Sapa Korban Ricuh, Prabowo Sampaikan Pidato dengan Suara Bergetar

- Mei 23, 2019

Pada tengah malam menjelang pergantian hari, Rabu (22/5/19) Prabowo Subianto turun langsung memastikan kondisi rakyat yang menjadi korban kekerasan dan tembakan gas air mata.

Prabowo juga menyampaikan pidato dengan suara bergetar. Sayang beribu sayang, pidato Prabowo di Rumah Perjuangan ini tidak diliput satu pun media atau televisi.

Terimakasih atas semangat juang saudara-saudara. Terimakasih atas kesetiaan saudara-saudara.

Saya ingin tegaskan di sini bahwa saya dengan kawan-kawan, dengan rekan-rekan, dengan tokoh-tokoh nasional berjuang jangan untuk suatu jabatan.

Saya tidak berjuang untuk saya mau jadi Presiden atau tidak jadi Presiden. Saya maju sebagai calon Presiden adalah berjuang untuk membela kepentingan rakyat Indonesia dan saya akan terus berjuang untuk rakyat Indonesia.

Kalau saudara masih percaya sama saya, kalau saudara mendukung saya, saya mohon saudara-saudara benar-benar percaya sama saya.

Bagaimana istilah di Pesantren? (Hadirin menjawab) Sami'na wa atho'na.

Satu yang saya minta, perjuangan kita damai. Damai. Kita harus hindari kekerasan. Perjuangan kita adalah perjuangan yang taat hukum.

Kita tidak boleh membalas dengan kekerasan. Ini tidak ringan. Ini sangat berat. Saya mengerti.

Kita melihat kawan kita ada yang diperlakukan dengan tidak manusiawi, tapi kita harus menahan emosi, kita harus menahan amarah.

Kita berjuang dengan akal, semangat kita terkendali, terutama adalah persatuan kita. Sendiri-sendiri kita lemah, tapi sebagai kekuatan kita kuat. Asal kita tidak terpancing.

Pihak-pihak tertentu selalu ingin melontarkan fitnah bahwa kita radikal ini, radikal itu. Kita buktikan bahwa Islam kita adalah Islam damai. Islam rahmatan lil 'alamin.

Kita tidak boleh membenci. Ada kawan-kawan Nasrani, Budha, keturunan Tionghoa yang berjuang bersama-sama kita. Kita tidak boleh didorong oleh kebencian.

Percaya pada senior-seniormu, pemimpin-pemimpinmu di mana-mana. Sampaikan ini terus menerus dari mulut ke mulut kepada kawan-kawanmu; kita kuat, kita damai, kita tidak mau terpancing.

Kita harus mengerti. Perjuangan membela keadilan dan kebenaran memang tidak ringan. Mengusir penjajah tidak ringan.

Jadi jalan yang saya tentukan, kalau saudara masih percaya saya, jalan kita adalah jalan damai, jalan tanpa kekerasan. Ini sangat berat, tapi harus kita lakukan.

Mengerti? (Jawab masyaraka) Mengerti.
Masih percaya sama saya? (Jawab) Masih.

Saya orang yang dilatih untuk perang. Tapi saya tidak memilih jalan kekerasan. Karena kemenangan pasti diberikan kepada orang yang berada di jalan kebenaran.

Kita berada di jalan yang benar. Kita harus menang dengan moral yang tinggi. Kita mulia. Kita mulia. Kita tidak akan membalas.

Kau boleh menzhalimi, tapi kami kuat dan makin hari makin kuat.

Dalam perjuangan ada taktik, ada strategi. Kadang ke kiri, kadang ke kanan. Kadang kita harus mundur, tapi mundur tidak berarti menyerah. Kadang mundur satu langkah untuk maku dua langkah.

Sabar. Sabar. Sejuk. Yang manas-manasin, yang ngajak lempar batu bukan kalangan kita.

Saya tentukan, saya gariskan, kita jalan tanpa kekerasan karena di ujungnya yang benar selalu menang.

Terimakasih perjuanganmu. Terimakasih pengorbananmu. Terimakasih emak-emak, bapak-bapak, anak muda, para santri, mahasiswa, semuanya luar biasa.

Ingat; sabar, sejuk, damai, tidak pakai kekerasan. Itu pendekar. Bersatu terus. Bersatu kita kuat. Bersatu kita teguh.

Itu dari saya. Selamat malam. Selamat beribadah. Selamat sahur. Selalu sabar dan tenang.

Mereka yang memilih jalan mulia kadang-kadang jalannya penuh rintangan, batu, kerikil. Yang jalannya benar kadang-kadang butuh pengorbanan yang besar.

Saya pamit. Sampai jumpa kembali.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Merdeka. Merdeka. Merdeka.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search