Belajar Makna Toleransi Beragama pada Khalifah Umar bin Khattab

- September 21, 2019


Belajar Makna Toleransi Beragama pada Khalifah Umar bin Khattab

Oleh: TG. DR. Miftah el-Banjary

Ketika Khalifah Umar bin Khattab berhasil menaklukkan Yerussalem pada tahun 637 M, setelah pemuka agama Kristen Ortodoks; Uskup Sophorius menyerahkan kunci Yerussalam kepada sang Khalifah, tiba waktu shalat dan beliau ingin shalat.

Akhirnya, Uskup Sophorius menawarkan Umar bin Khattab untuk shalat di dalam gereja. Tapi beliau lebih memilih shalat di halamannya. Umar bin Khattab menolak shalat di dalam gereja. 

Persoalannya penolakan tersebut bukan berdasarkan pertimbangan perdebatan Fiqhiyyah, boleh tidaknya atau makruh tidaknya shalat di dalam gereja, tapi soal toleransi. Ini adalah sikap toleransi sesungguhnya yang ditunjukkan oleh sang Khalifah Amirul Mu'minin.

Umar bin Khattab mengatakan, "Jika saya shalat di dalam gereja, nanti saya khawatir tindakan saya akan menjadi ikutan dan pedoman orang-orang setelah saya, dan kaum muslimin akan merebut gereja tuan untuk dijadikan masjid".

Nah, apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khattab adalah bentuk toleransi sesungguhnya. Bahwa toleransi sejatinya tidak mencampuradukkan antara satu kepercayaan dan keyakinan dengan keyakinan ideologi keagamaan yang berbeda-beda. 

Dalam konteks saling menghargai dan menghormati dalam batasan etika sosial itu wajar, tapi bila sudah masuk ke dalam ranah ideologi dan tradisi keagamaan itu sudah tidak wajar. 

Ikut merayakan perayaan atau ibadah dalam nuansa religius dalam perbedaan keyakinan akidah sudah menyimpang dari koridor yang telah digariskan Islam itu sendiri.

Heran saja, ada orang yang melandaskan pada sikap toleransi, ikut berdoa dan berbuka bersama di gereja dan di tempat ibadah lainnya. Datang ke satu wihara untuk bersahur bersama, sembari berbicara pentingnya pluralisme agama.

Apalagi ada yang scene dalam adegan film Santri yang mendeskripsikan kehidupan santri dengan perilaku yang janggal dan "menyimpang" dari realitas umumnya, dimana seorang santriwati-muslimah masuk ke dalam gereja, lalu sembari membawakan sebuah tumpeng dalam satu kegiatan kebaktian di gereja, ini jelas sebuah penyimpangan dan pendiskreditan atas nama Islam dan "santri" itu sendiri.

Itu bukan toleransi namanya, itu menjajakan marwah Islam dengan harga yang murah kepada pemeluk keyakinan yang lain. Ini bentuk merendahkan kewibawaan nilai-nilai toleransi Islam yang sesungguhnya. 

Harus ada pembeda yang jelas mana pesan-pesan toleransi dan mana propaganda pluralisme yang mengajak pada kesamaan agama atau semua agama itu sama.

Sebab, dalam ranah akidah, sekali lagi, batasannya sudah sangat jelas garis pembedanya. "Laakum diinukum waliyaddin".

Namun, sayangnya mereka yang sering koar-koar berbicara tentang konsep persatuan agama dan Islam "rahmatan lil 'alamien" jarang mau benar-benar memahami dan meneladani sejarah para sahabat dan ulama-ulama salafus-shalehin yang lurus, justru mereka memiliki persepsi sendiri sesuai yang mereka kehendaki.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search