Siapa Pun Presidennya,



Oleh: Rendy Saputra
Ribut-ribut soal 2019, soal CFD, dan berbagai aktivitas politk negeri ini. Semua itu harus disyukuri, itu artinya alam demokrasi negeri ini sehat. Semua bisa bicara. Saya menghormati dan menghargai usaha politik banyak sahabat untuk negeri. 




Bagaimana pun, politik adalah seni melayani publik. Ia tidak sekedar berkuasa. Jadi berusaha untuk menghadirkan pemimpin yang kompeten adalah hak politik anak bangsa. 

Yang mau Saya soroti adalah keyakinan fatalnya. Fatal menurut Saya, jika pemimpin negara menjadi parameter besar akan maju tidaknya sebuah bangsa. 

Presiden jelas punya andil besar, tetapi kerja negeri ini adalah akumulatif kerja dari berbagai elemen masyarakat. 

Siapa pun Presiden 2019 nanti, ia pasti berhadapan dengan struktur birokrasi warisan yang sudah ada sejak dulu. Siapa pun Presiden di 2019, ia akan berhadapan dengan parlemen yang kekuatan politiknya merata hampir ke semua partai. 

Prediksi Saya, dengan belasan partai berpartisipasi, partai pemenang tidak akan lebih dari 30%. Tidak mudah proporsi begini. 




Siapa pun Presiden di 2019, ia akan menghadapai 500an lebih walikota dan bupati yang dipilih oleh rakyat setempat.

Bayangkan... Bagaimana membangun jalur komando yang efektif merapikan gerak 500an kota dan kabupaten kalo begitu polanya. 

Otoritas Presiden ke Kepala Daerah jelas terbatas, karena Kepala Daerah adalah pilihan rakyat setempat. Bukan ditunjuk Presiden. 

Siapa pun presidennya, beliau hanya bisa mengganti para menteri, tetapi kita sebagai warga negara adalah GIVEN dari sananya. Gak ikut berubah. 

Tulisan ini bukan penggembosan gerakan kampanye Presiden pilihan Anda. Silakan saja kampanye. Itu hak politik. Tetapi perubahan besar bangsa ini harusnya tidak digantungkan pada Pak Presiden saja. Tugas perbaikan negeri harusnya dihadirkan dari bawah akar rumput. 

Cobalah bergerak dari bawah. Pastikan 150 juta angkatan produktif negeri ini bisa makan. Artinya, pastikan sektor riil bergerak baik. Pastikan setiap anak negeri menemukan keunggulan terbaiknya. Pastikan mereka bertemu dengan kompetensi terbaiknya sedari muda. Pastikan belajarnya efektif. Gak buang waktu dan uang. Tetapi bisa punya skill yang aplikatif. Kepake. Pastikan sumber daya negeri teroptimalkan dengan baik. 




Jadi uang bisa mengalir deras. Jangan jual bahan mentah. Tapi olah dan beri nilai tambah. Lahan kosong jadi produktif. Garis pantai produktif, jadi basis nelayan, jadi basis wisata, jadi basis produksi garam dan sebagainya. Keindahan alam yang ada digarap jadi objek wisata. Dan ini semuanya nampaknya bisa dilakukan oleh swasta. 

Intinya, perbaikan negeri ini gak bisa top to down. Di atasnya ganti berubah, lalu simsalabim negeri berubah sampai bawah. 

Saya tetap punya keyakinan, sebuah masyarakat akan mendapatkan pemimpin yang layak untuk mereka. Masyarakat yang malas, susah bersatu, tidak produktif, sudah jelas akan dikaruniai pemimpin seperti apa. 

Maka fokus menuju 2019 alangkah baiknya perubahan sikap karakter di masayarakat. Bangun masyarakat lebih positif. Dan biarkan secara natural masyarakat positif itu akan menentukan pilihannya. Mau tetap, atau ganti. 

Pada akhirnya hanya even pilpres saja. Yang substansial sebenarnya gerakan masyarakat bawah ini yang berdampak. 

Sekadar berbagi. Gak ada maksud menggembosi. Hanya ingin mengingatkan. Jangan lupa arus bawah. []



Diberdayakan oleh Blogger.