Presiden Pintar dan Presiden Tidak Pintar

- September 12, 2019


Saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Tapi pernah merasakan langsung kebijakannya saat menjabat jadi presiden. Luar biasa! IQ-nya yang di atas rata-rata orang pintar terbukti bisa membantu memperbaiki negeri ini saat porak poranda terkena krisis moneter.

Inflasi turun cukup signifikan. Pertumbuhan ekonomi meningkat cukup baik dari minus kembali ke plus. Kurs dolar menurun tajam dari enam belas ribuan hingga di bawah sepuluh ribu. Tanpa mengeluh, tanpa pencitraan, tanpa mengkambinghitamkan pemerintahan sebelumnya.

Sempat dikritik sinis sama pengamat ekonomi yang sekarang jadi pejabat tinggi dan memperoleh gelar nganu terbaik dunia. Beliau tetap tegar, bekerja keras tanpa gaduh. Tak mengemis utang pada lembaga keuangan dunia. Sebaliknya dengan sang pengkritik 

Pada pemerintahan beliau demokrasi yang sesungguhnya berjalan cukup baik. Tahanan politik dibebaskan. Perbedaan pendapat bukan ancaman. Apalagi penangkapan. Surat kabar dan berbagai media dipermudah. Disederhanakan ijin-ijinnya. Lebih bebas bersuara. 

Umat muslim juga semakin mendapat tempat. ICMI makin berkibar, bank syariah mulai terbentuk, media Islam terbit, dan seterusnya. Membuat kaum liberal, atheis dan antek-antek syetan kelabakan. Hingga akhirnya pemerintahan beliau berakhir, ditolak pertanggungjawabannya. Sungguh ironis. 

Pemimpin yang cukup berhasil dalam waktu relatif singkat tersingkir dari pentas politik negeri ini. Jasa beliau sangat besar dan banyak. Terutama dalam bidang teknologi. Tak cukup saya menuliskannya di sini.

Untuk presiden yang tidak pintar, saya tak bisa cerita banyak. Karena ini relatif bagi masing-masing individu. Tidak pintar menurut saya belum tentu menurut Anda. Tak mungkin sama. Changan Anda paksa saya untuk menulis di sini. 

***

Innalilahi wainailaihi rojiun
Selamat jalan Bapak BJ Habibie
Semoga Allah memberi tempat yang terbaik. [Teguh Suprayogi]
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search