Banyak Pemimpin Khianat, TGB Ungkap Ciri Pemimpin Amanah

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi


Meski banyak pihak yang mengakui kesuksesannya dalam memimpin Nusa Tenggara Barat (NTB) selama dua periode, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi tetap memilih kalem dan santun dalam menanggapi pujian tersebut.





"Saya masih belajar untuk menjadi pemimpin. Pemimpin tidak hanya ketika menjadi Gubernur. Semua kita, kata Rasulullah, adalah pemimpin." kata TGB menjawab pertanyaan Aa Gym di Masjid Rahmatan Lil 'Alamin ECO Pesantren Daarut Tauhid Bandung Jawa Barat pada Ahad (1/4/18).

TGB mengingatkan, memimpin adalah menjalankan amanah. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terkait bagaimana kepemimpinannya.

"Maka ada peringatan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, kalau orang mau berusaha menghalalkan segala cara untuk mendapatkan jabatan, maka ketika mendapatkan jabatan, awalnya adalah kesulitan, pertengahannya adalah kesusahan, dan akhirnya adalah penyesalan di sisi Allah SWT." lanjut TGB.

Sebagai seorang Muslim, TGB meyakini adanya dua tanggung jawab saat memimpin. Tanggung jawab kepada manusia dan kepada Tuhan Semesta Alam.





Kepada manusia, seorang pemimpin harus bertanggung jawab kepada rakyat dan pemimpin di atasnya dalam bentuk laporan kinerja. 

"Tanggung jawab kepada manusia dalam konteks amanah. Kalau dalam sistem pemerintahan, tanggung jawabnya kepada atasan. Ada indikator kinerja." terangnya, diiringi senyum khas. (Baca: Respons Non Muslim terhadap Kebijakan Wisata Halal TGB)

 Tanggung jawab di hadapan Tuhan Semesta Alam, kata TGB, jauh lebih berat dan terperinci. Motivasi inilah yang seharusnya dimiliki setiap pemimpin sehingga tidak menjalankan amanah dengan culas.
"Ada hisab yang berbeda, yaitu kontrak kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala." terangnya

"Satu-satunya jalan untuk menghadirkan rasa tanggung jawab adalah ingat bahwa kita tidak hanya berurusan dengan sesama manusia, tapi urusan kita juga dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang tidak akan lenyap selama-lamanya dan Maha Melihat perbuatan kita. Kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita." pungkas doktor Tafsir Al-Qur'an Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini. [Tarbawia]



Diberdayakan oleh Blogger.