Rumah konsep pesanstren

Banteng Gak Mempan, Santri Tulus Pun Dijadikan Senjata!

- Maret 02, 2019


Para pemangku kekuasaan dan pihak-pihak yang bernafsu mengeruk kekayaan bangsa kian kehabisan akal. Berbagai cara penjegalan dilakukan. Tetapi tak ada satu pun yang efektif.




Lagi pula suka ngeyel kalau dikasih tahu. Satu tak akan pernah efektif. Negeri ini terlalu besar jika hanya diurusi oleh satu orang, satu organisasi, atau satu partai.

Semakin mereka menjegal, Sandi semakin licin. Betul-betul di luar prediksi. Benar-benar tak masuk akal. 

Sandi yang awalnya diremehkan dan sama sekali tak diperhitungkan, kini telah menjelma menjadi sosok menakutkan bagi Genderuwo.

Tahu kan? Genderuwo itu sejenis dedemit. Ia hanya takut pada sekelompok orang shalih dan malaikat.

Maka aneka jegalan Banteng tak ada hasilnya. Mulai dari Pekalongan, Tulungagung, Bojonegoro, Tabanan Bali. Semuanya tak efektif. Mentah semua. Gagal total padahal niatnya perang total.




Saking panik, bingung, dan kehabisan cara, santri yang tulus pun dijadikan alat untuk menolak dan menghadang Sandi, Pria Kalem dan Santun. 

Mereka mengatasnamakan pesantren. Menggunakan kuasa. Memakai stempel dan tanda tangan. Dengan pongahnya mereka menulis: Menolak Sandiaga karena berpotensi menimbulkan kerawanan sosial.

Astaghfirullah. Pesantren kok gini sih? Mana ada santri yang menolak lelaki santun dan shaleh seperti Sandi?

Gini loh. Dahulu, para pendiri Nahdhatul Ulama itu membuka hutan untuk membangun pesantren. Mereka terbiasa dengan berdakwah kepada pemabuk, tukang zina, dan kaum berandalan lainnya.

Orang-orang yang belum mendapatkan hidayah itu didakwahi. Dakwah yang santun hingga akhirnya mereka bertaubat bahkan sebagian menjadi abdi bagi Kiyai. 

Itu logika, cara pikir, cara pandang, dan cara hidup santri NU. Semua dirangkul. Bahkan orang gila ditampung untuk diobati, bukan untuk disuruh nyoblos!




Terus, ini pesantren dengan pongah menolak Sandi? Menimbulkan kerawanan? 

Tunjukkan kepada publik dua contoh kunjungan Sandi yang berujung kerawanan? Tak ada! Yang ada, penyebab kerawanan, penolakan, dan anarkisme adalah satu!

Tetapi bukan Sandi kalau buntu. Bukan Sandi kalau tak mendapatkan inspirasi. Bukan Sandi kalau terprovokasi lalu marah dan menyerang seperti kelakuan lelaki berkemeja putih saat debat kedua.

Sandi, atas pertolongan Allah, terus bergerak hingga diterima di Pondok Pesantren Nurul Huda, Munjul, Cirebon. Masya Allah. Sambutan para santri benar-benar menakjubkan.

Sandi dielu-elukan. Disebut-sebut namanya. Diiringi dengan takbir, shalawat dan kalimat Thayyibah lainnya. Sandi kalem. Ia mengatur jeda. Kemudian keluar dan berdiri di pintu mobil sebelah kiri.

Sandi berdiri. Dua tangannya dibentangkan ke atas. Dua jarinya diacungkan. Berputar ke kanan-kiri, depan-belakang. Hati-hati agar tidak dicakar fans seperti menimpa Jaenudin di Kendari.

Dari arah yang jauh, santri-santri putri sibuk memfungsikan ponsel, merekam kejadian menakjubkan itu. Terus dihiasi kalimat Allahu Akbar dan lantunan shalawat.

Beginilah santri. Ia pandai menghormati tamu. Apalagi tamu yang akan menjadi wakil raja, eh Wakil Presiden.

Pirman
Pecinta Keluarga Sejati


Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:

Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search