Wartawan Senior Ungkap Satu-Satunya Musuh Habibie

- September 12, 2019


Belajar dari Sejarah

Pak Habibie itu sangat stylish. Dalam suatu kesempatan, beliau sebagai Menristek mengundang media di kantornya di Thamrin. Kami menunggu kehadiran beliau dan kedatangannya sungguh 'nggaya', istilah saya yang masih reporter waktu itu. Dia datang dari atap gedung. Ya, naik helikopter. Kacamata hitam. Dan langsung bicara meledak-ledak. Bangga melihatnya.

Sebagai orang media, bagi saya jasa terbesar dia adalah soal kebebasan pers. Tak ada lagi namanya SIUPP. Orang boleh bikin media apa saja. Urusannya kalau salah ada di pengadilan, bukan di pasukan antiteroris. 

Sebagai penanggung jawab ekonomi bangsa, tangan dinginnya menjinakkan dolar AS yang sempat melambung ke angka Rp 16.800 per 1 dolarnya di Juni 1998  menjadi Rp 6.550 di bulan Juni 1999. Habibie tak pernah menjanjikannya, dia hanya kerja, kerja, kerja. Tak pernah ribut soal ekonomi meroket, padahal dia lebih paham soal roket.

Di masanya, Timor Timur dilepas menjadi negara sendiri. Di sini Habibie dihajar setengah mati, padahal yang kuat bermain bukanlah dia melainkan tangan-tangan asing. Ia pragmatis juga, tak mau melanjutkan ongkos mahal pembangunan di sana.

Beliau pula yang langsung setuju Pemilu dipercepat. Yang pertama kali bebas pasca 30 tahun Pemilu 'simbolik'. Habibie yang datang ke DPR-RI berkonsultasi, padahal sebelumnya pimpinan DPR lah yang sowan ke Presiden kalau ada konsultasi.

Musuh beliau cuma satu. Cukong-cukong dan pelaku politik serakah, yang tak rela prestasi dalam waktu sesingkat itu jadi bekal Habibie buat maju sebagai presiden RI berikutnya pasca Pemilu 1999. Sejarah mencatat, ratusan anggota MPR menyoraki beliau dengan teriakan "huuuuuu" saat ia memasuki ruang Sidang Istimewa MPR 1999, 14 Oktober. Banyak yang berusaha mengganggu dan menginterupsinya tanpa santun saat berpidato membacakan pertanggungjawaban. Dan klimaksnya, 355 orang memberikan suara menolak pertanggungjawaban Habibie, sementara 322 menerimanya, 9 abstain, 4 suara tidak sah. Habibie tidak jatuh dari kursi presiden tetapi dengan ikhlas tak jadi maju ke pencalonan sebagai presiden berikutnya. 

Siapa yang 355 orang itu? Mereka-mereka sebagian masih bercokol di politik Indonesia. Faksinya kerap terjaring kasus korupsi. Benar kata Bung Karno, JAS MERAH. Jangan sampai melupakan sejarah. []
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search