Jangan Tonton! Dilan 1991 Ajarkan Zina



Mata saya memerah. Dahi berkerut. Jantung saya berdetak lebih kencang. Jari saya tak bisa ditahan. Lalu memverifikasi kebenaran dari apa yang saya baca terkait kesaksian mereka yang sudah menonton Dilan 1991.




Apa yang membuat saya marah dan harus menulis ini? Hanya berharap agar para malaikat menulis ini sebagai bukti bahwa saya telah bersaksi. 

Ini tanggungjawab moral. Ini kegelisahan saya sebagai orang tua dan guru ngaji.

Jangan tonton Dilan 1991! Di sana ajaran zina dibiasakan dan direstui orang tua.

Sudah lihat posternya? Apa-apaan anak sekecil itu diajarkan pelukan nempel?

Di filmnya, pacaran Dilan dan Milea direstui orang tua. Sejak kapan orang tua tahun 1991 merestui anaknya pacaran?




Dulu, orang tua menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran. Jangankan memberi izin anaknya pacaran, saat ada yang bertamu pun diinterogasi selengkap mungkin. 

Ketika laki-laki berkunjung pada malam hari ke rumah perempuan, maka si perempuan diperintahkan masuk. Yang menemani si laki-laki adalah kakak laki-laki atau orang tuanya.

Bahkan di tahun itu, para pemuda kampung berjaga-jaga mengawasi siapa saja orang asing yang datang dengan niat memacari salah satu perempuan di kampungnya. Para pemuda mendatangi laki-laki yang biasa disebut apel untuk memberi tahu batas waktu kunjungan. 

Pemuda itu kemudian mengingatkan jika sudah jam 9 malam. Agar dia pulang. Jika terjadi pelanggaran, tak jarang pemuda-pemuda ini langsung memberikan peringatan keras. 

Tetapi, di film Dilan 1991 ini, pacaran dibungkus dengan sangat menjijikkan.




Apalagi saat Dilan main ke rumah Melia di malam hari. Orang tua Melia tidak di rumah. Hujan deras. 

Dilan dengan tanpa malu menawarkan zina bibir dengan mengatakan kepada Melia, "Mau nyobain beneran atau (kode tangan ditempelkan ke pipi dan bibir)."

Dan setelah itu, keduanya melakukan zina bibir meski adegan disensor!

Astaghfirullah. Na'udzubillah. 

Ya Allah, lindungi negeri ini dari penjajahan moral berkedok film romantis. Sungguh kisah romantis orang tua dan pendahulu kami jauh lebih mengesankan dibanding tontonan melegalkan zina yang dipenuhi imajinasi sentuhan dan interaksi terhadap lawan jenis yang melanggar aturan agama dan norma bangsa.

Pirman
Pecinta Keluarga Sejati


Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:

Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.