Adil Melihat Poligami

- September 07, 2019



Adil Melihat Poligami
Oleh: Ustadz Abrar Rifai

Seruannya itu, “...Nikahilah perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat. Tapi jika kalian takut tak bisa berlaku adil, maka cukup satu saja!” (QS. 4: 3)

Perhatikan ayat di atas, disuruh menikahi dua orang perempuan, tiga atau empat. Baru kalau memang takut tidak bisa berlaku adil, maka boleh satu saja. 

Sekali lagi perhatikan, ayat di atas tidak berbunyi: “Nikahilah satu perempuan saja. Tapi kalau kalian merasa mampu berbuat adil, maka boleh dua, tiga atau empat.” Tidak. Bukan begitu bunyi ayatnya.

Jadi sampai di sini, clear ya, bahwa pilihan menikahi satu perempuan itu adalah pilihan terakhir, ketika kita memang merasa takut untuk tidak bisa berlaku adil. Maka, kemudian banyak yang berkeyakinan bahwa mereka yang punya satu istri saja, adalah lelaki penakut. Realitasnya memang begitu. Jujur saja!

Kemudian ada yang menyoal, bahwa pada ayat 129, masih di surat Annisa`, Allah menegaskan, “Wa lan tastathi'u an ta'dilu bainanisa`i walau harashtum = Dan kalian tidak akan bisa berlaku adil antara beberapa istri. Walau kalian telah sungguh-sungguh melakukannya...” 

Dengan ayat ini para penolak poligami berdalih, bahwa karena lelaki tidak akan pernah bisa berbuat adil, maka menikah itu cukup satu saja. Sungguh dalih tersebut adalah satu kesalahan. Sebab adil yang dimaksud  pada ayat ini adalah urusan hati. Yakni, terkait cinta dan kecenderungan hati. 

Sedang adil yang disebutkan pada ayat 3, sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini adalah berarti nafkah dan giliran. Jadi makna adil antara ayat 3 dan ayat 129 tidak bisa saling dibenturkan satu sama lain. Karena ia adalah dua hal yang berbeda. 

Baiklah, sekarang mari kita cari tahu penyebab sebagian besar lelaki lebih memilih monogami, padahal itu adalah pilihan terakhir. 

Yang pertama harus kita pahami bahwa menikah itu hukum asalnya bukanlah suatu kewajiban. Tapi menikah bisa menjadi beberapa hukum: Wajib, sunnah, makruh dan haram. Tergantung situasi dan kondisi yang bersangkutan.

Islam memang menyeru para lelaki untuk menikah, tapi tidak sampai mewajibkan. Sebagaimana seorang ibu menyuruh anaknya yang kehausan untuk minum jus apukat, jus mangga, jus apel dan jus tomat. Kalau anak tersebut, ketika sudah minum jus apukat sudah merasa cukup, hausnya sudah hilang dan tidak mau minum lagi jus yang lain, ya gak apa-apa. Tapi kalau empat jus itu mau diminum semua, ya gak apa-apa juga. 

Begitulah seruan Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallama, “"Wahai para muda, sesiapa yang sanggup menikah, maka lakukanlah. Tapi bagi yang tidak mampu, berpuasalah. Karena puasa itu lebih bisa menjaga pandangan dan menundukkan kemaluan.” Perhatikan, pada hadis ini Rasulullah hanya menyeru. Tidak mengharuskan. 

Walau seruan sebagaimana pada ayat 3 surat Annisa`, disuruh menikah dua, tiga atau empat, tapi pada kenyataannya, orang melakukan akad nikah berawal satu dulu, tidak sekaligus dua, tiga atau empat. 

Kalau seorang lelaki telah menikah dengan seorang perempuan, kemudian ia sudah merasa tenang (sakinah) dengan satu istri tersebut, tidak ada lagi kebutuhan dirinya untuk menikah lagi. 

Tapi kalau ternyata dengan satu istri, ketenangan tidak terpenuhi: mata masih jelalatan, pikiran masih ngeres, melihat rumput tetangga lebih hijau dan gangguan-gangguan lainnya, maka tetap diperbolehkan untuk lanjut lagi ke dua, tiga dan maksimal empat. 

Jadi menikahi empat wanita, tiga, dua atau cukup satu saja, semuanya tergantung keadaan diri, terkait finansial dan biologis. Seorang lelaki yang tidak berpoligami, di akhirat tidak akan pernah dipersoalkan, karena ia tidak melakukan seruan yang hukumnya mubah ini. 

Sebaliknya, seseorang yang karena kebutuhan biologisnya, mengharuskan ia berpoligami, pasti akan dimintai pertanggungjawaban, apakah ia sudah berlaku adil terkait nafkah dan giliran? Ingat ya, nafkah dan giliran. Bukan hati dan cinta! 

Sekali lagi, pilihan empat, tiga, dua atau satu, itu adalah pilihan suka-suka. Termasuk juga perempuan yang memilih jadi yang ke dua, ke tiga, ke empat atau yang pertama, itu adalah pilihan. Pun, perempuan yang maunya hanya menjadi satu-satunya, tidak mau diduakan, ditigakan dan diempatkan, itu pun adalah pilihan. 

Jadi ibarat durian, yang suka durian jangan sampai ngatain bodoh pada yang tidak suka durian. Pun yang tidak suka durian, jangan sampai berkampanye bahwa durian itu tidak enak. Karena pada kenyataannya durian itu enak, terlepas memang tidak semua orang sanggup membeli durian, karena harganya yang mahal. []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search