Bantah Framing Jahat Tirto kepada Pangeran Diponegoro, Ustadz Salim Paparkan Fakta Sebenarnya!

- Februari 24, 2020


tarbawia.net - Media nasional Tirto.id mengunggah artikel bernada framing jahat terhadap Pangeran Diponegoro. Tirto menyebut Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro sebagai sebuah sejarah kelam dan penuh kebencian kepada etnis China. 

Membantah framing Tirto, Ustadz Salim A Fillah yang merupakan penulis novel Pangeran Diponegoro menyampaikan fakta yang sebenarnya!

***

DIPONEGORO, TIONGHOA, DE EL EL
Pembanding untuk Framing Media
@salimafillah

Apakah Pangeran Diponegoro sosok yang sempurna?

Sama sekali tidak. Beliau manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tapi sosok ini, hari-hari ini sepertinya sedang dikorek hal-hal pribadinya demi tema tertentu yang seksi. Kalau saja yang mengangkatnya anak muda labil, tentu saya tega menyebutnya 'demi konten'. Sayang; yang melakukannya adalah media yang membawa nama besar Tirtoadhisurjo, lainnya lagi media yang redakturnya digawangi sarjana sejarah.

Framing. Barangkali itu istilah tepatnya.

Misal media kedua pernah menyebut 'Kebiasaan/Hobi' Diponegoro minum anggur. Hobi? Cuma satu kejadian di perjamuan oleh Residen Valck pasca-penangkapan dan itupun bukan anggur yang memabukkan lalu disebut hobi? Diksi yang berbahaya. Ada lagi pelabelan 'Diponegoro dan Wanita-wanita Cantik'; kenyataannya, istri Diponegoro memang banyak, tapi tak pernah lebih dari 4 dalam satu waktu. Dan itu syar'i dibanding bangsawan sezamannya yang mengambil selir tak terbatas.

Zaman berubah dan tidaklah adil mengukur masa itu dengan timbangan zaman kita.

Hari-hari ini, publik disuguhi wacana bahwa Sang Pangeran mengidap Xenofobia (kebencian tanpa dasar pada segala yang asing) dan menyebarkan faham anti-tionghoa hanya karena disebut dalam Babad bahwa beliau menyesali hubungan seksualnya dengan seorang perempuan Tionghoa tawanan perang menjelang pertempuran Gawok. Beliau merasa, itulah penyebab kekalahannya. Wacana ini konon didukung fakta bahwa terjadi pembantaian kaum Tionghoa di Ngawi pada awal Perang Jawa. Lalu disimpulkan, 'Sejak itu, kebencian pada orang Tionghoa kian meluas.'

Mari kita periksa dengan seksama.

Pertama, soal perempuan Tionghoa itu sebenarnya status hukumnya halal dalam kondisi jihad; karena posisinya budak tawanan perang dari kaum yang berpihak pada musuh. Tapi kita tak membahas itu. Diwacanakan seakan Diponegoro menuduh wanita Tionghoa itulah penyebab kekalahannya. Yang betul? Sang Pangeran merasa 'perbuatannya', ingat, 'perbuatannya', dan rasa bersalahnya pada sang istri, Raden Ayu Maduretno-lah yang telah membuatnya kehilangan fokus sehingga kalah di Gawok. Ini soal rasa berdosanya, bukan dengan siapanya.

Kedua, di mana Xenofobia-nya Sang Pangeran kalau justru penasehat yang paling diandalkan dan dicintainya selama perang, justru berdarah Tionghoa? Namanya Pangeran Ngabehi, pamannya sendiri, putra Sultan Hamengkubuwono II dengan istri berdarah Tionghoa bernama Mas Ayu Sumarsonowati. Gugurnya Pangeran Ngabehi dan dua putranya di Sengir telah membuat Diponegoro sangat terpukul dan merasa tinggal sendirian. Dalam Babad, dipilih Tembang Asmaradana yang romantik-melankolik untuk menggambarkan duka itu;

"Sarta mijil wespaneki/rumaos kantun pribadya/lawan ing Tanah Jawane/rumaos tan saged nata/lamun amrih salaminya/mengkana Jeng Sri Nalendra"

Ketiga, media ini mengaburkan fakta penting dengan hanya mengungkap akibat, tanpa menghadirkan sebab. Mengapa Raden Ayu Yudhokusumo memimpin rakyat di wilayah Ngawi menyerang orang Tionghoa? Kebencian rakyat Jawa kepada kaum Cina ini berakar pada beberapa hal penting;

a. Orang-orang Cina yang diserahi menjadi penarik pajak, cukai, dan penjaga gerbang-gerbang jalan memang serakah, kejam, dan bengis sejak beberapa dekade sebelum pecahnya Perang Jawa. Mereka memang gambaran sempurna tentang 'antek Belanda' dan 'antek pejabat pribumi' yang zhalim.

b. Orang-orang Cina ini besar sekali perannya dalam peredaran candu (opium), dari pengawas, penjual, hingga membuka rumah bordil dan tempat mengisap candu yang merusak demikian banyak rumahtangga rakyat karenanya. Saya bisa membayangkan dendam para wanita yang bergabung dengan Raden Ayu Yudhokusumo.

c. Pengkhianatan Tan Jing Sing. Sultan Hamengku Buwono II mengangkat Kapitan Cina ini sebagai Bupati Nayaka dengan gelar Raden Tumenggung Secadiningrat, tionghoa pertama yang meraih gelar itu dalam sejarah. Tapi ketika terjadi penyerbuan Inggris ke Keraton Yogyakarta pada 1812, sang Kapitan justru menjadi penanggung semua keperluan logistik tentara Inggris dan menjadikan rumahnya sebagai pusat kasak-kusuk penggulingan Sultan Hamengkubuwono II.

Pertanyaannya, apakah kaum Tionghoa ini dibenci selama masa Perang Jawa karena Tionghoa-nya sehingga bisa disebut Xenofobia? Tidak demikian agaknya. Yang dibenci adalah pengkhianatan dan kekejaman. Kalau soal asing, toh orang-orang Arab juga orang asing di Jawa ketika itu. Tapi hubungannya dengan orang Jawa sangat baik. Jadi ini sama sekali bukan Xenofobia apalagi anti-Tionghoa.

Alangkah bijaknya Sastrawan Remy Silado yang justru dalam novel Pangeran Diponegoro-nya, 'Menggagas Ratu Adil' dan 'Menuju Sosok Khalifah' menampilkan sosok Tionghoa totok bernama Ong Kian Tong sebagai sahabat akrab Sang Pangeran saat muda, Raden Mas Ontowiryo. Sayapun mengikuti jejak beliau dengan menampilkan tokoh Siauw Cen Kwok, putra angkat Pangeran Ngabehi, sebagai pendukung setia Sang Pangeran dalam buku 'Sang Pangeran dan Janissary Terakhir'.

Isu-isu miring tentang Diponegoro sebagian besar sudah saya jelaskan dalam buku #sangpangerandanjanissaryterakhir (Bisa didapatkan di @aliqa.id atau stand @proumedia di @islamicbookfair). Semoga Shalih(in+at) sempat membacanya.

Kalau memang sudah diniati untuk penggiringan opini, jadinya tidak fair. Parahnya, berani berwacana kontroversial tapi komentar kritikan dari Ust. @zaky_zr di postingan Xenofobia itu direport dan dihapus. Padahal hanya mengingatkan bahwa postingan macam itu berpotensi memecah-belah. Ih. Gitu amat. []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search