Pengungsi Masih Banyak, Relawan Ini Targetkan 1000 Rumah Sementara





Karena Gedeg Adalah Rumah,
Menuju 1000 Rumah Hunian Sementara

(sebuah kearifan lokal nusantara)

Tak terasa sudah nyaris sebulan keberadaan kami disini. Bercengkrama dengan debu dan terik mentari yang sangat terasa menyengat. Namun canda tawa dengan anak-anak di pengungsian membuat itu semua seperti pupus terkena hujan.

Rumah, sebuah kata yang membuat hati para pengungsi selalu nelangsa. Banyak dari mereka bahkan 10 hari pasca bencana masih tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap puing-puing rumah mereka. 

Wahana Muda Indonesia pada awal kedatangan melakukan kegiatan tanggap darurat. Inilah tugas tim advance sebagai penjejak awal langkah kami disini. Masalah Sanitasi dan Air adalah pekerjaan kami pertama dengan membuat MCK dan menyediakan tandon air. Tim ini juga selalu melakukan pembaharuan data dan situasi untuk persiapan tim recovery yang datang menyusul kemudian. Trauma healing juga bagian penting dalam kerja tim advance ini.

Tim recovery di Jakarta melakukan sinergi dengan beberapa pihak untuk persiapan personel yang akan segera terjun. Tim ini pun meluncur dan tepat tanggal 16 Agustus 2018 mulai melaksanakan tugasnya. Assesment merupakan langkah penting dalam mitigasi bencana. Dengan pengalaman anggota tim yang nyaris selalu hadir dalam kebencanaan yang berskala masif membuat proses ini tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat beberapa masalah pokok.

Sinergi dan energi, dua kata yang menjadi perhitungan utama kami. Terlebih WMI adalah organisasi kecil dengan kemampuan yang sangat terbatas. Kalaulah bukan karena pertolongan Allah rasanya ide-ide kami hanya sekedar obrolan  warung kopi.

Dengan prinsip Safe, Service dan Secure akhirnya kami sepakati dengan warga beberapa poin penting seperti MCK, air bersih, pendidikan anak atau trauma healing dan satu pekerjaan yang kami coba inisiasi kepada warga adalah Rumah Hunian Sementara.

Pemilihan ukuran, bahan dan teknis membangun adalah obrolan yang coba kami diskusikan dengan warga. Trauma mereka terhadap gempa membuat mereka takut untuk masuk ke dalam ruangan yang tertutup. Bahkan mereka selalu bercerita tentang rumah tradisional dengan gaya orang tua mereka dahulu. Sejalan dengan pengalaman tim WMI pada gempa Yogya dan keinginan serta inisiatif warga maka terlahirlah konsep RHS menggunakan sisa-sisa puing rumah mereka dan Bedeg/Gedeg/Bilik.

Lalu dimanakah lokasi yang akan dibangun? Maka pilihannya adalah kembali ke lokasi asal mereka. Karena hidup berhimpitan di pengungsian sebagus apapun tenda yang dibangun maka masalah kesehatan dan sosial akan timbul bila terlalu lama mereka di sana.

Akhirnya WMI mencoba melakukan influence dan inisiasi terhadap warga dengan cara kami tinggal berdampingan dan membangunkan contoh 2 unit kepada mereka.

Awalnya banyak warga tidak paham, namun pada hari selanjutnya satu persatu warga berdatangan dan melakukan perbuatan yang serupa. Setelah rumah gedeg terbangun maka banyak warga mencoba merasakan kondisi di dalamnya. 

Nyaman, itulah kesan dan kalimat yang mereka lontarkan setelah merasakan berada didalam RHS yang kami bangun sebagai contoh. Terlebih di dalamnya terdapat sekat ruangan yang dapat menjadi ruangan privasi untuk suami istri.

Kini warga telah berinisiatif sendiri untuk membersihkan puing rumah mereka. Untuk penduduk di pesisir pun WMI melakukan hal yang sama, kami tinggal di perkampungan kosong mereka. Hal ini membuat para pengungsi yang naik ke atas bukit perlahan mau turun.

Mahal? Tidak, dengan inisiasi kepada warga dan menularkan ide kami. Maka WMI sangat bisa menekan budget pembangunan satu rumah. Anggaran kami awalnya sebuah RHS diharga Rp. 3,6jt dapat ditekan maksimal dengan kami hanya menyediakan beberapa lembar bedeg/gedeg/bilik dan triplek saja. Sisanya warga yang sediakan dan bangunkan. Sebuah sikap yang luar biasa dari warga Lombok yang kami temui, mereka malu dan mau bangkit sendiri.

Kini kami sangat optimis dengan pertolongan Allah menggerakkan banyak pihak di sekitar kami dan warga maka dari target 200 rumah kini kami naikkan menjadi 1000 Rumah Hunian Sementara.

Jadi kami WMI dan para korban bencana kini semakin optimis. Tentunya kami ingin tularkan rasa ini kepada Anda semua yang membaca tulisan kami. Lihatlah gambar-gambar dan video yang kami kirimkan langsung dari lokasi terdampak dan rasakan persaudaraan yang luar biasa.

Ingin berpartisipasi ?

Kirimkan donasi Anda melalui rekening

BANK MANDIRI
NO REK: 123 000 736 0276
A.N Yayasan Wahana Muda Indonesia Baru (WMI)

Setelah transfer harap konfirmasi ke 081280030087 []
Diberdayakan oleh Blogger.