Sang Nabi Di Mata Kritikus dan Pencinta





Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi adalah tokoh semesta diceritakan lintas zaman dan lintas madzhab penulisan. Buku buku tentangnya seperti abadi. Baik pengikutnya maupun bukan mencoba menuliskannya karena kepribadiannya yang luar biasa. Dari seorang ummi yang buta huruf, mampu membangun peradaban hanya dalam kurun waktu 23 tahun perjalanan hidupnya.




Diantara yang menuliskan sejarah kehidupan Nabi Muhammad ialah HMH Hamid Al Husaini, seorang ulama Tuban, kelahiran tahun 1910, yang mendapatkan keulamaannya dari pendidikan di Yaman, kemudian Karen Armstrong seorang biarawati Katolik Roma yang aktif mengajarkan sejarah di Bedford College, University of London.

Al Hamid Al Husaini menuliskan sejarah Nabi sesuai pakemnya dengan memulai riwayat dari Arab pra Islam. Detil. Menarik. Diawali dengan penceritaan Ibrahim yang meninggalkan Hajar dan Ismail di tanah tandus bernama Makkah. Atas perjuangan hidup Hajar, Allah menghadiahi mereka air zamzam yang muncrat dari hentakan kaki Ismail, moyang Quraisy yang merupakan puak Sang Nabi. Maka lahirlah Makkah baru, dari sebelumnya tanah tandus menjadi pusat dagang yang ramai karena adanya sumur yang tidak pernah kering di tengah padang pasir.

Di sisi lain, Karen Armstrong, Sang biarawati, memulai penceritaan sang Nabi dari fitnah yang terjadi di Eropa abad kegelapan. Pada era itu, Muhammad menjadi sosok yang digambarkan jahat bahkan namanya digunakan untuk menakuti anak-anak. Sang biarawati mengawali kisah Sang Nabi dari fenomena Islampobia sebelum menjelaskan secara kritis kepribadian seperti apa yang melekat pada Sang Nabi tersebut.

Sang Ulama Tuban begitu detil penuh kecintaan dalam mengisahkan perjalanan sang Nabi. Mulai dari pra kenabian. Beliau mengalami peristiwa mukjizat pembelahan dada oleh malaikat di masa kecil. Berlanjut kabar dari Ahli Kitab Buhaira yang melihat tanda kenabian saat Sang Nabi dibawa Abu Thalib dalam perdagangan ke Syam.




Fase hijrah dijelaskan dengan cara apik sehingga terang perkembangan Islam di Madinah. Mulai dengan penggambaran tokoh-tokoh munafik dan pengkhianatan kafir Yahudi, semua diceritakan penuh emosional. 

Fase berikutnya adalah fase peperangan yang diawali dengan perang Badar dan beberapa ekspedisi kecil. Penceritaan tokoh muslim yang syahid maupun tokoh kafir yang mati diceritakan dengan apik sehingga pembaca seperti terbawa dalam suasananya.

Di sisi lain, Karen Armstrong mencoba mengkonfirmasi tentang perang yang dialami sang Nabi. Selama ini di daratan Eropa, seolah Islam disebarkan melalui perang. Melalui risetnya, Sang Biarawati mencoba mengupas latar belakang setiap peperangan yang dialami sang Nabi. Karen Armstrong memperoleh kesimpulan bahwa peperangan yang terjadi merupakan keniscayaan dan bukan merupakan suatu aksi ekspansif. 

Prinsip ajaran Islam dimana setiap keadaan musuh yang mengancam eksistensi Islam mengharuskan respons peperangan. Meskipun di detik-detik akhir perang tetap harus ditawarkan opsi perdamaian.




Sebagai epilog, HMH Hamid Al Husaini mengisahkan kesedihan wafatnya Sang Nabi yang menguasai hampir suasana hati sahabat waktu itu. Kejadian pasca wafatnya Sang Nabi juga dikisahkan dengan apik. Salah satunya perdebatan muhajirin dan anshar tentang pemilihan pengganti Nabi yang berujung pada pembaiatan Abu Bakar sebagai khalifah selanjutnya.

Di sisi lain, epilog Karen Armstrong mengisahkan legacy peradaban Islam yang diwariskan Sang Nabi melalui kesempurnaan akhlak dan keteguhan iman. Dalam simpulannya, Sang Biarawati mencoba mengikis stigma yang melenceng terlalu jauh dari fakta sejarah yang melekat pada diri Sang Nabi.

Keduanya, walaupun berangkat dari sisi motivasi yang berbeda namun mengerucut pada kekaguman yang sama. Sebagai sesama pecinta kebenaran, keduanya sepakat bahwa sosok Sang Nabi adalah teladan yang pengaruhnya sulit tergantikan. [Asih Widhi T]

Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:


Info Donasi/Iklan:

085691479667 (WA)
081391871737 (Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.