Mana Ada Orang Sesempurna Fahri? Begini Jawaban Menohok Habiburrahman El-Shirazy



Novel Ayat-Ayat Cinta 1&2 yang difilmkan kembali menghadirkan kontroversi bagi netizen. Kontroversi paling ramai tertuju pada sosok Fahri yang disebut sebagai superman dan mustahil ada di zaman ini.





"Fahri ini superman. Mana ada orang seperti fahri?" tanya pihak yang kontra dengan sosok Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta.

Menjawab pertanyaan ini, Habiburrahman El Shirazy sebagai penulis novel Ayat-Ayat Cinta 1&2 menyampaikan jawaban yang menohok kesadaran bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslimin.

"Saya sampai geleng-geleng (kepala). Ya Allah...Fahri ini kalau dibandingkan dengan Imam Nawawi jauh sekali. Fahri dibandingkan dengan Syeikh Muhammad Al-Ghazali yang modern saja, ulama Mesir yang baru wafat tahun 1996 kemarin, itu saja jauh." ujar Kang Abik dalam sebuah video singkat unggahan @nasehat_indah 

Menganggap Fahri sebagai superman dan mustahil ada, menurut Kang Abik, merupakan pertanyaan yang melambangkan pesimisme dan bukti makin rusaknya zaman.

"Lah kalau Fahri saja dianggap superman, dianggap manusia langka, lah generasi seperti apa yang kita harapkan?" tanyanya retoris setengah berteriak dengan air muka menampakkan kesedihan.

Lulusan Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini kemudian membandingkan Fahri dengan Imam Syafi'i yang merupakan manusia biasa, bukan dari golongan Nabi atau sahabat.

"Imam Syafi’i saja 7 tahun sudah hafal A-Qur’an, 10 tahun sudah hafal Al-Muwatha’ Imam Malik. Umur 17 tahun, Imam Syafi’i oleh para ulama Makkah semuanya, sudah diberi ijazah, diberi pengakuan, diberi pembolehan memberi fatwa di Masjidil Haram." terangnya bersemangat.




Jika Fahri hidup di zaman Imam Syafi'i, Kang Abik berpendapat bahwa sosok dalam novelnya itu bukanlah siapa-siapa.

"Jadi kalau Fahri dibandingkan Imam Syafi’i, kalau Fahri hidup di zaman Imam Syafi’i, (Fahri) laa yu’tabar! Fahri gak dianggap! Imam Syafi’i itu manusia biasa (bukan Nabi atau sahabat Nabi)." tegasnya.

Kang Abik mengaku prihatin dan bersedih dengan beragam informasi bernada pesimis yang mengepung kehidupan umat Islam dari berbagai penjuru. Menurutnya, semua itu merupakan polusi bagi cara berpikir dan cara beridealisme.

"Kita ini dikepung oleh contoh yang gak jelas semuanya. Tiap hari kita dijejali oleh berbagai macam contoh, informasi-informasi (tidak benar). Itu talawush, polusi untuk cara berpikir kita, polusi untuk cara beridealisme kita." ungkapnya.

Sehingga, penceritaan Fahri dalam dua novelnya yang difilmkan itu merupakan bentuk perlawanan terhadap bobroknya contoh-contoh yang dijejalkan kepada generasi umat Islam akhir zaman ini.

"Nah saya berusaha melawan itu semuanya. Ya semampu saya." pungkasnya. [Mbah Pirman/Tarbawia]




Diberdayakan oleh Blogger.