Sejarah Rumah Maulid Nabi Muhammad SAW

- November 09, 2019


Sejarah Rumah Maulid Nabi Muhammad SAW
Oleh: Ust. Dr. Miftah el-Banjary, MA

Malam itu 'Arasy bergoncang hebat, Kursi bertambah kehaibahannya, alam semesta bertabur cahaya, para malaikat gemuruh bertasbih, berzikir, bersuka cita menyambut kelahiran Sang Pembawa Cahaya, pembawa rahmat bagi sekalian alam.

Malam itu, sebagaimana yang dikisahkan oleh ummu Salamah, tersingkap cahaya terang menerangi kota Makkah dari Timur ke Barat, hingga tampak singgasana imperium Romawi dan Persia, negara adikuasa saat itu.

Kelahiran sosok agung, manusia termulia di muka bumi, pada malam bertabur bintang-bintang, pada malam bertepatan 12 Rabiul Awal 52 sebelum peristiwa hijrah atau 22 April 571 M di kota Makkah, di sebuah rumah kecil berukuran 10x18 M itu yang tak jauh dari Ka'bah di kawasan bernama Syib Ali.

Rumah kecil itulah yang menjadi saksi sejarah kelahiran seorang makhluk terbaik yang pernah diutus ke muka bumi ini, seorang yang tak pernah berdusta selama hidupnya, seorang anak yatim yang tak pernah mengeluhkan penderitaan hidupnya, seorang al-Amin yang sangat jujur dan terpercaya.

Rumah itu kemudian diwarisi oleh Aqil dan Thalib, putra Abu Thalib yang masih belum beriman saat Nabi Saw meninggalkannya hijrah ke kota Madinah. 

Pada masa kekhalifahan Abbasyiah, rumah itu dibeli oleh seorang permaisuri bernama Khaizuran bin 'Atha (w. 173 H.), istri Khalifah al-Hadi dan sekaligus ibunda dari Khalifah Harun al-Rasyid.

Di atas rumah atsar mulia itu pernah dibangun masjid. Dan pada masa itu, pernah diadakan penyelenggaraan peringatan Maulid Nabi pertama kali dalam sejarah Islam pada setiap bulan Rabi'ul Awwal di abad ke-2 Hijriyyah.

Selanjutnya, masjid yang pernah berdiri di atas atsar mulia itu, dihancurkan oleh Walikota Makkah, Syekh Abbas Qathan di tahun 1370 H atau pada tahun 1950 M. Kemudian di atasnya dibangun sebuah bangunan Perpustakaan Umum yang menyimpan berbagai koleksi kitab-kitab ilmu keagamaan keislaman yang hanya dibuka pada beberapa moment tertentu saja.

Kini, bangunan bersejarah itu masih bisa disaksikan dan dikunjungi yang jaraknya masih berdekatan dengan sekitaran area perluasan Masjidil Haram di kawasan Suq Lail atau Syeib Ali dari arah pintu keluar masjid yang menuju kawasan Ajyad.

Jika kalian punya kesempatan berhaji atau umrah, maka jangan lewatkan kesempatan emas untuk mengunjungi atsar bersejarah itu untuk sekedar mengambil i'tibar dan pelajaran sejarah bahwa di sanalah Rasulullah Saw pernah dilahirkan, dibesarkan serta mengawali perjuangan dakwahnya, hingga ajaran risalahnya sampai pada kita hari ini. 

Agar bertambah pula, rasa kecintaan serta kerinduan hati kita pada sosok agung kekasih tercinta Sayyidil Musthafa Shallallahu alaihi wassalam. Silahkan share jika bermanfaat. Mari ajak sahabat-sahabatmu untuk belajar sirah Rasulullah dan membagikan rasa cinta ini pada setiap pribadi pengagum dan perindu al-Musthafa Saw.[]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search