Blak-Blakan, Orang Dekat Ungkap Peran Kiyai Ma'shum dalam Perjuangan Umat



Selamat Jalan, Kiai Ma'shum
Oleh: Ustadz Abrar Rifai




Tinggi besar. Badannya kuat dan suaranya keras. Melihat dirinya, kita jadi teringat sosok Sayyidina Umar ra, yang setan saja takut padanya. Pada suatu pertemuan di Pacet, Kiai Muhammad Ma'shum masih bisa melakukan push up hingga berkali-kali (persis hitungannya saya lupa) padahal ketika itu beliau sudah terkena kanker stadium empat.

Kalau tidak salah, terakhir kali saya ketemu beliau pada Januari yang lalu, menejelang pendaftaran Cagub dan Cawagub Jawa Timur. Waktu itu, ketika nama sudah mengkerucut kepada Gus Ipul - Puti dan Khofifah - Emil. Beliau, Kiai Ma'sum masih mengupayakan adanya poros ke tiga melalui PAN, PKS dan Gerindra. Namun blank. Upaya tersebut gagal.

Saya lupa persisnya, sejak kapan saya kenal dengan kiai kaya ini. Yang pasti, saya beberapa kali menyambangi Ponpes Al-Islah, pesantren yang beliau asuh. Pernah sendiri, pernah bersama Teh Pipiet Senja dan pernah juga bersama Mbak Helvy Tiana Rosa. Sambutannya hangat, bersahabat dan menghargai anak muda.

Dalam beberapa kali aksi di Jakarta, Kiai Ma'shum selalu hadir. Tak kira beliau didaulat untuk orasi atau tidak. Aksi-kasi bela Islam telah berhasil menumbangkan Ahok. Bahkan berhasil menyeret dia ke penjara.




Setelah Ahok tumbang, perjalanan aksi bela Islam berlanjut. Rezim ini dianggap tak berpihak kepada ummat. Rezim ini dianggap terlalu pro asing daripada bangsanya sendiri. Maka, Kiai Ma'shum pun tetap ambil bagian untuk berupaya mewujudkan pergantian rezim. Hingga pada Ijtima' Ulama yang lalu beliau tetap hadir. Walau dilarang dokter. Beliau hadir dengan kursi roda dan selang infus yang tidak boleh dilepas.

Disamping menguasai bahasa Arab dan Inggris dengan baik, rupanya Kiai Ma'shum juga cakap berbahasa Mandarin. Kecakapan tersebut beliau peragakan di hadapan para kiai (termasuk Kiai Ma'ruf Amin) saat acara Dialog Kebangsaan di Ponpes Riyadhul Jannah, pimpinan Kiai Mahfudz Saubari. “Lha orang Cina aja paham bahasa kita. Maka, kita pun harus paham bahasa mereka!” tegas Kiai Ma'shum.

Kini kiai pengusaha itu telah pergi. Sekarang kiai pejuang itu sudah meninggalkan kita semua. Namun, motivasi jihad dan anjuran kaya dari beliau akan terus menyala, menjadi suluh ummat Islam Indonesia untuk merengkuh kemuliaannya.

“Abrar, Sampean punya energi propaganda luar biasa dengan tulisan-tulisan Sampean. Teruslah menulis!” pinta Kiai Ma'shum pada saya, di Sidoarjo pada Ramadhan yang lalu, di sela-sela kami berbuka bersama. “Baik, Kiai. Insya Allah!” [Abrar Rifai]

Gabung ke Channel Telegram Tarbawia untuk dapatkan artikel/berita terbaru pilihan kami. Join ke Tarbawia



Diberdayakan oleh Blogger.