Mewaspadai Upaya Mereduksi Istilah Santri dan Pondok Pesantren Melaui Film

- September 18, 2019


UPAYA MEREDUKSI ISTILAH "SANTRI" & "PONDOK PESANTREN" MELALUI FILM?

Oleh: Ust. DR. Miftah el-Banjary

Pesantren berasal dari kata "Santri" atau tempat yang bersifat kesantrian. Santri terambil dari bahasa Sansakerta, yaitu "Shantri" yang berarti orang yang mempelajari kitab suci. Terma ini merupakan istilah asli dari Nusantara. (Baca penelitian Dholpier)

Sedangkan "Pondok" terambil dari bahasa Arab "Founduq" (baca: فندوق) yang berarti asrama atau tempat tinggal. Istilah modernnya disamaartikan dengan hotel. Istilah diperkirakan sudah muncul dan dipergunakan populer di Nusantara sejak abad ke-17 oleh para pedagang Arab.

Oleh karena itulah, mengapa istilah "Pondok Pesantren" dan "Santri" hanya ada di Nusantara dan tidak kita temukan pada lembaga pendidikan serupa di negara-negara Timur Tengah, semisal Arab Saudi, Mesir, Yaman, Maroko dan lainnya.

Pada lembaga-lembaga keilmuan Islam di Timur Tengah, kita hanya mengadopsi istilah-istilah Arab (baca: Mu'arrab) seperti: Halaqah, Madrasah, Ma'had, Jami'ah, Zawiyyah, Majlis Ta'lim dan semisalnya yang kemudian populer dengan istilah yang kita pergunakan hari ini, seperti: "Madrasah Tsanawiyyah", "Ma'hadz Islamy", atau "Jami'ah Islamiyyah".

Pondok pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan Islam kultural dan tertua di Nusantara ini yang telah melembaga sejak abad ke 18 M, bahkan lebih awal lagi.

Pondok pesantren dan santri sangat identik dengan aktivitas keilmuan mengkaji keilmuan agama Islam dari karya-karya para ulama (kitab turats/kitab kuning klasik) yang ketika itu banyak berkiblat pada para ulama Hijaz (sebelum dikenal sebagai Arab Saudi) melalui jaringan ulama Nusantara yang belajar di Makkah, Madinah, dan Mesir.

Pada masa kolonial, Pondok Pesantren berperan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan melahirkan para ulama serta pejuang yang menggelorakan semangat anti-penjajahan.

Hingga masa post-kolonial, pesantren tetap teguh mempertahankan sisi kulturalnya dalam mempertahankan kearifan lokalnya dalam menjawab dan merespons tantangan keislaman modern tanpa mereduksi nilai-nilai Islam kulturalistik dengan ciri khas karakteristik kepesantrenannya yang unik dan fleksibel, relevan dan moderat.

Sampai hari ini, di tangan dingin para ulama, pondok pesantren tetap mampu unggul sebagai lembaga pendidikan kultural, namun juga sekaligus mampu merespons tantangan zaman kekinian.

Namun, di tangan para penggiat pengusung pemikiran liberalisme yang menggeliat menyusup ke dalam dunia pesantren telah mampu berhasil menggoyahkan pondasi yang telah dirancang oleh para ulama pendahulu secara fundamental.

Upaya-upaya penggiringan opini dalam rangka "mempreteli" profan (baca: kesakralitasan) sistem pendidikan Islam fundamental itu telah nyatanya berupaya mendobrak kemapanan Islam kultural dengan berbagai media publik, seperti sinema dan dunia perfilman.

Masih ingat, film "Perempuan Berkalung Surban" di tahun 2009 yang mengkritik tradisi dunia pesantren yang dicitrakan semacam "kaum puritan" yang mempertahankan status qou "Penjara Suci" yang mengekang serta merendahkan hak-hak perempuan muslimah untuk bisa setara maju dengan kaum pria.

Selanjutnya, masih banyak film-film bertemakan tema serupa dengan pesan-pesan sinematik yang tak jauh berbeda yang diangkat ke film layar lebar, meski kontraversialnya tidak semuanya mampu mengemuka muncul ke ruang publik, bahkan film itu "layu" sebelum "berbunga".

Upaya mendiskreditkan pondok pesantren atau mereduksi istilah santri itu sendiri mulai terlihat pada film "The Santri" yang berupaya menampilkan sisi-sisi kehidupan yang sejatinya yang berbanding terbalik dengan realitas aslinya, seperti hubungan pergaulan bebas antara santri-santriwati. 

Apakah ini salah satu bentuk upaya propaganda melemahkan sistem pendidikan Islam? Wallahu 'alam.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search