Dipersoalkan Saat Sandi Pegang Panji NU, Guru Ngaji Unggah Bantahan Telak!

- April 09, 2019


“Kalau ada yang tidak rela bendera NU dikibarkan Sandiaga Uno, kami lebih tidak rela lagi NU, jam'iyyah yang didirikan kakek-kakek kami dijadikan mesin politik!”

Pernyataan di atas tidak saya baca di media. Tidak juga saya dengar dari orang ke tiga. Tapi saya dengar langsung dari para cucu pendiri NU: Gus Aying, Gus Hasib, Gus Irfan, Gus Aam dll.

Jadi ceritanya, pada saat Shalahuddin Uno kampanye di Lumajang, dari bawah panggung ada yang memberikan bendera NU kepadanya. Tentu saja, Mas Sandi dengan sigap menerima dan mengibarkannya. Mas Sandi sebagai orang NU tentu bangga dengan bendera jam'iyyahnya.

Sekarang begini saja, andai Mas Sandi menolak pemberian bendera itu, framing berikutnya adalah: Sandi tidak suka NU. Sandi menolak mengibarkan bendera NU. Maka, tidak pantas orang NU mendukung Prabowo-Sandi! Dll.

Jadi bagi orang-orang itu, sebenarnya bukan karena bendera NU berkibar gagah pada acara kampanye, mereka mempermasalahkan. Tapi lebih kepada ketakutan kalau orang-orang NU yang sudah didoktrin harus milih Joko, ternyata tetap saja nanti memilih Prabowo.

Karena terlalu banyak orang yang saya jumpai, orang NU deles. Hormat pada Kiai Ma'ruf dan kiai-kiai lainnya. Tapi urusan memilih Capres-cawapres, mereka sangat mantab memilih Prabowo-Sandi.

Sebab, tidak ada dalam ketentuan apapun bahwa Nahdhiyyin itu harus milih Jokowi. Justru yang saya sering dengar dari kiai-kiai NU adalah ajaran untuk tidak berbohong, tidak memfitnah dan tidak mengadu-domba! [Abrar Rifai]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search