AS-Iran Saling Membutuhkan dalam Perseteruan

- Januari 09, 2020
Ilustrasi AS-Iran


AS-Iran Saling Membutuhkan dalam Perseteruan

Berita internasional hari-hari ini didominasi oleh perseteruan AS-Iran. Sebenarnya ini bukan berita baru, perseteruan mereka sudah lama. Namun terbunuhnya Qasim Sulaimany, pimpinan pasukan khusus Iran yang sangat disegani  di negaranya, memuncakkan eskalasi perseteruan tersebut. 

Hanya saja, apakah ini murni perseteruan? Sejak lama saya sudah menangkap kesimpulan beberapa pengamat Timur Tengah bahwa kedua negara ini, walau berseteru namun mereka sebenarnya, langsung atau tidak langsung, justeru membutuhkan perseteruan itu sendiri. Dan hingga kini saya masih mempercayai kesimpulan tersebut. 

Dari sisi kepentingan dalam negeri, ketegangan ini cukup efektif membentuk dukungan massa, minimal mengurangi tekanan rakyat terhadap berbagai problematika dalam negeri yang membayangi. Apalagi akhir-akhir ini, kedua negara tersebut sedang mengalami krisis yang berawal dari ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah yang sedang berkuasa. 

Donald Trump bahkan belum lama menghadapi impeachment DPR AS karena dianggap menyalahgunakan kekuasaan. Sedangkan Iran walau tidak banyak di eskpos media (terutama media tanah air), beberapa bulan belakangan ini sedang mengalami gelombang aksi massa menentang rezim Iran karena ekonomi memburuk, pemerintahan yang tidak bersih dan tidak demokratis. 

Adapun kepentingan luar negeri lebih komplek lagi. AS-IRAN dengan levelnya masing-masing adalah negara yang ekspansif, baik secara fisik maupun pengaruh. AS tentu saja sudah lama menanamkan pengaruhnya di Timur Tengah, khususnya negara-negara teluk, lebih khusus lagi Arab Saudi. Iran pasca revolusi, secara perlahan namun pasti mulai menancapkan pengaruhnya di beberapa negara Timteng, tentu dengan idiologi syiah yang menyertainya.

Lebanon sudah lama menjadi negara orbit Iran melalui Hizbullah yang disebut-sebut merupakan negara dalam negara. Suriah pun demikian, menyusul Irak pasca kejatuhan Sadam Husain dan terakhir Yaman melalui pasukan houthi yang berkiblat ke Iran. Negara-negara lainnya pun tak lepas dari incaran Iran untuk menanamkan pengaruhnya, baik langsung ataupun tidak. 

Adanya perseteruan antara kedua negara ini justeru menguntungkan kepentingan luar negeri mereka. AS selalu menakuti-nakuti negara-negara ‘binaannya’ dari bahaya dan ancaman Iran (selain menakut-nakuti mereka dari bahaya radikalisme dan terorisme) sembari menawarkan proposal sistem persenjataan dan pertahanan mutakhir mereka, belum lagi deal-deal politik dan ekonomi yang disepakati. 

Dengan ketegangan ini, ketakutan negara-negara binaan tersebut semakin bertambah, sebab bisa saja Iran melakukan aksi balas dendam  ke negara-negara yang oleh Iran disebut sebagai ‘antek AS’. Ketakutan semakin bertambah, maka ketergantungan dengan AS semakin bertambah pula. Hasilnya menggelontorlah anggaran milyaran dollar dari negara-negara Timteng untuk biaya pengamanannya. 

Iran pun begitu, dengan slogan ‘almaut li amrika’ (Mampus kau Amerika) mereka menempatkan diri sebagai pihak yang berani menantang kepongahan Amerika di tengah negara-negara Islam yang justeru lebih memilih menjadi ‘makmum’nya. Hal ini akan sangat tampak jika ketegangan dengan AS selalu ada. Tentu hal ini mengundang simpati lapisan bawah masyarakat muslim yang memang sudah lama ‘sebel’ sama tingkah polah AS yang ‘mengacak-acak’ negeri-negeri Islam. 

Padahal belakangan ini, beberapa negara ‘binaan’ Iran pun bergolak keras. Lebanon dan Irak rakyatnya turun ke jalan-jalan. Selain masalah ekonomi yang memburuk, mereka kecam keras pemerintahannya karena menjadi boneka rezim Iran, bahkan terdapat tayangan gambar pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ali Khomaeni dirobek-robek dan diinjak-injak. Korban pun banyak berjatuhan akibat tindakan represif pasukan keamanan negara-negara tersebut.

Nah, dengan peristiwa pembunuhan Qasim Sulaimany ini dan eskalasi ketegangan meninggi, jelas sangat membantu Iran untuk meredam berbagai ketegangan di negara-negara pendukungnya. 

Jadi memang tidak usah terlalu serius melihat ketegangan kedua negara ini dan tidak usah terjebak kubu-kubuan berdasarkan kepentingan kedua negara tersebut. Anti Amerika tidak lantas pro Iran, anti Iran tidak lantas menjadi antek Amerika. Dan seperti yang sudah-sudah, ketegangan ini pun paling-paling berujung di meja perundingan dan poto bersama. 

Sejauh ini aksi balasan Iran baru sebatas mengirim rudal-rudal mereka ke pangkalan militer AS di Irak dengan klaim telah menimbulkan kerugian besar di pihak AS. Sementara Trump dengan gayanya yang santuy menjawab, ‘Semuanya baik-baik saja..’ :) []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search