Pelajaran Angka Hunain

- Desember 02, 2019


PELAJARAN ANGKA HUNAIN
Oleh: Rendy Saputra
Direktur Sulaiman Institute

Terjadi pada bulan Syawal tahun 8 Hijriah. Selang beberapa pekan dari peristiwa Fathu Makkah. Dimana 10.000 pasukan kaum muslimin berhasil melakukan penaklukan besar atas Quraisy di Makkah. Tanpa perlawanan. Tanpa pertumpahan darah. Kafir Quraisy langsung menyerah.

Penaklukan Makkah kemudian menyeret kabilah-kabilah di sekitaran Makkah untuk kemudian berbai'at menyerahkan ketaatan kepada Rasulullah. Tunduk kepada Islam. Tapi tidak dengan Bani Tsaqif dan Bani Hawazin di Thaif.

Kedua bani tersebut menyeloroh, "Muhammad bisa menang atas Quraisy, karena mereka belum mencoba menyerang kita. Kita serang saja Muhammad. Biar mereka merasakan kekuatan kita."

Intelejen kaum muslimin mendapatkan informasi akan rencana penyerangan ini. Makkah yang baru ditaklukan sangat rentan mendapat serangan, jangan sampai musuh masuk ke dalam kota. Mereka yang baru masuk Islam bisa goyah berbalik murtad.

Maka diputuskanlah menghadang pasukan Bani Hawazin Dan Bani Tsaqif. Sebelum masuk ke Makkah.

Bergeraklah 12.000 pasukan kaum muslimin. Menghadang musuh. Angka yang cukup besar. Sebuah kampanye perang besar yang dilakukan. Ada euforia kemenangan. Dilanjutkan perasaan aman dengan jumlah.

Pada Fathu Makkah, 10.000 pasukan Rasululllah shallahu'alaihi wassalam menempuh 500 km lebih dalam 10 hari perjalanan. Jarak Madinah ke Mekkah.

Sedangkan di Perang Hunain ini, 12.000 pasukan kaum muslimin menempuh 4 hari perjalanan untuk sekedar jarak 20 km. Pergi 6 Syawal, dan sampai 10 Syawal. Indikasi merasa bisa menang mudah. Indikasi mulai santai.

Maka dampaknya, Bani Tsaqif dan Hawazin berhasil menduduki posisi diatas lembah. Dengan menempatkan banyak ahli pemanah.

Benar saja, begitu kaum muslimin menuruni lembah, serangan mendadak mencederai sebagian besar kaum muslimin. Pasukan kocar kacir. Kecuali Rasulullah dan beberapa sahabat terpilih.

Inilah yang menjadi Asbabun Nuzul ayat ke-25 dari surah At Taubah :

لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡـٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ

Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-langgang. (Surah At Taubah : ayat 25)

Idz a'jabatkum katsrotukum, ingatlah ketika ada rasa berbangga atas banyakmu. Ingatlah ketika kamu berbangga atas jumlah banyakmu.

Falam yughni ankum syai'an, maka tak berguna atasmu sama sekali. Maka jumlah banyak itu sama sekali gak ada pengaruhnya untukmu.

Jumlah pasukan sebesar itu ternyata tidak berguna sama sekali. Kaum muslimin lari tunggang langgang. Walaupun pada akhirnya Rasulullah kembali berhasil melakukan konsolidasi cepat atas pasukan. Tapi itu kita bahas pada tulisan berikutnya.

*****

Percaya diri atas sebuah proses perjuangan itu harus. Tetapi ketika merasa terjamin menang gegara memiliki banyak perbekalan atau hebatnya pasukan, ini yang masalah.

Didalam aktivitas bisnis juga demikian. Mengapa perusahaan besar relatif stagnan dan gagal mengukir kembali prestasi seperti dahulu kala? Karena ada jebakan angka pada hati manajemen.

Kami perusahaan besar.
Kami memiliki modal kuat.
Kami meng-hire SDM handal.
Kami punya pengalaman.
Kami tak mungkin tergoyahkan.

Perasaan bangga atas besarnya angka ini ternyata bukanlah adab seorang muslim. Allah azza wa jalla telah memberikan kita pelajaran pada Hunain, bahwa "angka besar" itu gak ada gunanya untukmu.

Pada akhirnya konsolidasi pasukan berikutnya hanya melibatkan sedikit sahabat dari golongan kaum muslimin. 12.000 pasukan ambyar begitu saja. Tinggal sedikit yang tersisa.

Itulah pelajaran besar yang harusnya kita renungkan.

*****

Perasaan besar tak terkalahkan menghinggapi perusahaan transportasi taksi. Merasa memiliki puluhan ribu armada, puluhan ribu supir, ratusan nilliar asset.

Hadirlah perusahaan yang dianggap kecil. Tak memiliki apa-apa kecuali platform digital. Hadir menyelinap senyap. Lalu menghantam perusahaan besar dalam hitungan bulan. Taksi Online menghantam raksasa. Tumbang sekejap.

Begitu juga dengan restoran-restoran besar yang merasa nemiliki brand dan jaringan. Merasa memiliki rantai pasok yang tak terkalahkan. Merasa di puncak kuasa.

Saat ini harus gigit jari dengan "Ghost Kitchen". Dapur bayangan yang tersembungi di gang-gang. Melayani customer dengan ojeg online. Restoran besar mulai merasakan degradasi penjualan. Gigit jari. Perih.

Banyak lagi cerita perusahaan besar yang terjebak dalam mental angka yang menjebak. Merasa besar dan aman ternyata buaian. Hilanglah kewaspadaan, hilanglah keseriusan, mulai lah meremehkan lawan, akhirnya berantakan.

Maka, bagi sahabat yang sekarang merasa besar dengan modal dan kekuatan cash, jagalah hati agar tak berbangga.

Dan bagi sahabat yang merasa tidak memiliki perbekalan yang cukup, janganlah berkecil hati, karena kemenangan tidak selalu berkolerasi dengan logistik yang engkau miliki. Kemenangan itu karunia Allah atas iman yang jernih di hati. Teruslah berjuang.

Semoga kita bisa belajar banyak dari Perang Hunain. Belajar dari shiroh nabawiyah. Belajar dari tarbiyah Al Quran.

******

Silahkan copaste dan forward tulisan ini ke jejaring sahabat Anda. Semoga manfaat.

Kang Rendy Business Notes,
02 Desember 2019

Subscribe: http://bit.ly/gabungkrbn
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search