Tulisan Mengharukan Guru SMA di Hari Guru



 "Apa yang dirasakan, Nak?"

"Perut saya, Miss. Sakit..."




"Tadi pagi sarapan tidak, Nak?"

"Sarapan, Miss.. Tapi sedikit."

"Sudah makan siang ini?"

"Gak Miss. Siang ini gak makan."

"Kenapa, Nak? Gak bawa bekal?"

"Gak pernah bawa bekal, Miss."

"Oh.... Jadi kalau siang makan di kantin ya?"

Dan siswaku ini menggeleng sembari mengatakan bahwa uang jatah hariannya hanya Rp 5000,- dan ditabung semua.

"Ya Allah... Kalau begitu, kenapa gak membawa bekal, Nak?"

Dia cuma diam. Dan sebagai emak-emak yang punya 5 anak lelaki, aku tentu tahu jawabannya. Umumnya para anak lelaki  gak mau ribet. Apalagi harus mrnyiapkan bekal sendiri. Walau sudah mandiri tak semua anak lelaki mau berrepot-repot melakukan itu. Apalagi bila  makanannya belum tersedia.




Jadi dalam hal ini, peran ibu  atau orang tua sangat penting untuk memastikan  anak-anaknya tercukupi kebutuhannya, memastikan kondisi anak-anaknya sehat dan baik-baik saja.

Jam belajar di sekolah anak-anak sekarang begitu panjang. Di sekolah kami masuk jam 07.00  sampai jam 15. 15. Hari Jum'at malah masuk  jam 06.30 karena ada  Yasinan dan zikir bersama di lapangan  sekolah.

Bayangkan apa jadinya kondisi mereka bila tak sarapan atau hanya sedikit sarapan, sementara siang pun tidak ada asupan karena tak membawa bekal atau uang jajan tak cukup untuk membeli makanan di kantin sekolah.

Siswa saya dalam cerita di atas sudah beberapa kali ditangani karena keluhan yang sama di perut. Asam lambungnya bermasalah.

Lantas kenapa uangnya tidak dibelikan makanan?

Ternyata uangnya ditabung untuk membayar perpisahan (wisuda sekolah) yang digagas oleh para orang tua siswa sendiri. Acaranya sebenarnya tidak neko-neko dan biayanya juga tak mahal, namun orang tua siswa ini tak mau membayar untuk acara ini.

"Saya sejak TK gak pernah ikut acara perpisahan, Miss. Saya sangat kepingin ngerasain acara perpisahan. Jadi saya gak jajan dan nabung untuk itu."




Dan saya tiba-tiba menjadi sangat sedih. Ayah siswa ini adalah pegawai negeri yang secara finansial cukup untuk membayar  biaya perpisahan yang tak seberapa itu. Terlebih di sekolah kami yang walaupun SMA, namun tak dipungut bayaran sekolah alias gratis. Buku-buku juga dipinjamkan oleh sekolah.

Saya berbaik sangka, mungkin orang tuanya mempunyai alasan lain selain biaya terkait perpisahan. Dan saya meminta orang tuanya datang ke sekolah untuk membicarakan hal-hal ini. Terutama masalah kesehatannya yang mengkhawatirkan serta prestasi akademik yang tidak optimal. Sayangnya hingga sekarang belum juga datang ke sekolah dengan alasan sibuk

"Jangan, Miss. Gak usah."

Demikian penolakannya saat kuberi sejumlah uang  agar membeli makanan di kantin. Dia bersikeras tak mau menerima.

"Nak, Miss adalah ibu di sekolah. Wajib ngurus kamu, apalagi kalau lagi seperti ini. Ayolah.....
atau kamu gak mau anggap Miss sebagai ibu yaaaa?"

"Anggap Miss ini seperti ibu apa gak, Nak?"

"Iya, Miss. Makasih banyak."  sahutnya mengangguk dan dengan  sungkan menerima pemberian saya.

Ya. Guru  adalah orang tua bagi para siswa yang punya tanggungjawab memastikan anak-anaknya di sekolah baik-baik saja dan bisa berhasil menjadi sosok-sosok membanggakan.

Selamat Hari Guru, teman-teman. [Elly Sumiyati - Guru SMA 22 Kab Tangerang]

Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:


Info Donasi/Iklan:

085691479667 (WA)
081391871737 (Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.