Kematian yang Dirindukan

- Maret 17, 2019


Pernakah anda mendengar tangisan Khalid Radiyallahu anhu. Panglima penakluk, pembebas negeri dari kekafiran. Di akhir kisah jihadnya beliau menangis. Kenapa?




Karena beliau harus terbaring lemah di ujung umurnya. Terisak sambil menunggu datangnya tamu agung mengetuk pintu. Tamu yang akan menjemput Beliau menemui Rabb-Nya.

Beliau mungkin iri dengan budak habasyi yang mengucap syahadat saat panggilan perang Tabuk dikumandangkan Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam. Budak tersebut langsung menyambut panggilan itu dan syahid pada perang pertama.

Atau iri terhadap tombak majusi yang menembus punggung Umar Radiyallahu Anhu pada subuh terakhir. Begitupun dengan tetes darah Usman Radiyallahu anhu di tepian mushaf pada bacaan ayat terakhir beliau. Begitupun dengan Ali Radiyallahu Anhu, yang dijemput dengan wasilah tebasan pedang khawarij di.
 waktu subuh.

Begitulah setiap kita yang mewakafkan jiwa dan raga demi tegaknya kalimat Allah merindukan kematian yang indah. Syahid yang menyejukan yang meringankan diri ini dari beban hisab di padang mahsyar. Janji janji Allah bagi penempuh jalan kesyahidan begitu indah, begitu melangutkan, begitu dirindukan.

Maka sangatlah wajar bila ada murid Al-Buthi, menangisi dirinya yang tidak menghadiri majlis terakhir sang Ulama. Bukannya bersyukur karena selamat dari insiden bom, namun sang murid karena kecintaannya pada ilmu, pada Sang Guru, bersedih seandainya saja dia mendapat syahid bersama sang Guru. Tentu hal tersebut merupakan rahmat yang luar biasa.




Begitupun dengan Saudara kami yang menjemput Syahid di masjid An-Nur New Zealand. Mereka pastinya orang orang yang menempuh jalan tobat sehingga mendapatkan hadiah terindah tersebut. Apalagi dengan Saudaraku yang kalimat terakhirnya "Hello brother", sungguh bersih hatimu dari prasangka. Meski moncong senjata masih di depan mata tapi ringan lisanmu untuk mengucap salam persaudaraan. Belum lagi Saudara sebangsa yang mengajak Sang Anak dalam jumat terakhirnya. Insya allah, Sang Anak akan bangga dengan kematanmu, dan dia akan membanggakanmu selalu.

Wahai Saudaraku yang tertembus peluru di masjid jumat itu. Kabarkanlah kepada Kami, amal apa yang kalian lakukan. Kematian itu begitu dirindukan. Yang menjemputnya, pastilah orang orang yang istimewa. Tolonglah, kabarkanlah. [Asih W]


Tarbawia
Bijak Bermedia, Hati Bahagia

Bergabung Untuk Dapatkan Berita/Artikel Terbaru:

Info Donasi/Iklan:

081391871737 (Telegram)



Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search