tidak ada ayat-ayat konstitusi yang berseberangan dengan ayat suci atau ayat konstitusi yang lebih tinggi dari ayat suci.

"Bagaimana konstitusi kita yang selalu kita junjung tinggi harus selalu sejalan, seiring dengan ayat suci yang merupakan wahyu ilahi. Di situlah Indonesia akan menjadi baldah thayyibah." lanjut Habib.

Pernyataan Habib kemudian disepakati oleh UBN. Keduanya sepakat untuk memperjuangkan Al-Maidah 51 tegak hingga menjadi sebab berkahnya Indonesia

"Insya Allah Al-Maidah 51 kita tegakkan dalam keadaan kami masih hidup atau kami sudah mati. Mudah-mudahan Allah berkahi bangsa ini." tutup Ketua GNPF MUI, Ustadz Bachtiar. [SP]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search