Gelisah Tak Karuan, Korban Selamat Tragedi Wamena: Jantung Mau Copot

- Oktober 04, 2019


Senin (23/9/2019)  pukul 8 pagi waktu Indonesia Timur. Motor saya sudah terparkir rapi di parkiran dosen kampus STISIP AMAL ILMIAH YAPIS WAMENA. Saya siap untuk mentransfer ilmu pada mahasiswa.

Ada sekitar 40 lebih mahasiswa yang sudah siap di dalam kelas, duduk dengan rapi. Sembari saya memanggil nama untuk daftar kehadiran hari itu.

30 menit kemudian henpon saya berdering. Ada panggilan masuk dari kawan saya, Irmayani Misrah.  "Dek posisi dimana? Apa tidak dengar suara tembakan dimana mana. Ini di depan rumah saya orang sudah berlarian berhamburan... Amankan diri." katanya.

Sontak saya menuju ruang rektorat menyampaikan hal tersebut pada teman lain. Saya lalu kembali ke kelas dan sampaikan bahwa ibu tidak bisa mengajar hari ini. Saya keluar dan mahasiswa pun berhamburan keluar kampus.

Gelisah, jantung mau copot rasanya. Terdengar teriakan massa dan suara tembakan dimana-mana. Ya tuhan apa ini.. Apa lagi.

Kami (saya dan dosen lain: Bu Nuraini. Bu Hasriani, Bu Susi, Pak Agus, Fadli,  Pak Noh,  Pak Andus, Ibu Telly, Bu Tatik) mengamankan diri pada salah satu ruang di rektorat lantai atas. Kami menyaksikan dari ketinggian, asap-asap mulai muncul, titik api yang awalnya hanya satu dalam sekejap mulai menjadi 7 titik api.

Gemetar tidak karuan. Begitu banyak massa dan begitu brutal membakar dengan memegang senjata tajam di tangan mereka, baik itu panah, parang, tombak dan lain-lain. Seketika saya menelfon rekan dan saudara untuk meminta pertolongan penjemputan kami di kampus yang kondisinya dalam bahaya. 

Tidak satu pun aparat bisa menerobos masuk ke lokasi kampus kami. Massa semakin banyak dan brutal menuju arah kampus dan akan membakar. Tanpa pikir panjang, daripada mati konyol, kami lari menuju salah satu kelas yang berada di ujung belakang untuk mengamankan diri.

Namun massa mulai menerobos kampus dan memecahkan kaca, membakar motor dan mobil di parkiran.

Saya memutuskan melompat jendela kelas untuk menyelamatkan diri dari incaran massa.

Terjatuh, merayap melewati pagar kawat, rawa dan kebun-kebun. Masuk ke rumah warga di belakang kampus lalu bersembunyi di dalam honainya. [Errisa Dwisand]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search