Film Hayya; Sepotong Kisah Pengingat Akan Palestina

- September 20, 2019


Hayya - Sepotong Kisah Pengingat Akan Palestina

Bismillah...

Pagi tadi akhirnya saya memutuskan untuk menonton film #Hayya #ThePowerOfLove2 berempat sama anak-anak saja. Tadinya mau bareng suami, tapi karena cuma bisa akhir pekan, sementara si sulung senin besok insyaaAllah sudah masuk UTS, jadi ya di hari pertama sajalah. Anggap ini hiburan supaya dia lebih rileks menghadapi ujian.

Nggak seperti biasa yang suka menonton trailer sebuah film, kali ini saya nggak kepikiran akan hal tersebut. Sinopsis tentang Hayya yang banyak dibahas di medsos plus nama-nama besar di balik film yang berkisah tentang anak Palestina ini (Ustadz Erick Yusuf, duo saudara Bunda Helvy Tiana Rosa & Bunda Asma Nadia, Jastis Arimba dll) membuat saya secara impulsif berpikir bahwa film ini layak tonton dan aman untuk anak-anak. Apalagi setelah lihat pendapat UAH dan ajakan nobar UBN. Wah, makin semangat lah.

Hasilnya...

Entah Anda, tapi berkali-kali saat menontonnya, airmata membanjiri pipi saya sejak menit pertama.

Dibuka dengan cuplikan Aksi Bela Palestina di Monas yang menampilkan orasi dari UBN, semangat jihad membela bangsa terjajah ini langsung bergelora dalam diri saya. Apalagi saat si sulung berbisik,
"Eh itu UBN! Itu kan aksi yang Gaza ikut sama Ayah, Bun. Gaza inget diem di bawah bendera lebaaar banget."

MasyaaAllah...

Kisah tentang kelanjutan perjalanan hijrah seorang jurnalis bernama Rahmat (Fauzi Baadila) yang membawanya dalam perjalanan ke Palestina bersama sahabatnya Adin (Adhin Abdul Hakim) untuk meliput konflik yang terjadi di sana. 

Di Palestina, Rahmat bertemu seorang gadis kecil yatim piatu bernama Hayya. Dari sekian anak yang ditemuinya, Hayya lah yang paling dekat dengannya. Bahkan gadis lima tahun itu terisak saat diberitahu bahwa Rahmat dan rombongan relawan akan segera kembali ke Indonesia.

Dengan cara istimewa, Hayya pun tiba di Indonesia. Ia mewarnai kehidupan Rahmat selanjutnya hingga penuh dengan kebahagiaan, cinta, obsesi sekaligus kecemasan. Yang tanpa pemikiran serta perhitungan panjang, justru melibatkannya dalam beragam konflik. Yang ironisnya justru terjadi jelang hari pernikahannya dengan Hasna (Meyda Sefira).

Bagaimana Rahmat mengatasi semua konflik ini? Siapa saja yang mau tak mau harus terlibat dalam segala hiruk-pikuk terkait keberadaan Hayya di Indonesia? Apakah berakhir bahagia atau sedih? Anda bisa menontonnya sendiri. Bagi saya, jika dilihat dari sisi kualitas akting para artisnya, angkat jempol deh! Fauzi Baadila yang sukses menjadi sosok pemuda dingin akibat luka serta trauma masa lalunya yang kesepian. Adhin Abdul Hakim pun lebih terlihat totalitasnya dibandingkan dengan saat di film The Power Of Love 1. Ria Ricis yang di luar dugaan saya, bermain bagus di film ini. Dan tentu tak ketinggalan sang pemeran utama Hayya (Amna Hasanah Sahab) yang luar biasa penghayatannya.

Para penonton juga akan diingatkan tentang Palestina melalui potongan-potongan video aksi heroik masyarakat Palestina dalam menghadapi serangan-serangan tentara Zion*st yang membabi-buta. Segala apa yang ada, bisa menjadi sumber kekuatan bagi mereka. Bahkan untuk yang sudah berada di atas kursi roda sekalipun, mundur tak akan menjadi pilihan. Merdeka atau Syahid.

Eh tapi, gak semua adegan dalam film ini serius dan menguras airmata, lho! Ada beberapa adegan yang bisa banget bikin penonton terpingkal. Salah satunya saat Rahmat berniat bersikap romantis saat melamar sang pujaan hati. Atau saat adegan "kejar-kejaran" Adin di pematang sawah dan perumahan. Ini bisa banget untuk mengimbangi emosi sedih dan haru. 

Selain alur cerita, ada beberapa catatan saya mengenai film besutan Jastis Arimba ini.

➡️Trauma

Bagaimanapun perang pasti akan menyisakan trauma di hati masyarakat, terutama anak-anak. Inilah yang terjadi pada Hayya. Gadis kecil ini bisa histeris saat melihat tayangan televisi tentang perang. Atau sebaliknya, menangis dalam sunyi saat melihat gambaran kebahagiaan sebuah keluarga yang utuh. Jangan lupa untuk memperhatikan dengan detail benda yang digenggam olehnya saat sendirian di taman. Jika Anda paham maksudnya, ini akan menjadi scene yang membuat airmata menganaksungai.

➡️ Obsesi

Ini yang tergambar sangat nyata dalam karakter Rahmat. Bahwa ia terobsesi untuk mencintai agamanya setelah bertahun-tahun "tersesat" sebagai jurnalis yang kerap memberitakan hal negatif tentang Islam. Orang seperti ini bisa berbuat apapun yang bagi kebanyakan orang mungkin tak terpikir atau bahkan nekat dan membahayakan diri maupun orang-orang di sekitarnya. Apa tujuannya? Sama sekali bukan untuk pujian, tapi lebih ke "menebus dosa" serta memenuhi hati yang kerontang akan cinta di masa lalu.

➡️Hijrah

Seperti dikatakan oleh Adin, 
"Hijrah itu ibarat lari marathon. Lu udah tau kapan seharusnya melangkahkan kaki buat cepat-cepat meninggalkan garis start."
Definitely true!

Hijrah itu sebaiknya menyegera, tapi bukan berarti terburu-buru. Menyegera dalam artian, bukan menunggu hidayah melainkan berupaya menjemputnya. Dan jangan terburu-buru, karena terburu-buru itu buruk (Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Sifat tergesa-gesa adalah dari setan."). Terkait dengan hijrah, jika dilakukan terburu-buru, maka khawatir akan bisa membuat orang atau pelakunya merasa menjadi orang paling benar, selain dirinya salah. Bahkan tak jarang, akan dengan seenaknya menghujat atau mengkafirkan ustadz yang memiliki pemikiran berbeda dengan apa yang dipelajarinya.

Terlepas dari semua itu, film ini merupakan "reminder" atau "Pengingat" bagi dunia khususnya masyarakat Indonesia, "Hey, jangan lupakan Palestina!"

Ya, jangan tinggalkan mereka. Jangan biarkan pahala jihad dimiliki penuh oleh mereka. Berbuatlah semampu kita untuk ikut berjihad dengan mendukung mereka. Dalam bentuk materi, tulisan, atau minimal doa. Sertakan selalu saudara-saudara di Palestina dalam setiap sujud panjang kita.

Ada banyak lembaga/yayasan yang insyaaAllah  amanah dalam menyalurkan bantuan ke Palestina mulai dari ACT, AQL, KNRP, Mer-C, Smart 171 dan lainnya. Sila browsing. insyaaAllah dengan membantu Palestina, tidak hanya bisa melembutkan hati, namun juga mengokohkan iman.

Ya, sebagaimana slogannya "Love, Life and Humanity" film ini menggugah kesadaran kita tentang bagaimana mencintai sesama atas dasar LiLlahi.

Baik untuk ditonton bersama keluarga. Oh iya, dituliskan bahwa ini film 13+. Tapi kalau menurut saya sih, ini bisa ditonton oleh segala usia. Relatif aman insyaaAllah. Jangan lupa untuk mengajak anak berdiskusi atau sekedar menanyakan bagaimana kesan mereka. Anak sulung saya yang berusia 9th sempat bertanya,

"Kenapa anak-anak Palestina itu gak diajak keluar aja sih dari sana? Kan kasian udah gak punya ibu bapak. Tinggal di tenda pengungsian."

Buat saya di sinilah kesempatan untuk menjelaskan panjang lebar tentang banyak hal terbuka lebar. Mulai dari hukum yang berlaku, kekhawatiran human trafficking, mempertahankan tanah air dan lainnya.

Okey, selamat menonton ya. Dan bagi Anda yang memutuskan untuk tidak menonton karena menganggap bioskop itu haram, saya sangat menghargai pilihan itu. Tapi please hargai karya anak bangsa untuk menontonnya secara legal entah itu di televisi jika ditayangkan nanti atau di channel YouTube official nya.

Salam hangat, 
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search