Mengapa Angka 17 Dipilih sebagai Hari Proklamasi Kemerdekaan?

- Agustus 17, 2019



MENGAPA ANGKA 17 DIPILIH SEBAGAI HARI PROKLAMASI KEMERDEKAAN?

*Ust. Miftah el-Banjary

Mengenai hal ihwal dipilihnya angka 17 untuk menjadi momentum Proklamasi Kemerdekaan sudah menjadi pilihan tepat. Angka 17 memang waktu yang tepat untuk Indonesia menyatakan kemerdekaannya. 

Pemilihan angka 17 bukan ujug-ujug kebetulan saja, tapi memang berdasarkan pertimbangan dan perhitungan ideologis dan filosofis.

Dari segi ideologis pemilihan angka 17 tidak bisa dipisahkan dari ideologi para Founding Father bangsa ini; salah satunya Soekarno yang sangat religius dan fanatik terhadap ajaran Islam.

Ini terlihat dari dialog antara Soekarno dengan Sukarni di Saigon guna mempercepat kemerdekaan, seperti yang dimuat Partai Demokrasi Pembaruan.

Sukarni mendesak Soekarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan di saat sekutu membombardir Hiroshima dan Nagasaki.

“Mengapa Anda justru memilih tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, tanggal 16?!!" desak Sukarni pada Soekarno. 

Apa jawaban Soekarno? 

"Aku seorang yang percaya pada mistis. Aku tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi, aku merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci.

Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci.

Kedua, Al-Qur'an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia. Soal spritualitas dalam angka 17 yang terdiri dari 1 dan 7," demikian kata bung Karno mengemukakan alasannya ketika itu.

Dan benar ketika kita menelisik pada ajaran Islam pun ternyata tidak dapat dipisahkan dari keterkaitan dengan angka 17 tersebut. Umat Islam sangat akrab dengan angka 17 itu.

Sangat erat kaitannya bilangan angka 17 dalam kehidupan ritual ibadah kaum muslimin. Bukankah?

¤ Ada bilangan angka 17 raka'at dalam shalat lima waktu menjadi kebutuhan bagi seorang muslim; 

¤ Ada bilangan angka 17 Ramadhan adalah masa yang sangat monemental menandai terjadinya revolusi peradaban dunia ketika diturunkannya al-Quran di kota Makkah. 

¤ Ada bilangan angka 17 juga sangat mulia pada bulan Ramadhan, karena kewajiban Shaum/berpuasa yang ditetapkan tahun 2 Hijriah (17 Maret 624 M) 

¤ Pun ketika terjadinya perang Badr; peperangan pertama kali yang Allah menangkan terhadap jumlah kaum muslimin yang sangat sedikit dibandingkan jumlah kekuatan musuh pun kisahnya terdapat pada surah ke-17 dari surah al-Anfaal dan ayat ke 45. 

Demikian pula hal ihwal angka 17 bagi ilmu matematika pun adalah bilangan prima (2, 3, 5, 7, 11, 13, 17). Tentunya, bilangan prima tidak bisa dibagi dengan bilangan berapapun, kecuali bilangan 1 dengan bilangan itu sendiri. 

Jadi semangat dan jiwa yang melandasi perjuangan dan kemerdekaan bangsa ini tidak terlepas dari roh ke-Islaman dan semangat spritualitas kecintaan terhadap Tanah Air yang sangat menggelora.

Maka, satu hal yang tidak boleh kita lupakan sebagai anak bangsa tentang sebuah kesadaran bahwa bangsa ini tidak dapat dibangun, melainkan atas peran perjuangan, doa, pengorbanan dari para ulama.

Teriakan takbir berapi-api dari bung Tomo, Pangeran Diponegoro, Pangeran Antasari, Jenderal Sudirman, dan para pahlawan kemerdekaan lainnya menjadi kekuatan yang mampu menggoncang meluluhlantakan kekuatan musuh.

Pekikan takbir itulah yang membakar semangat jihad perang anak bangsa bersatu melawan tirani kolonialisme hingga kolonial Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, Jepang pun menyatakan ketidakberdayaannya menguasai dan menjajah bumi pertiwi ini. Karena kita bangsa beriman dan bermartabat.

Merdeka! Allahu Akbar!
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search