Prabowo (Nekat) Shalat Jum'at, Banteng Sekarat!

- Februari 15, 2019

Prabowo nekat shalat Jum'at di Masjid Agung Kauman, Semarang, Jawa Tengah, Jum'at (15/2/19). Prabowo sebagai jenderal tak punya mundur ketika kebaikan sudah direncanakan.




Ia bisa memilih masjid lain. Banyak masjid yang membuka diri dan menerima Prabowo beserta timnya shalat di barisan paling depan. Tapi bukan begitu tipe Prabowo. Dia berani karena benar. Karena benar, buat apa mundur apalagi ketakutan!



Prabowo nekat shalat Jum'at menjadi klarifikasi valid. Banteng sekarat! Serangan santun, massif, terukur dimulai dari ujung Barat Jawa Tengah. Sandi yang bertugas. Dari Brebes, ke Tegal, dan berakhir di Pekalongan.

Di 3 kota itu, Sandi obrak-abrik Kandang Banteng. Sebagiannya mabo minuman karena dibayar. Lalu joget-joget di tengah jalan. Bikin ulah. Macet. Masyarakat resah.




Usai Sandi, Prabowo langsung terbang menuju Jawa Tengah bagian Selatan. Purbalingga, Banjarnegara. Masyarakat menyambut mesra #PrabowoMenyapaJateng. Prabowo dipanggul, melewati ribuan massa, goyang wayang, dua jari. Masyarakat happy, kubu sebelah kejang-kejang. Pingsan. 



Prabowo kemudian menuju Ibu Kota Jawa Tengah. Pusat pertahanan. Pusat kekuasaan. Langsung menuju pusat kendali. Shock therapy ke Bos Banteng. 




Sejak sehari sebelumnya, Prabowo sudah dibela. Dan hari ini, Jum'at (15/2/19), Banteng benar-benar sekarat.


Prabowo duduk di kursi depan mobil warna hitam. Tepat di sebelah sopir. Prabowo kenakan pakaian sunnah, warna putih. Pecinya mirip Bung Karno, hitam gelap. Dia berjalan gagah. Namanya saja jenderal. Biasa naik kuda. Jangan samakan dengan yang cuma naik kuda-kudaan dan baca komik.




Saking padatnya masyarakat yang menyambut, wajah sopir sampai bingung. Jika digas, bahaya. Jika terus berhenti, masyarakat kian ramai.



Di sepanjang jalan menuju masjid Kauman, Semarang, masyarakat mengelu-elukan Prabowo. Sebagiannya berteriak kencang. Bersemangat.




"Prabowo... Prabowo..." kata rakyat.




"Wes wayahe, Pak. (Sudah waktunya jadi Presiden)." sahut warga yang lain.




"Bukan rekayasa. Bukan rekayasa." tegas masyarakat lainnya. 



Saat memasuki pelataran masjid, rakyat menyambut dengan antusias. Yang duduk, berdiri. Yang di dalam ruangan, keluar untuh melihat. Semua hentikan aktivitas. Menyambut sang Jenderal.




Memasuki masjid, ummat Islam yang toleran berdiri, memberi jalan. Prabowo mau saja duduk di belakang. Tapi tak baik pula menolak tawaran.


Mata jamaah di dalam masjid bicara. Jelas. Jabat tangan dan bahasa tubuh mereka juga terang. Terkonfirmasi.




"Semoga sukses, Pak." ucap seorang jamaah berhidung mancung, tatapan matanya tajam.





Kemudian saat Prabowo keluar masjid, jamaah dan pewarta seperti enggan ditinggalkan. Prabowo berjalan santai, meninggalkan masjid untuk menjalankan kegiatan selanjutnya.




Dan antusiasme masyarakat itu disempurnakan dengan pemandangan masyarakat di pinggir jalan yang tengah berteduh karena hujan. Saat mobil yang ditunggangi Prabowo melambat, masyarakat yang bosan dengan janji ekonomi meroket padahal dollar tak kuasa turun itu mengacungkan jempol dan jari telunjuknya secara bersamaan.


Eh, sebentar. Ini belum berakhir. Masih ada Pidato Kebangsaan soal Kiat Wujudkan Swasembada Pangan, Air, dan Energi. Tapi bukan dari laki-laki yang janjikan swasembada dalam waktu 2-3 tahun tapi faktanya banjir impor hingga karirnya jelang tamat.

Pirman
Pecinta Keluarga Sejati


Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:


Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search