Minim Pemberitaan, Kondisi Korban Gempa Lombok Miris dan Memprihatinkan

Puing di Sire Timur, Tanjung, KLU (tarbawia)


Selama dua hari, Sabtu-Ahad (27-28/10/18) Tarbawia berkesempatan melihat langsung kondisi korban gempa bumi di Lombok Barat dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.




Di balik kuatnya masyarakat Lombok, ada fakta miris yang selama ini terkesan disembunyikan oleh pihak-pihak tertentu dan media-media yang penuh kepentingan.

Puing Gempa Masih Berserakan


Jika dihitung dari gempa bumi pertama pada 5 Agustus 2018 lalu, sudah hampir 3 bulan setelah kejadian. Sayangnya, puing-puing gempa masih berantakan.

Puing di Sire Timur. Belum dibereskan karena ketiadaan alat berat (tarbawia)

"Puing-puing masih berantakan karena belum adanya alat berat yang masuk." kata Khoiruman yang menjadi relawan di Sire Timur, Tanjung, Lombok Utara saat ditemui Tarbawia, Sabtu (27/10/18) petang.




Sepanjang perjalanan menuju Lombok Utara dari Lombok Tengah, Tarbawia menyaksikan puing-puing berantakan di pinggir jalan, di sekitar pemukiman warga. 

Puing bekas gempa di pemukiman pinggir jalan menuju Lombok Utara (tarbawia)


Di Sire, penampakan puing kian mengiris hati lantaran kerusakan di pemukiman tersebut sekitar 80 sampai 90 %.

"Saat gempa, masyarakat sini menyelamatkan diri ke gunung. Sekarang sudah turun dan tinggal di posko bersama. Rumah mereka hancur semua." lanjutnya menceritakan.




Simpang Siur Bantuan dari Pemerintah Pusat


Presiden Jokowi telah memberikan rekening bantuan bertuliskan saldo sebesar 50 juta untuk diberikan kepada korban gempa Lombok. 

Korban gempa dan donatur di Posko Bersama Tanjung, Lombok Utara (tarbawia)


Sayangnya, hingga kedatangan Tarbawia di Lombok, belum ada satu pun masyarakat yang menerima bantuan tersebut.




"Belum cair. Rumah saya di Pemenang hancur, sekarang saya jadi relawan di posko Sire." ungkap Said kepada Tarbawia.

Korban gempa bumi di Tanjung, Lombok Utara (tarbawia)


"Belum ada (yang cair)." tutur seorang ibu korban bencana yang rumahnya berada di dekat Masjid Darusaalam Karanglangu, Tanjung, Tanjung, Lombok Utara.

Semakin Tarbawia bertanya kepada masyarakat, semakin banyak kesaksian yang mengaku bahwa bantuan tersebut belum bisa dicairkan. 

"Katanya sedang diproses." ungkap warga lain, berupaya berbaik sangka.




Kondisi Memprihatinkan Ribuan Pengungsi


Ribuan masyarakat terdampak gempa masih berada di tenda-tenda pengungsian. Saat terik, panas menjadi kawan. Ketika dingin, gigil menjadi selimut.

Hanya sedikit masyarakat yang memiliki rezeki untuk kembali mendirikan rumahnya dengan dana pribadi. Sebagian lainnya sudah bisa menempati rumah hunian sementara yang dibangun oleh berbagai relawan.

Rumah semi permanen yang dibangun Relawan AQL Peduli dan Berkah Berjamaah (Tarbawia)


Sayangnya, bentuk rumahnya pun minimalis, tak kalah memprihatinkan. Membuat miris.




Rumah hunian sementara itu terbuat dari dinding terpal dan tiang kayu, sebagian lainnya berdinding gedhek. Hanya sedikit relawan yang mampu mendirikan rumah sementara dengan dinding triplek, atap seng dan rangka baja ringan.
Tenda pengungsi untuk tidur dan belajar santri Pesantren Aziziyah, Gunungsari, Lombok Barat (Tarbawia)


Ribuan pelajar juga harus bersabar. Mereka masih berada di tenda-tenda pengungsian yang terbuat dari terpal.

Di tenda terpal itu mereka tidur. Di tenda itu mereka beraktivitas. Di tenda itu pula mereka belajar.




Harapan Bangkit


Meski amat memprighatinkan dan membuat miris, masyarakat Lombok terlihat kuat. Mereka tetap tersenyum ramah dan menyambut baik setiap tamu yang datang.

Bangunan rusak di Pesantren Aziziyah, Gunungsari, Lombok Barat (tarbawia)


Saat Tarbawia berkunjung, warga menyambut dengan antusias seraya bersalaman dan menceritakan kondisi mereka.

Lombok belum bangkit. Masih butuh uluran tangan kita. Jangan berhenti untuk peduli. Bantu Palu, jangan lupakan Lombok. [Tarbawia]

Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:


Info Donasi/Iklan:

085691479667 (WA)
081391871737 (Telegram)



Diberdayakan oleh Blogger.