Berbeda Pilihan

- Maret 29, 2019


Berbeda Pilihan
Oleh: Abrar Rifai

Berbeda pilihan di antara kita adalah niscaya! Tidak mungkin semua orang suruh pilih Joko semua. Tidak juga harus Prabowo semua.

Bagi sebagian orang, Joko mungkin seperti manusia setengah dewa yang diutus ke Indonesia. Tapi tak bisa dipungkiri, banyak juga orang yang menginginkannya untuk pulang ke Solo setelah 17 April nanti.

Prabowo sudah terbukti bertaruh nyawa dalam banyak medan laga, untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Bangsa dan Negara.

Joko juga sudah terbukti sukses menjadi Walikota Solo. Walau tak teruji jadi Gubernur Jakarta, karena beliau berhenti sebelum waktunya. Jadi Presiden pun beliau dianggap gagal, karena terlalu banyak menumpuk hutang.

Berbeda pilihan itu wajar. Yang tidak wajar, kalau lantas karena itu kemudian kita bertengkar, berpecah!

Ketika kita berbeda pilihan Presiden, sebenarnya masih banyak hal lain yang kita sepakati. Kenapa kita tidak mencoba bekerja sama dalam hal yang kita sepakati? Misal mewujudkan Pilpres yang jujur dan adil!

Para pendiri bangsa ini bukannya tidak pernah berbeda pendapat dan pilihan. Berbeda sikap, bahkan berbeda ideologi. Namun demi Indonesia yang satu, mereka tetap bekerjasama

Ini adalah hari-hari panas masa kampanye Pilpres dan Pileg. Emosi bangsa Indonesia benar-benar akan dikuras. Namun kita tak pernah kehabisan embun tuk sejukkan hati kita masing-masing.

Mari kita terus lanjut dengan menjual kebaikan masing-masing jagoan kita. Berlomba mencari simpati rakyat, itu adalah niscaya. Tapi kita tetap harus bersatu. Karena kita semua adalah anak-anak yang sama-sama lahir dari rahim Pertiwi. 

Siap memang siap kalah, tentu bukanlah slogan kosong. Nanti harus benar-benar mewujud setelah Pemilu usai. 

Penyelenggara dan wasit tetaplah pada posisi dan kewenangannya. Sebab kakau Panpel dan wasit sampai ikut bermain, kacaulah semuanya!

Jangan ada yg menganggap Prabowo sebagai sebuah ancaman. Karena semangat majunya jenderal gaagah ini, karena ingin membangun Indonesia! 

Pun demikian dengan Joko, yang lalu biarlah berlalu. Kalau ada yang salah-salah dari beliau, semunya hendaklah dimaafkan. Saatnya kini kita upayakan mengganti beliau.

Para pendukung tidak usah membabi buta, dengan melancarkan hantaman kesana kemari. Introspeksilh akan semua kesalahan dan kekurangan. Kalau pun harus menghantam, haruslah benar-benar terukur untuk menumbangkan keculasan dan kezaliman.

Dalam semua kompetisi pasti ada yang kalah dan menang. Itu wajar saja, karena kita memang berbeda pilihan. Rakyat jua yang akan jadi penentu! []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search