Kisah Nyata Jenazah Terbakar karena Dosa Riba

- Januari 08, 2020
Ilustrasi


MENGHITAM LEGAM AKIBAT DOSA RIBA
Oleh: Ust. Dr. Miftah el-Banjary, MA

Sebuah kisah nyata terjadi di kota Jakarta. Saya mendengar kisah ini dari salah seorang ustadz yang juga diceritakan kisah ini oleh orang yang menyaksikan kisah itu secara langsung. 

Begini ceritanya! Ada salah seorang pimpinan cabang sebuah Bank konvensional yang dalam kehidupannya terlihat sangat shalih. Beliau seorang yang ahli ibadah, sering puasa sunat, sangat dermawan dan gemar bersedekah. 

Bahkan, hampir setiap setahun sekali pergi menunaikan ibadah umrah. Jika bicara soal ibadah sunnah hampir semua ibadah rutin beliau kerjakan.

Sampai suatu ketika, pimpinan kepala cabang Bank konvensional itu meninggal dunia secara mendadak. Memang tidak ada tanda-tanda yang aneh dan semuanya tampak berjalan biasa-biasa saja. Sampai pun dikebumikan berjalan normal-normal saja.

Barangkali Allah ingin memperlihatkan kuasa-Nya sebagai pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil itibar bahwa perilaku riba itu memang suatu dosa besar yang tidak hapus oleh amal ibadah sunnah lainnya. Peristiwa besar pun terjadi. 

Tak berselang lama dikuburkan, belum lagi para pentakziah pulang, tiba-tiba serombongan pengantar jenazah baru lainnya berdatangan ke tempat lokasi yang sama. 

Mereka mengklaim bahwa liang lahat yang dipakai oleh jenazah yang baru dikuburkan itu sebenarnya atas nama jenazah keluarga mereka. Jenazah baru itu pun akan dikebumikan di liang lahat yang sama.

Ketegangan pun terjadi hingga berujung pada percekcokan adu mulut di sekitar lokasi liang lahat yang baru dikebumikan. Usut punya usut, ternyata pada hari yang sama dan jam yang sama ada dua liang lahat yang sama-sama dipesan di lokasi yang sama, namun berbeda nomor lubang lihatnya. 

Kesalahannya terletak pada petugas gali kubur yang keliru memasukkan jenazah, sehingga liang lahatnya tertukar. Si keluarga jenazah yang baru datang ngotot agar jenazah yang sudah dikuburkan itu dibongkar lagi jenazahnya, sebab jelas nomor bokingnya tertukar. 

Namun, si keluarga jenazah pertama yang sudah terlanjur menimbun jenazah keluarganya pun keberatan jika harus dibongkar lagi. Bagaimana mungkin jenazah baru saja dikebumikan harus digali dan dikeluarkan lagi untuk dipindahkan ke lubang lahat yang lain.

Ketegangan kian menjadi, sebab kedua belah pihak tidak ada yang mau mengalah. Walhasil akhirnya, si keluarga jenazah pertama terpaksa mengalah juga, sebab liang lahat itu memang bukan atas hak mereka. Apa mau dikata, akhirnya jenazah yang telah dikebumikan terpaksa di bongkar.

Penggalian pun dimulai lagi. Tanah yang masih basah memang tak menyulitkan untuk digali ulang. Sedikit demi sedikit tanah terurai dan mulai tampak papan yang menutup lahat. Namun, apa yang terjadi di hadapan mereka.

Semua penziarah terkejut, sebab papan jenazah yang menutup lahat sudah terbakar menjadi hitam legam. Sontak, semua kaget mengucapkan istighfar. Pihak keluarga jenazah pertama tak tahan menahan tangisan histeris.

Tak ada yang sanggup melanjutkan penggalian. Pihak keluarga jenazah kedua pun sontak terkejut dan meminta agar penggalian tak diteruskan. Mereka berkenan memilih liang lahat yang tertukar itu. Walhasil, kubur itu ditutup kembali dengan penyesalan dan kesedihan mendalam.

Ini kisah nyata yang tidak perlu harus dipertanyakan, kapan, dimana, kenapa, siapa pelakunya, dan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. 

Kisah ini juga bukan serial sinetron "Rahasia Ilahi" yang bersifat entertainment. Tidak! Kisah ini cukup sebagai self-reminder dan menjadi i'tibar bagi kita dan keluarga semoga kita dan keluarga kita terhindar dari dosa ribawi serta fitnah kubur.

Sebenarnya kisah yang serupa juga banyak dikupas dan diriwayatkan oleh para ulama tentang akhir kehidupan para pelaku riba. 

Salah satunya kisah seorang pemuda yang menenami ayahnya bepergian haji ke kota Makkah. Dalam perjalanan, ayahnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Disebabkan pada zaman dahulu belum ada rumah sakit, jenazah ayahnya cuma dibaringkan di tengah gurun pasir.

Satu peristiwa aneh terjadi, jenazah ayahnya perlahan berubah menjadi hitam legam dan wajahnya menyerupai sosok babi hutan. Si pemuda terkaget serta merta menangis sejadi-jadinya. Ia sangat sedih atas kondisi ayahnya.

Sembari menunggu bantuan para kafilah lainnya menguburkan keesokan harinya, si pemuda menunggu jenazah ayahnya sembari menangis sepanjang malam. Lantaran, terlalu lelah dan larut dalam kesedihan, si pemuda tersebut tertidur. 

Di dalam mimpinya, ia didatangi sosok berjubah dengan cahaya yang sangat terang. Sosok bercahaya itu, mendekat dan mengusap wajah jenazah sang ayah dan seketika semua kembali seperti sediakala.

Masih dalam mimpi itu, si pemuda itu bertanya, "Apa penyebab jenazah ayahku menjadi hitam legam dan menyerupai babi?" Sosok bercahaya itu menjawab, "Akibat dosa ayahmu yang melakukan perbuatan riba!" Nauzubillah.

Sebelum sosok cahaya itu pergi, si pemuda sempat menarik jubahnya dan bertanya, "Siapa sesungguhnya engkau yang memberikan syafaat pada ayahku?!" Sosok cahaya itu menjawab, "Saya adalah Rasulullah yang memberikan syafaat pada umatku!"

Kisah tersebut di atas bukan kisah dongeng isapan jempol. Kisah tersebut adalah kisah yang ditulis seorang ulama besar Syekh Zainuddin al-Malibary di dalam kitabnya yang masyhur "Irsyadul Ibad".

Memang benar firman Allah Swt di dalam surah al-Baqarah bahwa Allah menyatakan peperangan terhadap orang yang melakukan perbuatan riba atau orang yang membantunya. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنتُمْ مُؤْمِنِينَ ۝ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ.

Semoga menjadi i'tibar dan pelajaran bagi kita semua agar terhindar dari perbuatan yang riba atau terlibat dalam aktivitas kegiatannya. Wallahu 'alam.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search