Meremehkan Musibah Asap Riau

- September 22, 2019




Meremehkan Musibah Asap Riau

Saya sudah 5 hari di Riau, mata perih sampai iritasi, nafas sesak, dan leher pedas.  Saya berdakwah keliling beberapa Kabupaten; Kuansing, Kampar, Rokan Hulu, dan terakhir kota Pekanbaru. Luar biasa mushibah kebakaran hutan dan asap tahun 2019 ini.

Hati saya sedih melihat kampung halaman ibunda dan kakek nenek saya ini sedemikian adzabnya. Benar benar geram rasa  hati ini. Betapa tidak... Pada tahun 2015 lalu, Menteri Kehutanan mengatakan ada 17 Perusahaan Perkebunan yang tertangkap dengan sengaja telah membakar hutan dan lahan. Tapi dengan enteng saat itu, ibu Menteri  Kehutanan mengatakan bahwa nama nama 17 Perusahaan jahat pembakar hutan itu tidak akan diumumkan. Cukup diberi sanksi atas mereka, dan tidak akan terulang lagi kasus pembakaran hutan dan lahan.

Kenyataannya, walau saat kampanye Presiden salah satu kandidat mengatakan tidak ada kebakaran hutan selama tiga tahun kekuasaannya, ternyata omong kosong belaka. Ternyata tidak ada-apa itu yang namanya jera. Perusahaan dan oknum jahat tetap saja membakar hutan. Malah tahun 2019 ini keadaannya jauh lebih parah dari pada tahun 2015.

Sialnya, ada seorang oknum pejabat tinggi di negara ini yang mengatakan bahwa mushibah asal di Riau tidak sehebat yang diberitakan. Luar biasa mulut oknum ini... Semoga Allah yang menghakiminya.

Saat ini saya memutuskan untuk tidak lagi percaya kepada janji-janji dusta. Kami akan berdoa dan menyerahkan masalah ini kepada Allah. Biar Allah yang akan menurunkan adzab yang sangat pedih pada pembakar hutan dan lahan, serta mereka yang melindungi makhluk makhluk jahat pembakar hutan itu. Tidak ada cara lain lagi nampaknya untuk membuat mereka jera.

Jakarta, 20 September, 2019
Tengku Zulkarnain
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search