Jutaan Rakyat Bogor Hadiri Kampanye 02, TGB dan RK Gagal Total?

- Maret 30, 2019

Kawan saya yang rumahnya di dekat Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor mengatakan, "Rumah dekat stadion. Jalanan macet sekali." Dalam video-video yang beredar, rakyat tumpah ruah di sepanjang ruas menuju stadion.

Mulanya, Fadli Zon menyebut jumlah masyarakat yang hadir ratusan ribu. Setelah melihat foto dari atas, Fadli meralat dan menyebut angka hadirim sekitar satu juta.


Tak lama setelah itu, gambar-gambar acara rapat akbar di Pakansari bermunculan. Massif di facebook, twitter, instagram.

Rakyat tumpah tuah. Berasal dari semua penjuru. Tua-muda, laki-laki-perempuan, kakek-nenek, pegawai-pengusaha, semuanya hadir dengan gembira.



Rakyat pun menunggu, mendampingi  mengantarkan Prabowo dengan antusias ke atas panggung. Saat mobil tak bisa menembus kerumunan rakyat, Prabowo sigap keluar dari mobil.

Prabowo langsung dibopong di pundak rakyat. Diantarkan perlahan ke atas panggung. Hati-hati tapi semarak.



Ada suara teriakan merdeka. Ada penyebutan "Prabowo Presiden" berulangkali. Ada juga yang memekikkan takbir.

Saat rakyat kompak menyenandungkang Thala-al Badru 'Alaina Min Tsaniyyatil Wada' bulu kuduk seketika berdiri. Terbayang jelas, shalawat itu kerap disenandungkan untuk menyambut kehadiran imam adil yang dijanjikan dan dicintai.



Sampai di atas panggung, Prabowo menerima michrophone dengan santai. Baginya, senyum dan jabat tangan rakyat adalah energi.

Prabowo tampil apa adanya. Ceplas ceplos. Bebas. Tanpa mengintimidasi, tapi merangkul semua, kecuali para penjahat bangsa dan pembohong.



"Satu musuh teramat banyak, seribu kawan terasa kurang." katanya bertenaga, disambut sorak sorai rakyat Bogor.

Tak ketinggalan, dia mengingatkan para pemimpin daerah dari tingkat wali kota sampai Gubernur yang berubah menjadi sombong padahal dahulu didukung oleh Prbowo.



"Baru jadi Walikota, Bupati, sudah lupa sama gue. Ngelarang gue ngadain acara. Padahal, dulu gue yang dukung." kata Prabowo.

Dia menegaskan, sindiran itu bersifat umum karena tidak menyebut nama. Apalagi kebiasaan bangsa Indonesia adalah mengenang jasa para pendahulu dan membelas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik.



Meski pidato berlangsung lama dan rakyat amat berdesakan, tak ada yang beranjak. Rakyat mendengarkan dengan antusias, selayak ada burung di atas kepalanya. Tak bergerak. Asyik menyimak.

Begitulah pemimpin yang dicinta karena berkelas. Kata dan kalimatnya bertenaga. Aura semangatnya bukan pencitraan, bisa dirasakan oleh siapa saja yang tulus hatinya.



Omong-omong, dari ramainya 2 lokasi kampanye Prabowo di Karawang dan Bogor, Jawa Barat ada sosok-sosok yang sepertinya terpukul.

Apalagi mereka diberi tugas khusus untuk berkampanye di wilayah itu dengan berbagai kekuasaan dan gelar yang diberikan.



Siapa mereka? Satu, sang Gubernur. Dua, Tuan Guru. Dua sosok ini diberi tugas khusus untuk memenangkan lawan Prabowo di Jawa Barat.

Tapi kalau rakyat di Karawang dan Bogor semeriah ini, bolehkah kita sebut dua orang ini gagal?

Keputusan ada di tangan rakyat. Nanti 17 April 2019.

Pirman
Pecinta Keluarga Sejati.
Advertisement

2 komentar

avatar

Yes saja buatku semangat saja untuk memenangkanya No urut 2

avatar

Kalah menang 01, kamu mau bilang apa terserah, kalo benci sudah mendarah daging ya seperti itu, apapun yg dilakukan pesaingnya selalu pencitraan.........sak karepmu bro.......


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search