Kisah Menguras Air Mata Akhir Hayat Rasulullah

- September 11, 2019


Sepulang Rasulullah Saw dari berhaji pada tahun 632 M, usia baginda telah memasuki 63 tahun, terlihat letih wajah beliau memikirkan keadaan umat, beberapa uban tumbuh di rambut dan jenggotnya, kondisi kesehatan baginda al-Musthafa sudah mulai berkurang.

Memasuki bulan Muharram tahun 10 kenabian, baginda sudah mulai sakit-sakitan. Berlanjut pada bulan Shafar dan bulan Rabi'ul Awwal, kesehatan beliau kian menurun. 

Puncaknya, saat Rasulullah terbaring sakit dirawat di rumah Sayyidah Aisyah radhiyallahuanha. Baginda mengalami panas yang sangat tinggi dan tak kunjung turun. Fathimah, putri tercinta setia mendampingi sang ayah tercinta. 

Menjelang sore hari, seseorang mengetuk pintu, dan dibuka oleh Fathimah. Orang yang tak pernah dilihat wajahnya oleh Fathimah itu meminta izin bertamu dengan Rasulullah. Alasan kesehatan yang tidak memungkinkan bertamu, Fathimah menolak kedatangan orang tersebut.

Namun, Rasulullah membiarkan agar orang itu diterima. Orang itu masuk, mencium kepala Rasulullah, sembari berbisik mengucapkan sesuatu, lalu beranjak meminta izin untuk pergi meninggalkan rumah Nabi.

Usai kepergiaan orang itu, Nabi Saw memberitahukan bahwa tamunya itu adalah malaikat Izrail yang menyerupai seorang manusia. Dia menanyakan kepadaku kapan kesiapanku untuk bertemu Rabbku. Kukatakan padanya aku telah siap bertemu dengan-Nya.

Fathimah yang mendengar penuturan Rasulullah menangis sesegukan. Maknanya, Rasulullah tidak akan lama meninggalkan dunia yang fana ini. Kemudian, Rasulullah membisikkan sesuatu di telinga sebelah putrinya yang membuat Fathimah tersenyum.

Aisyah yang memperhatikan perubahan raut wajah Fathimah bertanya, apakah yang telah dikatakan oleh Rasulullah. Fathimah menjawab bahwa dirinya dijadikan Allah sebagai pemimpin paea wanita di surga dan tidak akan lama lagi akan menyusul ayahnya.

Benar saja, kondisi Rasulullah kian mengkhawatirkan para sahabat. Meski dengan ikatan di kepala, Rasulullah tetap memaksakan mengimami shalat berjama'ah maghrib. 

Pada waktu shalat Isya, Rasulullah tak kunjung keluar, hingga para sahabat yang menunggu hingga tengah malam menangis sesegukan. Rasulullah memerintahkan Abu Bakar menjadi menjadi imam. Namun, Aisyah menyarankan agar bukan ayahnya, Abu Bakar, sebab Abu Bakar orang yang paling mudah menangis ketika shalat.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain, Abu Bakar tetap diminta menjadi imam. Abu Bakar mengimami para sahabat. Rasulullah keluar dengan dipapah oleh Sayyidina Abbas dan sayyidina Fadhl. Rasulullah shalat di belakang Abu Bakar.

Menjelang Subuh, Rasulullah lama baru keluar. Rasulullah perintahkan Abu Bakar menjadi imam. Rasulullah shalat di belakang Abu Bakar. 

Pada pagi menjelang siang, para malaikat telah turun membentangkan sayap-sayap mereka menyambut kedatangan Rasul termulia menuju hadiratnya. Malaikat Jibril hadir. Namun, lantaran tak tega menyaksikan Rasulullah meregang nyawa, Jibril memalingkan wajahnya saat baginda dicabut rohnya.

"Duhai Jibril, apakah engkau memalingkan wajahmu?!!"

"Tidak ya Rasulullah! Aku tidak tega menyaksikan kekasih Allah menghadapi sakratul maut yang menyesengsarakan!"

Kemudian Rasulullah berdoa, "Allahumma hawwin sakratul maut 'ala ummati!"

"Ya Allah, ringankanlah dan permudahlah sakaratul maut atas umatku!"

Atas doa Rasulullah itu, maka sakaratul yang dihadapi oleh umat Rasulullah tidak sedahsyat dan sepedih yang dihadapi umat terdahulu. Rasulullah yang telah menanggungkan rasa sakratul maut itu tak sepedih dan seperih sebelumnya.
   
Maka, pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal, bertepatan 8 Juni 632 M, Rasulullah wafat sebagai manusia termulia di mula bumi menutup tugas kenabiannya pada usia 63 tahun.

Di akhir hayat beliau masih mengingat dan memanggil-manggil kita, "Ummati.. Ummati.. Umatku.. Umatku!"

Sementara yang lain akan meninggalkanmu, sedangkan Rasulullah akan selalu mendampingimu, seberapa besar rindu pada baginda al-Mushtafa?

*Tuan Guru. Dr. Miftah el-Banjary
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search