Sebab Kemunduran Ummat Islam

- Oktober 28, 2019
Dr Miftah el-Banjary bersama Habib Abdurrahman Asseqaf Mesir 2008 


Sebab Kemunduran Ummat Islam
Oleh: Ust. Miftah el-Banjary

Dulu pada kisaran tahun 2008 yang lalu, kami seringkali menghadiri Majelis Pembacaan Shalawat "Dhiyaaul Lamie" yang dipimpin oleh Habib muda Ahmad Asseqaf di kawasan Husien, Cairo setiap malam Jum'at. 

Usai pembacaan shalawat, biasanya ada tausiah yang biasa disampaikan oleh Habib yang lebih senior Habib Abdurahman Asseqaf. Penyampaian tausiah beliau sangat sederhana dan mudah untuk dipahami.

Diantara salah satu tausiah Habib Abdurrahman Asseqaf yang paling berkesan dan saya tetap ingat sampai hari ini adalah apa yang beliau sampaikan tentang kisah Rasulullah pada peperangan Uhud.

Pada perang Uhud itu, kata beliau, sebenarnya umat Islam masih sangat berpotensi mencapai kemenangan sebagaimana peperangan Badr. 

Oleh karena itulah, sejak awal peperangan itu dimulai kaum muslimin merasa sangat optimis akan mencapai kemenangan gemilang, meskipun jumlah kaum kafir Quraisy tiga kali lipat banyaknya dari jumlah pasukan kaum muslimin.

Hampir tak ada kekhawatiran dan ketakutan yang mereka rasakan, sebagaimana yang dirasakan saat menghadapi perang pertama dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit, persenjataan yang terbatas serta pengalaman perang yang minim.

Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin perang yang memiliki penguasaan medan peperangan sekaligus kemampuan dalam memanajemen strategi perang terbuka sangat peka terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi di tengah medan peperangan. 

Terlebih medan pada peperangan kedua ini, berbeda kondisi geografisnya dengan perang pertama, peperangan Badr yang masih pada dataran rata gurun pasir yang tidak berbukit.

Pada peperangan kedua mengambil medan yang berbukit dan tidak berpasir. Tentu, kondisi medan akan sangat menentukan strategi jitu yang diambil. 

Harus ada basis pertahanan yang sangat efektif untuk bisa bertahan serta posisi strategis yang berpeluang besar untuk bisa melakukan penyerangan yang lebih menguntungkan. Maka, pasukan pemanah lah yang paling memiliki peran yang sangat dominan.

Sebab, kekuatan pasukan pemanah memungkinkan penyerangan jarak jauh yang dapat memecahkan pasukan penyerang dari front depan. Serangan hujan anak panah dapat menahan laju serangan musuh untuk bergerak maju. 

Regu infanteri pasukan ahli panah semacam penembak sniper jarak jauh memiliki tugas dan peranan sangat signifikan dan sangat menentukan dalam pertahanan perang Uhud. 

Oleh karena itulah, Rasulullah telah mewanti-wanti agar para pasukan pemanah tidak lengah dalam kondisi apapun, jangan pernah meninggalkan pos utama, sebelum peperangan usai, lawan telah terkalahkan, dan kemenangan benar-benar telah berpihak pada kaum muslimin.

Pada awalnya mereka mendengarkan serta mentaati perintah komandan tertinggi perang, Rasulullah saw. Peperangan pun hampir mencapai kemenangan. Pasukan pemanah dengan gesitnya menghujani pasukan musuh dengan anak panah, sehingga pasukan musuh dengan mudah dipukul mundur.

Musuh mundur. Mereka berlarian menyelematkan diri. Pasukan kaum muslimin mengejar dan menghalau dengan penuh rasa kemenangan. Mereka juga berebut harta rampasan perang yang sejatinya merupakan harta kaum muslimin yang dulunya diambil oleh kafir Quraisy Mekkah.

Melihat kemenangan mulai berpihak pada kaum muslimin, harta rampasan perang mulai ramai diperebutkan, di sana lah pasukan pemanah yang melihat dari sudut atas pos mereka juga ikut tergiur dan terpengaruh untuk ikut berebut harta rampasan perang itu.

Mereka berlarian turun ke bawah meninggalkan pos-pos mereka, dan melupakan perintah Rasulullah untuk tidak meninggalkan pos mereka dalam situasi dan kondisi apa pun, sebelum peperangan telah usai dan kemenangan benar-benar telah dimenangkan kaum muslimin. Perintah itu mereka lupakan dan abaikan. 

Tak disangka, saat melihat basis pertahanan kosong, seorang panglima pasukan musyrikin Mekkah yang jenius, Khalid bin Walid yang ketika itu belum memeluk Islam, melihat kekosongan basis pertahanan itu sebagai peluang untuk melakukan penyerangan balik.

Dengan keahlian strategi perangnya, Khalid bin Walid yang memimpin pasukan berkuda, meskipun hanya berjumlah ratusan orang pasukan dapat kembali menghimpun kekuatan melakukan serangan balik dari arah balik bukit rummah; bukit pemanah.

Serangan yang tak pernah diduga kaum muslimin sebelumnya itu, tentu saja mengejutkan sekaligus membuat panik pasukan kaum muslimin yang tengah terkonsentrasi pada panen harta rampasan perang di bagian bawah medan perang.

Dengan mudahnya, pasukan Khalid bin Walid memgambil alih kekuatan. Keadaan berbalik 180 derajat. Dari arah atas bukit, pasukan berkuda melakukan serangan balik meluncur secepat kilat, sedangkan dari arah hadapan, pasukan kafir Quraisy yang semula berlarian mundur juga berbalik melakukan serangan balasan.

Dalam kondisi seperti itu, pasukan kaum muslimin terdesak dan terpaksa menyelematkan diri. Kaum muslimin terkepung dan harus mundur. 

Ditambah propaganda pihak munafikin yang menyusup serta menebarkan isu terbunuhnya Rasulullah menambah keadaan semakin panik, semangat kaum muslimin melemah.

Rasulullah sendiri terluka. Gigi beliau patah. Paman beliau Hamzah bin Abu Abdul Muthalib terbunuh oleh Wahsyi, budak hitam milik Hindun. Sebanyak 70 orang syuhada Uhud wafat terbunuh dalam peperangan tersebut.

Al-Qur'an pun turun memberikan pesan dan kesan peperangan itu dalam surah at-Taubah. Intinya pesannya, bahwa kekalahan umat Islam bukan disebabkan jumlah pasukan kaum muslimin yang sedikit, namun dikarenakan mereka menyalahi dan mengabaikan perintah Rasulullah saw.

Jadi, pada konteks hari ini, penyebab kemunduran umat Islam, bukan disebabkan pada jumlah, tapi pada kualitas. Jumlah kaum muslimin mayoritas. Ada sekitar 1,4 milyar jumlah kaum muslimin di dunia. Namun, pengaruhnya tidak sampai pada 0,1% terhadap perubahan dunia ini.

Bahkan, kaum muslimin menjadi sasaran dan serangan tuduhan sebagai pelaku terorisme dan radikalisme, sementara pada pihak kaum muslimin lainnya ada yang terpapar dan terjangkiti hedonisme, sekulerisme, komunisme dan liberalisme. 

Semua itu merupakan penyebab dari kekalahan umat Islam hari ini. Penyebab utamanya adalah mereka meninggalkan ajaran dan sunah-sunah Rasulullah saw. 

Jika umat Islam ingin kembali mencapai kemenangan dan kegemilangan, maka umat Islam harus kembali menghidupkan ajaran dan sunah Rasulullah saw.


Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search