Aceh Tolak Dakwah Tauhid dan Tolak Dakwah Sunnah?

- Juni 15, 2019



Ijinkan saya bercerita dahulu sekitar bulan Maret 2005, beberapa bulan setelah bencana besar di Aceh yaitu gempa dan tsunami. Sepulang dari aktivitas di kota Meulaboh, saya kembali ke base ops di desa Gampong Lhok Kabupaten Nagan Raya. Setiba di base ops, saya dikabari bahwa cucu Pak Keuchik meninggal dunia dan sudah dimandikan dan siap dimakamkan. Saat itu telah lewat waktu Isya. Kami segera menuju ke area pemakaman.

Saat memasuki pemakaman, kami harus berhati-hati berjalan dan tidak menggunakan alas kaki. Kenapa? Karena kuburan di Aceh tidak boleh ada gundukan atau rata dan tidak pula ada nisannya, hanya berupa tanda batu di bagian kepala saja. Mereka juga tidak melakukan penundaan pengurusan jenazah. Begitulah fiqih yang dipahami orang Aceh.

Tapi ada juga cerita lain. Saat kami hendak ke kota Medan ada kebiasaan para supir travel mampir ke sebuah tempat menjelang Blang Pidie lalu menyumbangkan sejumlah uang dan kemudian melanjutkan perjalanan. Saya tanya kepada supir travel, "Itu apa, Bang?" Jawabnya, "Ah gak apa-apa, Mas cuma kebiasaan saja nyumbang uang di makam bayi itu."

Lalu saya tanya lagi, "Ooo gitu bang."

Saya melanjutkan pertanyaan dan mengetahui bahwa supir travel tadi ternyata asli 100% keturunan orang Jawa.

Pada masa itu pula terjadilah perjanjian damai antara GAM dan RI yang memyepakati beberapa masalah. Saya tidak akan bahas soal perjanjian itu. Tapi saya cukup dekat dengan banyak tengku di setiap kampung di sekitaran Gampong Lhok hingga arah Ujong Fatehah. Nyaris semua tengku di sana menyatakan Aceh harus bisa menjalankan syariat Islam karena mulia atau hinanya Aceh karena syariat ini.

Narasi di atas baru sebagian cerita di pesisir Pantai Barat Aceh. Ada pula realita otoritatif ilmiah di dayah-dayah dan para tengku lulusan Al-Azhar di Pantai Timur. Mereka sudah sejak lama mengirimkan para thulab ke Jazirah Arab dan Mesir untuk menuntut ilmu syariat.

Jadi inilah bukti Aceh sudah memiliki otoritatif ilmiah dengan kelembagaan para ulama atau mereka menyebutnya dengan Tengku. Sebuah kepemimpinan syariat mendampingi para umara sampai level Keuchik di setiap kampung.

Jadi tentunya melakukan tarbiyah atau dakwah ke Aceh tidaklah bisa disamakan dengan dakwahnya Rasulullah di Mekkah di awal Islam yaitu dakwah kepada para musryikin yang jahil terhadap syariat.

Penolakan terhadap sebuah pemikiran atau kajian mungkin lebih tepat penolakan kepada dakwah sebuah madzhab fiqh bukan kepada tauhid atau sunnah. Malu rasanya kita menyatakan Aceh menolak tauhid atau sunnah melihat sejarah mereka yang penuh dengan air mata dan darah mempertahankan kehormatan agama dan diri mereka. Saat ramai-ramai di Jawa bermesra dengan pancasila, maka atas nama pancasila dan NKRI mereka ditumpahkan darahnya.

Mereka juga tidak menolak tauhidullah bila yang dimaksud adalah menolak kaidah tauhid usul tsalatsah karena mereka memahami tauhid dengan metodologi asy'ary maturidy. Kecuali kita keluarkan pemahaman itu dari paham ahlu sunnah. Tapi pemahaman ini dipahami mayoritas ummat Islam di dunia saat ini. Jadi bila kalian sesatkan Aceh karena madzhab tauhidnya berbeda dengan antum lalu bagaimana dengan mayoritas kaum muslimin lainnya.

Saya sesalkan sikap kasar penolakan terhadap kajian seorang ustadz ternama di sana. Tapi dakwah bukan hanya beliau yang ditolak. Ustadz Felix ditolak di Yogya yang padahal begitu banyak penggemar bahkan orang yang fanatik terhadap beliau disana. Bahkan ustadz Abdul Somad saja sempat ditolak. Tapi tidak serta merta mereka menyatakan yang menolak sebagai orang yang menolak tauhid dan sunnah.

Kita tolak kebodohan tapi jangan sampai kita lakukan kebodohan yang sama. Bila mereka melakukan kekerasan fisik terhadap seorang ustadz lalu jangan ramai-ramai kita lakukan kekerasan verbal dan narasi kepada rakyat Aceh secara umum.

Bila yang ditolak mereka adalah madzhab fiqh atau sebuah manhaj yang masih dalam ahlu sunnah, maka jangan kemudian memvonis seolah mereka keluar dari ahlu sunnah dan bahkan Islam.

Yuk berlaku inshaf. Kita cari akar masalahnya, tidak membabi buta memvonis elemen lain dari sesama ahlu sunnah. Wallahu a'lam. [Ustadz Budhi Setiawan ST]
Advertisement

1 komentar:

avatar

Dakwah yg di tolak sesama muslim itu indikasi bahwa yg di sampaikan itu membahayakan persatuan dan ukhuwah islamiah..jangan salahkan yg menolak tapi introspeksi diri aja apakah isi dakwahnya menyakiti hati sesama muslim yg berbeda pandangan atau tdk,jangan cuma bungkusnya tauhid isinya wahabi murni salah saty sekte menyimpang dalam islam ahlussunnah


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search