Zina Dijajakan di Dalam Rumah, Ini Uraian dan Solusi Cerdas Pengusaha Muda Nasional



NYALAKAN NURANI

Menjajakan jasa s*ksual dari rumah. Pakai rumah orang tua. Pelanggan datang, masuk rumah, masuk kamar, atas ijin bapak mama kandungnya. Pelanggan keluar, bayar ke orang tua atau langsung ke yang bersangkutan. Terjadi di depan mata. 5 pelanggan per hari, hanya untuk sekedar 15 juta per bulan.




Fakta (pro*titusi di rumah di Subang) ini bikin hati nyesek. Wanita-wanita muda kita harus memilih jalan hidup jadi PSK. Karena alasan ekonomi. Konon bukan hanya di daerah ini saja, di jalur pantai utara juga kejadian.

Beroperasi di hotel mahal, ada sewa kamar dan lain, kurang aman juga dari aparat, jadi mereka akhirnya pakai rumah sendiri. Low cost, ada agen yang biasa menunjukkan rumah-rumah mana yang aktif. Terjadi di negeri yang 90% muslim.

Okelah bicara keimanan, iman lagi terganggu. Okelah bicara akhlaq dan moral. Ini gak bermoral. Tapi saya ingin soroti yang memang fundamental : EKONOMI.

14 abad yang lalu Nabi Bersabda, "Kadal faqru, ayyakuna kufron." Kefaqiran itu cenderung kepada kekufuran. Jadi memang iman dan ekonomi itu dekat.

Terus kalau kita lihat fakta seperti ini, respons kita apa?

"Ayolah sumbangan. Bantu wanita-wanita tersebut supaya gak jadi PSK lagi?"

Siapa yang mau donasi sepanjang masa?

Jawabannya jelas ekosistem. Mau bekerja, pekerjaan gak ada. Jika ada, gajinya gak berkesesuaian dengan kebutuhan dasar. Gimana mau beres ini masalah sosial?!

Saya mengajak kita berfikir tentang negeri. Apalagi para pengusaha, yang memang memegang peranan membangun negeri.




Kalau sekedar memikirkan untung sendiri, mungkin saja kita bisa pro impor. Sampai ke Indonesia sudah jadi barang siap pakai, tinggal jual, dapat margin, bisa kaya. Titik.

Tapi kalau kita pengusaha pejuang, yang memikirkan negeri ini, kalau keseringan impor barang jadi, pabrik-pabrik manufaktur di Indonesia jadi mati. Akhirnya gak ada penyerapan tenaga kerja. Akhirnya ribuan karyawati pabrik di-PHK.

Gak ada pabrik berarti lahan-lahan luas di Indonesia terbengkalai. Dan gak ada proses manufaktur berarti kita gagal memberikan nilai tambah pada hasil alam. Padahal kita kaya akan bahan baku.

Kontribusi manufaktur pada ekonomi negeri ini hanya 19%. Padahal Vietnam 50%. Negeri yang baru selesai perang bisa membangun manufakturnya secepat itu.

Maka....

Biacara masalah menaikkan ekonomi negeri adalah bicara tentang keimanan, akhlaq, dan moral negeri.

Bicara tentang menaikkan PDB Indonesia adalah JIHAD ekonomi. Hari ini kita hanya sanggup cetak produksi 1T$ per tahun. Begitu dibagi 250 juta penduduk negeri, ketemu angka pendapatan per kapita 4.000 USD.

4.000 USD hanya 60 juta per tahun. 5 juta per bulan. Ini belum bicara deviasi, ketidakmerataan penghasilan. Ada sebagian kecil angkatan produktif yang berpenghasilan ratusan juta dan rakyat kecil berada di jajaran UMR.

Bayangkan kalo PDB kita 10T$ , selesai itu PSK rumahan. Nanti bapak-bapak hidung belang itu akan berani nikah resmi karena ekonomi sudah sejahtera, jadi berani mengelola istri sah. Gak perlu jajan 100 ribu per hari. Gila memang pelanggan ini. Mudah-mudahan kalau negeri sejahtera, bisa stop gunakan PSK; demand turun, supply turun.

Bayangkan kalau ekonomi kita 10T$ per tahun. Berarti pendapatan per kapita 40.000$ per tahun, setara 600 juta per tahun, 50 juta per bulan. Kebanyakan anak negeri akan mendapat 20-50 juta gaji per bulan. Ini baru oke.




Ya sekarang inilah yang harus kita kerjakan sama-sama. Segeralah naik 10 kali lipat ekonomi kita. Scale up nasional, jangan hanya berhenti pada scale up perusahaan sendiri. Kalo market sharenya terbatas, mentok juga ketika akan scale up.

Bicara menaikkan PDB 10 kali ini bicara desain negara. Pemerintah yang harus agresif menyiapkan segala rancang kerjanya. Semua elemen bangsa dijahit, politik dibangun yang stabil, geo ekonomi dan geo politik dikunci dulu kiri-kanan, perizinan manufaktur didorong cepat dan ringkas, industri pengolahan diberi insentif pajak, pajak rendah atas pengolahan; permudah, sertakan permodalan.

Kita ini SDM banyak. Keilmuwan dan kompetensi SDM dalam negeri juga siap. Teknologi sudah tersedia; tinggal copaste. Mau bicara permodalan; populasi kita besar kok. 5 juta orang, (patungan per orang) 1 jutaan aja udah 5T.

Artinya, kita punya semuanya, tinggal mau apa nggak.

Mau nggak kita menjadi negeri sejahtera? Mau nggak kita olah sumber daya alam kita sendiri? Mau nggak kita jadi negara dengan PDB 10T$?

Jika secara komunal kita "SEPAKAT MAU", bismillah, semoga kemiskinan yang berdampak kerusakan moral ini bisa segera selesai.

Semangat menjadi negeri pengolah. Semangat menjadi negeri yang memberikan nilai tambah. Semangat menjadi negeri manufaktur.

Akhirnya produksi domestik bruto naik. Kemampuan negeri ini menghasilkan barang dan jasa naik 10 kali lipat karena kita sudah menjual sesuatu yang bernilai tambah.

Ekonomi naik. Investasi bergerak masuk. Tenaga kerja terserap. Belanja domestik besar.

Ini semangat dari Berkarya di Negeri Sendiri.

Mari kita nyalakan nurani. Mari kita hentikan anak negeri yang harus menjual diri. Hentikan dengan hadirkan kesejahteraan.

Nyalakan nurani. Jangan berfikir tentang diri sendiri. Mari bergerak bersama untuk negeri.

Tertanda,
Rendy Saputra

*Mengajak bergerak lewat Serikat Saudagar Nusantara, Join Gratis, ketik "join SSN - nama domisili" kirim ke  085220000122 (WhatsApp) []

Gabung ke Channel Telegram Tarbawia untuk dapatkan artikel/berita terbaru pilihan kami. Join ke Tarbawia



Diberdayakan oleh Blogger.